DATAstudi Information

Home » Administrasi » Warga Sulbar Mengungsi; Akankah Terjadi Tsunami?

Warga Sulbar Mengungsi; Akankah Terjadi Tsunami?

Semangatpagi.com (Senin, 26 April 2010) —– Kepala Badan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulbar mengharapkan kepada masyarakat agar turut berpartisipasi dalam mengurangi resiko bencana, katanya  kepada media ini di ruang kerjanya, beberapa pekan lalu.

Mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Sulbar ini mengakui, kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah Prov Sulbar ini baru terbentuk awal Desember 2009 berdasarkan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang penanggulangan bencana.

Sehingga dengan adanya UU ini muncullah peraturan pemerintah No. 21 tahun 2008  soal  penyelenggaraan penanggulangan bencana, maka dibentuklah kantor BPBD Provinsi Sulbar dengan peraturan Gubernur No. 8 tahun 2009.

Ia menambahkan, kondisi di Sulbar memang berpotensi adanya gempa Tsunami sehingga sangatlah diharapkan agar masyarakat berpartisipasi dalam mengurangi bencana. Seperti bencana alam dan bencana non alam. “Karena siapa sangka setiap saat bencana akan muncul,” ujarnya.

Ketika disinggung daerah mana saja yang rawan bencana di Sulbar, dengan tegas ia menjawab, daerah rawan bencana di Sulbar adalah daerah yang areanya dekat pinggir pantai, namun paling sering terjadi di daerah Majene. “Alhamdulillah, sekarang kami telah memiliki alat untuk mendeteksi secara dini, dimana terjadi gempa. Alat tersebut bernama “Ranet Deteksi Gempa” yang merupakan bantuan dari Badan Meteorologi & Geofisika ( BMG) Pusat,” terangnya

Apalagi sekarang telah memasuki musim hujan, bencana rawan terjadi. Sehingga untuk mengantisipasi, tentu mulai dari sekarang agar masyarakat dapat membersihkan got supaya jangan terjadi bencana banjir yang mengakibatkan resiko, baik korban material maupun jiwa. “Walau kita ketahui bersama sampai sekarang belum terjadi bencana dan semoga sampai akhir tahun kalau bisa jangan ada bencana,” katanya.

Selain itu, untuk mengantisipasi terjadinya gempa, pihak BPBD juga telah menyiapkan 40 orang satuan tugas pelaksana yang selalu saja stand by apabila terjadi bencana. Ke-40 orang relawan tersebut telah diberikan pelatihan awal bagaimana cara penanggulangan bencana.
Dan dalam waktu dekat pula, akan diadakan sosialisasi atau seminar analisis pengkajian resiko bencana. Hal ini semua merupakan upaya kita bagaimana mengantisipasi apabila terjadi bencana. Sementara ini, kantor BPBD telah memiliki kepala bidang sebanyak 3 orang, sekretaris, 1 orang dan 14 orang staf BPBD.

H Rusdi Syah, yang akrab dengan insan pers ini menambahkan, visi dan misi BPBD Sulbar adalah ketangguhan bagaimana dalam menghadapi bencana. Sedangkan misinya adalah membangun sistem penanggulangan bencana yang handal, menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu dan terkoordinasi.

Adapun jenis bencana, ungkap H Rusdi adalah gempa bumi, Tsunami, tanah longsor, gerakan tanah. Sedangkan hidro meteorology yakni, banjir, topan, banjir bandang, kekeringan. Biologi yakni, epidemic, penyakit tanaman dan hewan, Teknologi yakni, kecelekaan transportasi, kegagalan industri. Lingkungan yakni, kebakaran, kebakaran hutan, penggundulan hutan serta kisruh sosial.

Sementara itu, konsep dasar sistem peringatan dini Tsunami adanya perbedaan kecepatan rambat antara gelombang Tsunami dengan gelombang gempa  bumi.
Sedangkan, manajemen bencana yakni  manajemen resiko bencana lalu mitigasi, kesiap siagaan, manajemen kedaruratan, manajemen pemilihan, pra bencana , saat bencana, pasca bencana. Adapun unsur pengarah antara lain dinas sosial, dinas kesehatan, dinas PU, Polri, TNI, PMI, BMKG, tokoh masyarakat, dan LSM. (an/ir/ ADFMW25).  SUMBER: semangatpagi.com (diakses: 25 November 2010 Jam 16.51 waktu setempat —- Polewali). Sumber Gambar (Search Engine: google.co.id)

 

mediaindonesia.com memberitakan —– Ribuan warga Majene dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat, mengungsi. Mereka memilih meninggalkan rumah setelah mendengar informasi akan terjadi gempa dan tsunami.

Kendati Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) stasiun Majene sudah menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar, hingga Rabu ( 24/11 ), warga masih mengungsi. Para nelayan juga tidak melaut.
Pengungsian besar-besaran terjadi di pemukiman pesisir di Majene antara lain di Sirindu, Pamboang, Rangas, Totoli, serta Baurung.  Warga Desa Tandung, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar yang juga mendengar isu gempa tsunami tersebut juga memilih mengungsi.

Pengungsian yang terjadi sejak Senin ( 22/11 ) itu mencapai puncaknya pada Selasa (23/11 ) malam. Pada Selasa malam itu, warga pesisir Majene dan sebagian Polewali Mandar meninggalkan rumah mereka dan memilih menginap di pemukiman yang di perbukitan seperti di kelurahan Tande, kecamatan Banggae Timur yang berada di ketinggian Majene.

Tidak ada kejelasan dari mana masyarakat memperoleh isu akan terjadi gempa dan tsunami tersebut. Warga mengaku hanya mendengar informasi dari warga lainnya, bahwa tidak lama lagi Majene akan terjadi gempa dan tsunami.  Sebagian warga mengaku yakin akan terjadi gempa dan tsunami setelah sejumlah media cetak dan elektronik menyiarkan berita bahwa salah satu daerah rawan Gempa dan Tsunami di Indonesia adalah kabupaten Majene.

“Kami juga tidak tahu dari mana asal kabar gempa dan tsunami itu akan terjadi. Warga beberapa hari ini hanya mendengar dari mulut ke mulut bahwa akan segera terjadi gempa dan tsunami di Majene. Makanya mereka ramai-ramai ke pegunungan untuk mengamankan diri,” kata Mustakim, warga Sirindu.

Dalam sejarahnya, Majene memang pernah beberapa kali terjadi gempa dan tsunami yakni tahun 1967 dan 1969 yang menewaskan ratusan orang.

Informasi akan terjadinya gempa tsunami itu dengan cepat menyebar karena beredar juga SMS yang memberitahukan bahwa Majene akan terjadi gempa tsunami.

Aceh Tsunami tanggal 26, Merapi meletus tanggal 26, jadi hati-hati gempa tsunami akan terjadi“, demikian salah satu bunyi pesan pendek yang menyebar luas di Majene saat ini.

Kepala BMKG Majene, Eby Sofyan yang ditemui Rabu dinihari di kantornya, mengaku sudah berulangkali memberi pengertian ke masyarakat bahwa isu gempa dan tsunami itu tidak benar.

Hingga Rabu subuh, puluhan warga masih bergantian mendatangi kantor BMKG Majene untuk meminta penjelasan terkait kabar akan terjadinya gempa dan tsunami.

“Kami sudah berulangkali memberi tahu ke masyarakat bahwa gempa maupun tsunami tidak bisa diprediksi, memang Majene rawan gempa karena dilewati patahan Saddang tapi itu tidak bisa diketahui kapan akan terjadi” kata Eby.

Pemkab Majene baru akan menggelar rapat hari Rabu (24/11) sore ini untuk menenangkan warga yang makin resah akibat isu gempa dan tsunami.

“Pelaku penyebar isu bisa jadi provokator yang memiliki tujuan lain, segera akan saya perintahkan pemerintah kabupaten Majene segera meluruskan informasi tersebut,” kata Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh.

Warga sendiri menyatakan masih cemas dan khawatir akan terjadinya gempa dan tsunami karena belum ada penjelasan resmi dari pemda terkait isu tersebut. (OL-3).  SUMBER: mediaindonesia.com (diakses: 25 November 2010 Jam 16.55 waktu setempat —- Polewali)

 

Namun, politikindonesia.com memberitakan ——– Tak hanya Bengkulu dan Padang yang diterpa isu gempa dan tsunami. Isu serupa ternyata juga berkembang di Majene dan Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tak urung warga di kedua daerah itu resah dan panik. Mereka memilih meninggalkan rumah setelah mendengar informasi akan terjadi gempa dan tsunami.


Meski Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Majene sudah menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar, hingga Rabu (24/11), masih banyak warga yang mengungsi. Bahkan, para nelayan di pesisir Majene memilih untuk tidak melaut. 

Pengungsian besar-besaran terjadi di pemukiman pesisir di Majene antara lain di Sirindu, Pamboang, Rangas, Totoli, serta Baurung. Warga Desa Tandung, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar yang juga mendengar isu gempa tsunami tersebut juga memilih mengungsi.

Pengungsian yang terjadi sejak Senin (22/11) itu, mencapai puncaknya pada Selasa (23/11) malam. Pada Selasa malam itu, warga pesisir Majene dan sebagian Polewali Mandar meninggalkan rumah mereka dan memilih menginap di pemukiman yang di perbukitan seperti di kelurahan Tande, kecamatan Banggae Timur yang berada di ketinggian Majene.

Tidak ada kejelasan dari mana masyarakat memperoleh isu akan terjadi gempa dan tsunami tersebut. Warga mengaku hanya mendengar informasi dari warga lainnya, bahwa tidak lama lagi Majene akan terjadi gempa dan tsunami.

Sebagian warga mengaku yakin akan terjadi gempa dan tsunami setelah sejumlah media cetak dan elektronik menyiarkan berita bahwa salah satu daerah rawan gempa dan tsunami di Indonesia adalah kabupaten Majene.

“Kami juga tidak tahu dari mana asal kabar gempa dan tsunami itu akan terjadi. Warga beberapa hari ini hanya mendengar dari mulut ke mulut bahwa akan segera terjadi gempa dan tsunami di Majene. Makanya mereka ramai-ramai ke pegunungan untuk mengamankan diri,” kata Mustakim, warga Sirindu.

Dalam sejarahnya, Majene memang pernah beberapa kali terjadi gempa dan tsunami yakni tahun 1967 dan 1969 yang menewaskan ratusan orang. Informasi akan terjadinya gempa tsunami itu dengan cepat menyebar karena beredar juga SMS yang memberitahukan bahwa Majene akan terjadi gempa tsunami.

“Aceh Tsunami tanggal 26, Merapi meletus tanggal 26, jadi hati-hati gempa tsunami akan terjadi”, demikian salah satu bunyi pesan pendek yang menyebar luas di Majene saat ini.

Kepala BMKG Majene, Eby Sofyan yang ditemui Rabu dinihari di kantornya, mengaku sudah berulangkali memberi pengertian ke masyarakat bahwa isu gempa dan tsunami itu tidak benar.

Hingga Rabu subuh, puluhan warga masih bergantian mendatangi kantor BMKG Majene untuk meminta penjelasan terkait kabar akan terjadinya gempa dan tsunami. “Kami sudah berulangkali memberi tahu ke masyarakat bahwa gempa maupun tsunami tidak bisa diprediksi, memang Majene rawan gempa karena dilewati patahan Saddang tapi itu tidak bisa diketahui kapan akan terjadi” kata Eby.

Pemkab Majene baru akan menggelar rapat hari Rabu (24/11) sore ini untuk menenangkan warga yang makin resah akibat isu gempa dan tsunami. Pemkab juga akan meminta kepolisian untuk mencari penyebar SMS yang telah meresahkan ribuan warga tersebut.

“Pelaku penyebar isu bisa jadi provokator yang memiliki tujuan lain, segera akan saya perintahkan pemerintah kabupaten Majene segera meluruskan informasi tersebut,” kata Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh. (zel/yk) SUMBER: politikindonesia.com (diakses: 25 November 2010 Jam 17.00 waktu setempat —- Polewali)

Sedangakan, antara-sulawesiselatan.com Mamuju (ANTARA News) – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat menegaskan isu akan terjadinya tsunami di Kabupaten Majene adalah tidak benar karena gempa yang menjadi sebab tsunami, sulit diramalkan dengan teknologi yang ada. 

“Isu akan terjadinya tsunami di Majene itu jangan dipercaya karena isu itu bohong, tidak akan ada terjadi tsunami di Majene karena tidak ada gempa,” kata Kepala Stasiun BMKG Kabupaten Majene, Edy Sofyan di Mejene, Rabu.

Ia meminta, masyarakat yang selama ini khawatir dengan isu tsunami tidak mudah percaya dengan isu itu, serta tidak panik dengan cara mengungsi ke tempat yang aman, karena isu tsunami itu tidak benar.

Ia menjelaskan, tsunami hanya bisa terjadi di Majene ketika terjadi gempa tektonik di perairan Sulawesi, namun hingga saat ini tidak ada teknologi yang bisa meramal dengan tepat kapan terjadi gempa di perairan Sulawesi itu.

“Tsunami terjadi karena gempa dan gempa itu tidak dapat diramalkan kapan akan terjadi,” katanya.

Menurut dia, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Pemerintah di Kabupaten Majene untuk menjelaskan bahwa proses terjadinya tsunami selalu diawali terjadinya gempa tektonik sehingga jika di Majene tidak ada gempa maka tidak mungkin terjadi tsunami.

“Kami telah meminta kepada pemerintah di Majene untuk dapat menenangkan warga Majene yang banyak mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Saya berharap mereka kembali ke rumahnya, namun tetap waspada jika suatu saat terjadi gempa,” katanya.

Sebelumnya ribuan warga di Kabupaten Majene yang bermukim di sepanjang pantai yang panjangnya sekitar 100 kilometer di tiga Kecamatan di Majene yakni Kecamatan Pamboang, Tubo Sendana, dan Kecamatan Sendana, mengungsi karena adanya isu akan terjadi tsunami di wilayah itu (23/11).

Para warga mengungsi kedaerah pegunungan dengan membawa sanak keluarganya dengan berbekal seadanya karena khawatir mereka akan dihantam tsunami yang datang dari perairan Sulawesi.. (T.KR-MFH/B013)antara-sulawesiselatan.com (diakses: 25 November 2010 Jam 17.05 waktu setempat —- Polewali)

—————————————-

 

Titik Daerah Rawan Bencana Gempa dan Tsunami di Indonesia

Jaringan Titik Dasar GayaBerat BMKG

Lihat Peta: Citra Satelit & Perkiraan Arah Angin (harus didukung akses internet yang besar/cepat)

Atau Lihat:  Peta Live Gempa Terkini (harus didukung akses internet yang besar/cepat)



Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: