DATAstudi Information

Home » Adat » Kondisi Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri 11 Ambon Pasca Konflik Sara di Ambon

Kondisi Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam pada SMA Negeri 11 Ambon Pasca Konflik Sara di Ambon

Oleh: TUTI

Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sakolah ialah dengan cara perbaikan proses belajar mengajar. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan merupakan alat untuk menimbah ilmu pengetahuan bagi anak-anak didik yang akan dituangkan, diajarkan dan diamalkan ilmu pengetahuan yang diterima selama pendidikan kepada masyarakat luas. Pendidikan bukan semata-mata mengembang- kan ranah kognitif, tetapi harus pula mengembangkan ranah psikomotorik dan ranah afektif. Dalam arti kongkrit pendidikan harus mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kepribadian.

Hal ini dapat dijelaskan dalam tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 bahwa:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cukup kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan Nasional yaitu menjadikan manusia yang beriman, bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian yang mantap serta tumbuhnya rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, maka pendidikan agama Islam adalah salah satu tumpuan.

Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik. Secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat serta perbedaan-perbedaan kedaerahan. Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam.

Kedua ciri tersebut yang ada pada masyarakat Indonesia yang menyebutkan terjadinya konflik. Di dalam situasi konflik, maka sadar atau tidak, setiap pihak yang berselisih akan berusaha mengabadikan diri dengan cara memperkokoh solidaritas ke dalam di antara sesama anggotanya, membentuk organisasi kemasyarakatan untuk keperluan kesejahteraan dan pertahanan bersama-sama mendirikan sekolah-sekolah untuk memperkuat identitas kultural, bersaing di dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, polotik dan sebagainya.

Seperti halnya kota Ambon dimana masyarakatnya hidup rukun, damai, toleransi dan saling bantu membantu mengalami konflik akibat tidak terpeliharanya struktur masyarakatnya. Kota Ambon terdiri dari berbagai macam suku di samping suku asli Ambon antara lain: Bugis, Buton, Makassar, Padang, Jawa, dan orang Ambon (Amahusu, Mamala, Morela, Pelau dan lai-lain) serta etnik Cina dan Arab.

Agama yang di anut oleh masyarakat Ambon yang terbesar yaitu Islam dan Kristen. Awalnya agama tersebut sebanding dengan masyarakat Ambon sendiri, namun dengan datangnya suku lain ke Ambon sebagai perantau, maka agama Islam sebagai pemeluk terbanyak pada masyarakat kota Ambon. Perekonomiannya pun dipegang oleh mereka yang beragama Islam dalam hal ini suku-suku yang merantau di Ambon seperti Bugis, Buton dan Makassar.

Keindahan dan kenyamanan yang telah tercipta selama bertahun-tahun di Maluku khususnya kota Ambon tersebut, menjadi hilang seketika dengan peristiwa yang sangat memilukan. Pada tanggal 19 Januari 1999 bertepatan denga 1 Syawal 1419 H. terjadi tragedi konflik atau kerusuhan berdarah yang terus berlanjut dari hari ke hari. Tangis, emosi, ketegangan, pertumpahan darah telah menodai kesucian Idul Fitri. Keharmonisan, dan kerja sama yang selama ini telah terjalin, disobek-sobek oleh gemuruh dalam hitungan. Warisan budaya pecah yang sebelumnya hidup dan mengikat hubungan antara satu desa dengan desa yang lain, menjadi runtuh seketika. Berbagai infrastruktur hancur berantakan, rumah penduduk, mesjid-mesjid, gereja-gereja, instlasi militer, pusat pertokoan, kantor-kantor, lembaga pendidikan mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi dan lain-lain sebagainya rusak binasa dihancurkan oleh perusuh. Sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa yang melayang, ribuan orang menderita luka berat dan ringan, anak-anak menjadi yatimpiatu, istri-istri menjadi janda, aktivitas kehidupan menjadi terganggu dan setumpuk penderitaan yang terus melanda masyarakat.

Enam tahun sudah konflik SARA ini terjadi, namun masih terasa pada masyarakat kota Ambon dampak dari konflik terutama bagi anak-anak sekolah yang mana kegiatan belajar mengajar mereka belum kondusif sebagai mana mestinya. Anak-anak yang muslim masih takut untuk bersekolah di tempat yang lingkungan komunitasnya Kristen begitu pun sebaliknya.

Diketahui bahwa sekolah-sekolah negeri seperti SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, rata–rata berada pada lingkungan komunitas yang masyarakatnya Kristen. Hal inilah yang membuat didirikannya sekolah alternatif bagi anak–anak muslim agar tetap bersekolah yaitu SMA Negeri 11 Ambon.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: