DATAstudi Information

Home » Analisis » Mengejar Pendidikan Tak Hanya di Sekolah Formal (Homeschooling)

Mengejar Pendidikan Tak Hanya di Sekolah Formal (Homeschooling)

Mengejar Pendidikan Tak Hanya di Sekolah Formal E-mail
Selama ini, sekolah menjadi satu-satunya sarana untuk mengenyam pendidikan dan mendapatkan legalisasi pendidikan. Namun sejak disahkan Undang-undang Sisdiknas tahun 2003, tidak lagi demikian. Undang-undang ini mendukung pengembangan pendidikan lewat jalur informal dalam mengenyam pendidikan, seperti homeschooling atau yang biasa disebut dengan sekolah rumah.Setidaknya sejak tiga tahun terahir ini, homeschooling semakin menarik perhatian. Ini tampak dengan banyaknya orangtua yang merasakan suasana pembelajaran di banyak sekolah formal sering kurang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anaknya. Sehingga menjatuhkan pilihan bagi pendidikan anaknya pada sekolah rumah seperti ini.
Homeschooling merupakan pendidikan informal yang juga bisa mendapatkan sertifikat atau ijazah sama seperti sekolah formal lainnya lewat ujian nasional pendidikan kesetaraan paket A, B, C, sesuai dengan jenjangnya.
Sekolah rumah bukan berarti si anak tidak belajar dan hanya bersantai saja di rumah. Namun anak tidak pergi ke sekolah dalam artian institusi. Mereka tetap sama seperti anak lainnya yang mengejar pendidikan lewat jalur formal. Jika di Jakarta, sekolah seperti ini sudah menjadi tren seiring dengan perkembangan pendidikan.
Kini, di Medan homeschooling juga mulai tumbuh. Setidaknya sekolah ini bisa dijumpai di Jalan Sunggal Kelurahan Sei Sikambing B dan Jalan Sei Batang Serangan. Meski tidak segencar di Jakarta. Meski demikian, mungkin masih banyak pihak yang belum mengetahui bahkan mengenal homeschooling ini.
Bila ditelisik, keberadaan homeschooling di Medan masih tergolong baru, ya sekitar dua tahunan. Bahkan mayoritas anak didiknya adalah mereka anak yang berkebutuhan khusus (ABK), terutama di i-Homeschooling Jalan Sei Batang Serangan ini. Pendidikan informal ini menjadi alternatif bagi anak yang belum terfasilitasi oleh sekolah. 

Salah Satu Alternatif
Menurut Prof DR Irmawati Psi dari komunitas homeschooling Anak Tangguh yang terletak di Jalan Sunggal Kelurahan Sei Sikambing B Medan, pendidikan informal ini menjadi salah satu alternatif.
Homeschooling merupakan salah satu sarana yang mampu menyahuti kebutuhan anak-anak tertentu. Meski jumlahnya belum segencar di Jakarta, namun sudah ada anak anak yang mengenyam pendidikan di sekolah informal ini. Anak-anak ini belajar dengan didampingi orangtuanya, tidak seperti sekolah formal.
Orangtua turut ambil bagian dalam proses pendidikan bagi anaknya. Mereka menjadi guru untuk sang anak, namun tetap bisa juga meminta guru untuk mengajar dan membimbing anaknya. Guru ini bertujuan untuk membimbing dan mengarahkan anak dalam pelajaran yang disukainya atau bakat.
“Lewat sekolah rumah ini, orangtua memiliki peran yang sangat berpengaruh dalam pendidikan anaknya,” kata Irma.
Berbagai hal pun dapat menjadi motivasi bagi orangtua untuk mendidik anaknya di homeschooling. Sekolah rumah ini, dapat membuat para siswa belajar lebih happy dan rileks, tanpa ada unsur paksaan seperti di sekolah formal selama ini.
Metode pendidikannya selain efisien dan bersifat kekeluargaan, juga praktis. Begiu pula jam belajarnya sangat lentur, yaitu mulai dari bangun tidur sampai berangkat tidur kembali. Di banyak negara maju, konsep seperti ini sudah banyak dikembangkan.
Kemudian jika dilihat dari kurikulum yang diterapkan di sekolah rumah ini, ada yang menggunakan kurikulum sekolah formal. Namun ada juga yang disesuaikan dengan kebutuhan si anak yang membebaskan belajar apa saja sesuai dengan minatnya. Intinya, anak dijadikan sebagai subjek kurikulum, bukan objek.
Atau dengan kata lain kurikulum dan sekolah adalah untuk anak, bukan sebaliknya, anak untuk sekolah dan kurikulum! Di sini anak tidak terus menerus belajar di rumah, namun bisa di mana dan kapan saja asal kondisinya betul-betul menyenangkan dan nyaman seperti suasana di rumah.
Bahkan dari sekolah alternatif ini muncul seperti sekolah alam, yang mengajak siswanya belajar lebih banyak di alam. Anak tidak terlalu banyak belajar dalam ruangan yang serba kaku dan tertutup, namun lebih banyak berada di alam bebas.
Homeschooling tidak hanya untuk anak-anak berkebutuhan khusus saja. Tetapi untuk anak-anak umum juga tersedia. Di Jakarta, homeschooling merupakan pendidikan alternatif bagi anak. Misalnya bagi mereka yang tidak bisa mengikuti pendidikan formal, karena waktunya yang terlalu ketat.
Bahkan tidak sedikit orangtua yang mengejar pendidikan bagi anaknya lewat homeschooling. Karena bagi siswa yang ingin mendapatkan sertifikat atau ijazah, juga bisa mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan paket A, B, C, sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Irma juga menekankan, homeschooling bukan saingan bagi sekolah formal. Sekalipun sekolah rumah, jika ada anggapan kalau home schooler tidak mempunyai banyak teman dan tidak bisa bersosialisasi, menurut Irma anggapan itu salah.
Home schooler tidak ada bedanya dengan mereka yang bersekolah di sekolah umum. Mereka bisa tetap berteman dengan siapa saja, yang sebaya, jauh lebih tua, kaya dan miskin. Setiap orang diberikan kemampuan untuk bergaul, tergantung caranya dan bagaimana.
Meskipun ada komunitas home schooler, tidak membuat pergaulan antar home schooler dibatasi. Mereka juga diberikan pembelajaran untuk bisa menempatkan diri di lingkungan dan berinteraksi dengan sesama karena adanya makna dari suatu hubungan tersebut. Intinya, menjadi home schooler bisa tetap berinteraksi dengan orang lain.

Plus Minus
Psikolog Hj Elviati Ahmad mengatakan, anak-anak yang belajar di homeschooling memiliki plus minus. Dalam hal menimba ilmu pengetahuan dan mengenal kelompok sosial, pendidikan ini cukup bagus. Apalagi dengan pendididikan sekolah rumah ini, anak bisa memikirkan cita-citanya ke depan mau jadi apa. Anak-anak tersebut menjadi lebih serius serta fokus untuk mewujudkannya.
Sekolah seperti ini ungkap Elviati, tidak sama dengan sekolah umum. Dengan bimbingan orangtua, anak-anak akan terhindar dari pergaulan yang negatif.  Sekalipun efek psikologisnya ke depan belum bisa ditebak, namun dia menilai jika anak-anak yang mengikuti pendidikan ini bakal terbelenggu dalam pergaulan sosial. Tapi, hal itu pun, tambah Elviati, tergantung pada orangtua masing-masing.

Kejenuhan pada Sekolah Formal
Sementara pengamat pendidikan sekaligus Rektor Unversitas Medan, Syawal Gultom menilai kehadiran homeschooling ini disebabkan kejenuhan orang-orang tertentu terhadap sekolah formal. “Ini menggugah eksistensi sekolah,” katanya.
Homeschooling tidak bisa menciptakan suasana sama seperti di sekolah. Berinteraksi antarsesama siswa yang jumlahnya ratusan dengan berbagai latar belakang ekonomi, budaya. Padahal hal seperti itu, merupakan bagian daripada proses pendidikan. Misalnya jika si siswa bertemu dengan siswa lainnya yang berlatarbelakang kaya atau miskin, bagaimana dia menyikapinya. Ini sulit bahkan tidak bisa didapatkan di homeschooling itu.
Meski demikian menurut Syawal, homeschooling ini juga memiliki nilai positif. Paling tidak, anak menjadi lebih fokus pada pengembangan bakatnya. “Homeschooling ini juga sekaligus mengingatkan pihak sekolah formal, agar  mengkaji ulang dan untuk kembali ke visi misi dari sekolah,”.
Sekalipun mekanisme dari pendidikan homeschooling ini untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti perguruan tinggi belum ada, namun Syawal mengatakan tidak tertutup kemungkinan bila siswa tersebut memiliki sertifikat lewat jalur paket C.
Syawal juga menyarakan agar sekolah ke depannya dapat memberikan keterampilan bagi siswa dan bisa mengakomodasi harapan para orangtua dan masyarakat. Sebab yang jelas munculnya homeschooling ini tidak tepas dari indeks ketidakpuasan orangtua terhadap sekolah.

Sah-sah Saja
Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Hasan Basri menjelaskan, homeschooling merupakan pendidikan nonformal dan informal. Proses pendidikannya berlangsung lewat program yang dapat dilakukan di rumah tangga.
Khusus di Medan, menurut pengakuan Hasan Basri belum ada pendidikan seperti ini. Namun yang jelas dalam prosesnya, anak yang mengikuti pendidikan ini berada di bawah pengawasan orangtua.
Pendidikan seperti ini sebut Hasan tidak bertentangan, alias sah-sah saja. Orangtua berhak memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Bahkan legalitas untuk ikut dalam kesetaraan atau paket, juga tidak tertutup kemungkinan, jika tercatat dalam Dinas Pendidikan.

sumber: http://www.harian-global.com/ ((diakses: tanggal 3 Juni 2009))


1 Comment

  1. Great website you have here but I was curious about if you knew of any forums that cover the same topics talked about here?

    I’d really like to be a part of community where I can get comments from other knowledgeable individuals that share the same interest. If you have any recommendations, please let me know. Thanks a lot!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: