DATAstudi Information

Home » Adat » Metode Dakwah dalam Mengatasi Problematika Remaja

Metode Dakwah dalam Mengatasi Problematika Remaja

Oleh: AKHMAD SUKARDI

Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara disebutkan bahwa  hakekat pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam pola manusia seutuhnya berarti dalam pelaksanaan pembangunan fisik hendaknya tidak terlepas dari jalur yang mengarah kepada ketinggian martabat manusia. Manusia seutuhnya berarti pula manusia  yang mencerminkan keselarasan hubungannya dengan Allah Swt, dan lingkungannnya. Manusia seutuhnya adalah manusia yang bermutu tinggi baik lahiriah maupun batiniah.[1]

Untuk mewujudkan manusia yang bermutu tinggi tersebut diperlukan berbagai upaya, antara lain melalui dakwah Islamiah. Namun dengan perkembangan masyarakat yang semakin dinamis dewasa ini dan beragamnya watak dan corak sasaran dakwah, maka pelaksanaan dakwah dihadapkan kepada persoalan yang semakin kompleks. Untuk itu diperlukan sarana dakwah baik memuat materi dan metode maupun media informasi yang dapat mendukung kelancaran pelaksanaan dakwah.

Masalah dakwah dalam Islam sama umurnya dengan Islam sebagai agama Allah Swt, agama Islam  yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, pada dasarnya disebarluaskan dengan jalan dakwah. Dakwah ini dijalankan Nabi dengan cara lemah lembut. Memang melalui dakwah orang-orang Arab Jahiliah diharapkan secara sukarela menjadi seorang muslim. Menjadi seorang muslim hendaknya didasarkan kepada penerimaan dan kesadaran, bukan dengan paksaan atau tekanan.[2]

Dalam melaksanakan dakwah, haruslah dipertimbangkan secara sungguh-sungguh tingkat dan kondisi cara berpikir  mad’u (penerima dakwah) yang tercermin dalam tingkat peradabannya termasuk sistem budaya dan struktur sosial masyarakat  yang akan atau sedang dihadapi.[3] Secara evolusi, obyek dakwah  mengalami perkembangan ke arah yang lebih tinggi sesuai dengan tingkat kemajuan dan intelektual. Bahkan seharusnya seirama dengan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.[4]

Pengembangan dakwah dimaksudkan agar ajaran Islam secara keseluruhan meresapi kehidupan manusia sehingga mampu memecahkan segala masalah kehidupannya, pemenuhan kebutuhannya yang sesuai dengan ridha Allah swt. Dengan demikian, dakwah dipandang sebagai proses pendidikan individu dan masyarakat sekaligus proses pembangunan itu sendiri.[5]

Dakwah dipandang sebagai proses pendidikan yang baik dan benar-benar harus mengacu pada nilai-nilai Islam yang diterapkan sedini mungkin kepada anak-anak. Apabila proses tersebut dapat berjalan dengan baik, kita akan melihat munculnya generasi muda yang memiliki komitmen yang kuat. Mereka adalah  para pemuda yang selalu siap mengemban misi kemanusiaan kepada masyarakat yang ada di lingkungannya dan siaga dalam memenuhi panggilan  yang diserukan oleh negara.[6]

Akan tetapi, hal itu tidak mudah untuk diwujudkan. Sebab, banyak faktor eksternal yang mempengaruhi para remaja dan memperlemah pembentukan kepribadian mereka, di samping beberapa faktor internal dari dalam diri mereka sendiri yang sangat berpengaruh  bagi mereka. Di antara faktor yang mempengaruhi remaja adalah sikap meremehkan dan melalaikan proses pendidikan.[7]

Semakin banyak faktor yang mempengaruhi remaja dalam membentuk kepribadiannya, semakin banyak pula penyimpangan  yang akan ditimbulkan.[8] Khususnya di Indonesia, remaja saat ini tampaknya sudah mengalami krisis moral akibat dari arus yang tidak terbendung datangnya dari dunia Barat.[9] Penyimpangan-penyimpangan ini sangat berbahaya dan rentan menimpa para remaja karena mereka sedang mengalami masa transisi menuju kedewasaan. Apabila hal ini tidak ditangani secara serius, penyimpangan-penyimpangan tersebut dapat menjadi momok yang menakutkan, bahkan bisa berujung pada pembangkangan.[10]

Untuk menyelamatkan generasi yang akan datang, remaja harus dibina untuk mempersiapkan  lahirnya generasi manusia yang mampu menghadapi kehidupan masa depan. Hal ini sangat relevan dengan sabda Nabi Muhammad saw sebagaimana yang dikutip oleh Abd. Rahman Getteng dalam salah satu hadis yang artinya: “Didiklah anak-anakmu, karena sesungguhnya mereka akan dipersiapkan hidup pada masa depan (kondisi) yang berbeda dengan masa kamu” [11]

Bermacam-macam harapan yang muncul di tengah masyarakat yang menempatkan masa remaja sebagai generasi  penerus bangsa. Harapan tersebut wajar karena peralihan generasi dalam perjalanan hidup umat manusia  merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, remaja menjadi tumpuan harapan semua pihak untuk menata masa depan yang lebih baik.

Mantan presiden Republik Indonesia, Soeharto mengungkapkan dalam suatu kesempatan bahwa kita semua menyadari masa depan adalah milik generasi muda, namun kita juga menyadari bahwa masa depan tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan lanjutan dari masa kini. Masa kini adalah hasil dari masa lalu. Oleh karena itu, keikutsertaan generasi muda dalam memikirkan dan menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa kita jangan ditunggu sampai besok. Generasi muda adalah andalan dan harapan bangsa kita.[12].

Harapan-harapan tersebut menjadi suatu keprihatinan yang mendalam ketika menyaksikan situasi akhir-akhir ini dimana kenakalan remaja muncul di permukaan dengan sosok yang lebih variatif dan kadar intensitasnya pun semakin meningkat sebagai imbas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dewasa ini, masalah dekadensi moral atau kebobrokan akhlak yang melanda sebagian remaja yang sangat meresahkan berbagai kalangan, masalah ekonomi pun (kesulitan hidup) dari hari ke hari cukup menyengsarakan dan mengancam ketentraman hidup berumah tangga. Kedua masalah ini saling berkaitan, sebab dengan kebejatan moral terjadi penghamburan harta atau pengeluaran yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, kesulitan ekonomi akan menyebabkan pengangguran yang terkadang mengakibatkan terjadinya pelanggaran norma-norma yang dianut dalam suatu masyarakat.

Tugas dan tanggung jawab dalam pembinaan remaja, baik secara mikro adalah amanah Allah kepada kedua orang tua dalam rumah tangga. Namun secara makro hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua di rumah, guru-guru di sekolah, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat  dalam lingkungan yang lebih luas.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi dan transformasi telah memudahkan para remaja meniru berbagai gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya bangsa. Di bidang transportasi telah memudahkan para remaja untuk mendapatkan narkotika dan berbagai obat terlarang.[13] Serta berbagai penyimpangan lainnya yang telah melibatkan remaja.

Para orang tua, para guru, dan seluruh masyarakat sudah sangat khawatir dengan keterlibatan remaja pada perilaku-perilaku yang bertentangan  dengan tradisi masyarakat, norma hukum dan norma agama. Perilaku-perilaku tersebut seperti: perampokan, tindak kekerasan, pemerkosaan, deviasi perilaku sosial, lari dari rumah, minum minuman keras, tawuran antar pelajar,dan perilaku destruktif lainnya.[14]

Perilaku destruktif yang dilakukan para remaja disebut kenakalan remaja. Kenakalan remaja berarti suatu penyimpangan yang ditunjukkan oleh remaja sehingga mengganggu diri sendiri dan orang lain. Kenakalan remaja sudah menjadi problem nasional sehingga Presiden Republik Indonesia  mengeluarkan instruksi tentang pembentukan Badan Koordinasi Penanggulangan Kenakalan Remaja, yaitu Instruksi Presiden No. 6 Tahun 1971, dilaksanakan secara koordinatif antara departemen dengan instansi kepolisian RI.[15]

Remaja yang melakukan kejahatan pada umumnya kurang memiliki kontrol diri, atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut suka menegakkan standar tingkah laku sendiri, disamping meremehkan keadaan orang lain. Kejahatan yang mereka lakukan itu pada umumnya disertai unsur-unsur mental dan motif-motif subyektif, yaitu untuk mencapai obyek tertentu yang disertai kekerasan.[16]

Dari berbagai penyimpangan dan tindakan yang dilakukan oleh remaja yang berhubungan dengan tradisi masyarakat, norma hukum dan norma agama, tidak terlepas dari berbagai macam faktor penyebab, baik yang berasal dari diri remaja sendiri (internal) maupun penyebab yang berasal dari luar dirinya (eksternal) perlu dicarikan solusi (pemecahannya). Upaya ini menghendaki agar remaja dapat keluar dari problematika yang dihadapinya yang dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Bertitik tolak dari problematika remaja yang sering kita saksikan dewasa ini, maka dakwah merupakan saham yang turut andil dalam mencari solusi dan penyelesaian dari masalah-masalah tersebut. Untuk itu diperlukan adanya dakwah yang efektif dan efisien terhadap remaja, sehingga dapat memahami dan menerapkan tuntunan ajaran agama Islam secara tepat dalam kehidupan sehari-harinya.


[1] Republik Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara, Tahun 1989, h. 3.

[2] Lihat, Jalaluddin Rahman, Dakwah dan Tantangannya dalam Kemajuan Sains dan Teknologi pada Masa Kini dan Esok”. Makalah. Disampaikan pada Seminar Sehari oleh HMJ PPAI Fakultas Dakwah IAIN Alauddin tanggal 24 November 1994.

[3] A. Wahab Suneth, et. al. Problematika Dakwah dalam Era Indonesia Baru (Cet. I; Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2000), h. 11.

[4] Jalaluddin Rahman, loc. cit.

[5] M. Arfah Shiddiq, “Pembangunan Dakwah dalam Perspektif Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia”. Makalah, 1996.

[6] Muhammad al-Zuhaili, Menciptakan Remaja Damban Allah; Panduan bagi Orang tua Muslim (Cet. I; Bandung: al-Bayan, 2004), h. 146.

[7] Ibid.

[8] Ibid., h. 147.

[9] M. Sattu Alang, Kesehatan Mental dan Terapi Islam (Cet. I; Ujung Pandang: PPIM, 2001), h. 74-75.

[10] Muhammad al-Zuhaili, loc. cit.

[11] Lihat, Abd. Rahman Getteng, “Tantangan Pendidikan Islam dalam Menghadapi Era Teknologi dan Globalisasi”. Jurnal Pendidikan Lentera (Ed. I; Ujung Pandang: Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang, 1998), h. 11.

[12] Lihat, Menteri Pemuda dan Olah Raga, Harapan Pak Harto Kepada Generasi Muda Indonesia (Jakarta, 1992), h. 211.

[13] Lihat, Muliati Amin, “Problematika Remaja dalam Perspektif Dakwah”, Jurnal Dakwah Tablig (Ed. 03;  Makassar: Fakultas Dakwah IAIN Alauddin Makassar, 2002), h. 167.

[14] Ibid., h. 168.

[15] Lihat, M. Arifin, “Kenakalan Remaja dan Kegiatan Pelayanan Bimbingan Konseling Berdasarkan Berbagai Sistem Pendekatan”. Modul 6 Bimbingan dan Konseling (Cet. III; Jakarta: Ditjen Bimbingan Islam Depag, 1994), h. 257.

[16] Lihat, Kartini Kartono, Patologi Sosial dan Kenakalan Remaja, Ed. 4 (Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 9.


1 Comment

  1. Hey there! I just wish to offer you a big thumbs up for your great info you’ve got right here on this post. I am returning to your website for more soon.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: