DATAstudi Information

Home » Agama » Menggagas Kepemimpinan Perempuan dalam Urusan Politik

Menggagas Kepemimpinan Perempuan dalam Urusan Politik

Oleh: Drs. Sulaemang L

Allah SWT menciptakan alam semesta ini berpasang-pasangan, di antaranya adalah pasangan laki-laki dan perempuan. Pasangan ini diberikan tugas dan tanggung jawab yang sama dalam menjalani kehidupan. Tugas dan tanggung jawab ini dilakukan dengan cara kemitraan, dalam arti saling membutuhkan atau bersimbiosis mutualisme. Hal inilah kemudian menjadi salah satu tema sekaligus sebagai prinsip pokok dalam ajaran Islam. Prinsip pokok tersebut berimplementasi dalam beberapa konteks ayat dalam Alquran dan hadis Rasulullah saw yang telah menegaskan secara transparansi mengenai persamaan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam menjalankan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya dengan mendapatkan konsekuensi pahala yang sama.

Agama Islam menjamin persamaan hak-hak dan memberikan perhatian serta kedudukan terhormat kepada mereka, yang hal ini tidak pernah dilakukan oleh agama atau syari’at sebelumnya. Bahkan ajaran tersebut telah mendahului peradaban Barat 14 abad yang lalu. Jika sekarang ini dalam masyarakat Islam terjadi perlakuan yang tidak wajar terhadap perempuan, maka hal ini bukan disebabkan oleh Islam, tetapi karena ajaran dan bimbingan Islam tidak diimplementasikan dalam tataran praktis, dan juga disebabkan adanya tradisi atau adat istiadat yang berkembang dalam masyarakat tersebut yang sangat jauh dari ruh Islam.

Untuk mengetahui gambaran kedudukan perempuan yang diajarkan Islam, ada baiknya disajikan terlebih dahulu posisi-posisi perempuan sebelum Islam. Namun sebelum penulis menjelaskan posisi tersebut, perlu digaris bawahi bahwa ada 2 (dua) faktor penting yang menyebabkan keterbatasan kedudukan perempuan pada periode terdahulu. Pertama, kaum perempuan dipersiapkan oleh alam untuk mencapai tujuan tertentu. Kedua, tuntutan kehidupan yang disebabkan oleh keadaan dan lingkungan yang sangat keras sehingga tidak memungkinkan bagi perempuan untuk berperan serta dalam proses kehidupan tersebut. Kedua faktor di atas memiliki pengaruh yang signifikan dalam meletakkan posisi sosial perempuan pada periode awal peradaban manusia.

Sebelum Islam, kaum laki-laki menempati posisi sentral dan istimewa dalam keluarga dan masyarakat. Mereka bertanggung jawab secara keseluruhan dalam persoalan kehidupan keluarga, sehingga kaum perempuan secara politik hanya mengekor kaum laki-laki. Oleh karenanya, masyarakat Arab tidak menyambut dengan gembira kelahiran perempuan. Sebab kondisi alamlah yang menyebabkan perempuan tidak dapat berperan pada kondisi kehidupan saat itu yang sangat keras. Fenomena yang muncul pada sebagian kabilah Arab adalah kaum laki-laki sangat berduka dengan kelahiran anak perempuan yang pada gilirannya mereka memutuskan apakah tetap bersedih atau melepaskan kepedihan itu dengan membunuh atau mengubur anak perempuan tersebut hidup-hidup? Alquran dalam banyak ayatnya menjelaskan gambaran tersebut.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa posisi perempuan pada masa pra Islam sebagai  berikut :

  1. Dari sisi kemanusiaan, perempuan tidak memiliki tempat terhormat di hadapan laki-laki karena tidak adanya pengakuan atau sikap laki-laki terhadap peran perempuan dalam mengatur masyarakat.
  2. Ketidaksetaraan antara anak laki-laki dan perempuan, suami dan istri dalam lingkungan keluarga.
  3. Mengesampingkan kepribadian atau kompetensi perempuan dalam memperoleh penghidupan, sehingga perempuan tidak memiliki hak dalam persoalan waris dan pemilikan harta.

 Jika digeneralisir, maka ada satu kesalahan politik, yaitu di kalangan laki-laki, mereka tidak menampakkan sikap “memanusiakan” perempuan, baik disebabkan oleh pengingkaran kemanusiaannya maupun karena anggapan kaum laki-laki bahwa peran perempuan tidak dapat diandalkan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, hadirnya Islam mengikis habis anggapan tersebut dan menempatkan kedudukan perempuan menjadi terhormat dalam kehidupan, dengan menjelaskan prinsip bagi eksistensi perempuan yang bersifat mendasar yang tercakup dalam karakteristik yang dimiliki perempuan yang bersifat jasmani dan rohani. Sebelum Islam datang, perempuan berada dalam keadaan hina dina, baik itu dalam teori maupun implementasinya, baik itu pada umat dan bangsa yang terdahulu maupun pada kaum jahiliah Arab.

Kehancuran bangsa-bangsa dan umat-umat terdahulu dalam lumpur pecah belah, kemusnahan dan ketakberdayaan, hanyalah karena fondasi dasar persatuannya dan elemen utama dalam membentuk masyarakatnya yang lemah, rusak, dan terabaikan, yaitu keluarga. Sementara yang menjadi pilar dalam keluarga adalah perempuan, meskipun suami dan anak-anak juga merupakan elemen dan pelengkap keluarga, tapi perempuan merupakan elemen pokoknya.

Oleh karena itu, Islam mengangkat derajat perempuan dari jurang kehinaan, menaikkannya dari kerendahan, mengembalikan kemanusiaan dan martabatnya, meletakkannya di altar yang sesuai, dan memberikan garis-garis istimewa sebagai batasan yang menggambarkan bangunan jati dirinya dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Dewasa ini agama mendapat ujian baru karena sering dituduh sebagai sumber masalah, berbagai bentuk pelanggengan ketidakadilan di masyarakat, termasuk ketidakadilan dalam pola relasi laki-laki dan perempuan atau yang sering disebut dengan ketidakadilan gender (gender incquality). Oleh karena agama berurusan dengan nilai-nilai yang paling hakiki dari hidup manusia, maka legitimasi religius yang keliru akan sangat berbahaya. Persoalannya, apakah pelanggengan ketidakadilan gender itu bersumber dari watak agama itu sendiri ataukah justru berasal dari pemahaman, penafsiran, dan pemikiran keagamaan, yang tidak mustahil dipengaruhi oleh tradisi dan kultur patriarki, ideologi kapitalisme, atau pengaruh kultur Timur Tengah abad pertengahan.

Pemerintah Indonesia melalui kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan memprediksikan sejumlah kendala yang dihadapi dalam upaya pemberdayaan perempuan. Kendala tersebut terdapat dalam hampir semua bidang dan aspek pembangunan pendidikan, kesehatan, keluarga berencana, ekonomi dan ketenagakerjaan, politik, hukum dan hak asasi manusia, kesejahteraan sosial, pertahanan dan keamanan, lingkungan hidup, kelembagaan pemerintah dan masyarakat, bahkan juga dalam bidang agama.

Khusus dalam bidang agama, masalah utama yang dihadapi: pertama, rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai agama yang berkaitan dengan peran dan fungsi perempuan; dan kedua, masih banyaknya penafsiran ajaran agama yang merugikan kedudukan dan peranan perempuan.

Selengkapnya, KLIK DISINI untuk download.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: