DATAstudi Information

Home » Administrasi » LANDASAN PACU PEMIMPIN YANG MELAYANI

LANDASAN PACU PEMIMPIN YANG MELAYANI

Membangun Landasan Pacu Seorang Pemimpin

 

Seorang pemimpin melahirkan visi, kemudian menggerakkan orang dan menghasilkan transformasi. Hal ini terjadi bila orang memberikan kepercayaan kepadanya. Kepercayaan diberikan orang kepadanya karena sang pemimpin memiliki keunggulan-keunggulan pribadi serta kualitas pengabdian yang melebihi orang lain.

 

Keunggulan yang dimiliki pemimpin tersebut tercermin di dalam beberapa hal namun yang menonjol adalah lima hal:

 

· adanya skil atau keterampilan dasar kepemimpinan yang didukung dengan skil dasar kehidupan (Basic Life Skills), seperti berkomunikasi dengan baik atau mengambil keputusan

· adanya sikap atau pola respon kepemimpinan yang membedakannya dengan pola respon orang banyak

· adanya tingkat kepekaan yang tinggi terhadap orang yang ia pimpin dan semua pihak lain yang terkait dengan gerakannya bahkan terhadap bias dirinya sendiri

· adanya kemampuan sang pemimpin untuk mengadakan pendekatan sistem terhadap segala situasi yang dihadapi. Ia bahkan juga mampu mengubah sistem dimana ia berada

· adanya spiritualitas kepemimpinan yang mendalam sebagai dasar atau pusat dari semua yang ia miliki tadi.

 

Dengan menunjukkan pada kelima keunggulan yang saling terkait tadi, pada dasarnya kita menunjuk pada sebuah kata kunci yang membuat seseorang menjadi pemimpin sejati. Seorang pemimpin dan mereka yang dipimpinnya berada di dunia nyata sedangkan dunia itu terus berubah, maka pemimpin sejati adalah seorang yang terus belajar.

 

Ia belajar mengenai lingkungannya, tentang mereka yang ia pimpin serta tentang dirinya sendiri. Ia tidak berhenti meningkatkan kepekaan dan intuisinya. Ia pun senantiasa belajar mengenali sistem dimana ia berada beserta segala dinamikanya. Juga ia terus belajar mendalami skil dan sikap kepemimpinan.

 

Pembelajaran atas skil dan sikap tadi tidak akan muncul sebagai hasil yang saling bersinergi kalau tidak berakar pada kedalaman spiritualitas. Kualitas hidup spiritual inilah yang menjadi akar dari semua keunggulan yang menghasilkan kepemimpinan yang sejati.

 

 

 

 

 

A. Spiritualitas seorang pemimpin: belajar mempercayakan diri dan menggali makna sebagai fondasi

 

Membahas spiritualitas sering terasa sulit karena ada berbagai cara untuk memahaminya. Spiritualitas menurut Romo Alex Dirdjo akan berbeda dari apa yang dipahami oleh Catherina dari Siena. Thomas Merton tentu juga menangkap nuansa spiritualitas yang berbeda dari pada apa yang ditangkap oleh penulis ‘Life-style Evangelism”. Orang-orang seperti Kahlil Gibran atau Dalai Lama juga memiliki pemahaman tersendiri. Dalam urusan spiritualitas ini masalahnya jadi lebih repot lagi, karena banyak orang telah menggumuli urusan ini tanpa menyadari bahwa sebenarnya telah menyumbangkan berbagai pemikiran yang mendalam dan berharga tentang hidup spiritual.

 

Agama dari Timur dan Barat, atau Laut Tengah memiliki perbedaan paham mengenai spiritualitas. Dari berbagai agama yang berasal dari sekitar Laut Tengah, spiritualitas dipahami sebagai suatu keakraban dengan sang pencipta yang kemudian diikuti dengan perasaan kagum, kesediaan mengabdikan diri dan hidup dengan rasa syukur. Berbeda dengan paham tadi, di dalam berbagai aliran agama dan kepercayaan di Timur, spiritualitas seringkali dipahami sebagai kemampuan untuk memahami kebenaran, mencapai pencerahan, atau pelepasan dari keterikatan dunia. Dapat juga dipahami, sebagai saat penyatuan dengan zat yang asali.

 

Dari perspektif Kristiani, spiritualitas memiliki dimensi yang kaya. Spiritualitas dapat dipahami sebagai tingkat keintiman seseorang dengan Tuhan yang tercermin dalam penghayatan syukur dan terimakasih dalam semua aspek hidupnya atas kebaikan Tuhan. Spiritualitas dapat juga dipahami sebagai suatu kerinduan untuk mengalami kebergantungan pada kuasa dan kehendakNya yang tercermin dalam keberanian menempuh jalur baru dan resiko yang berat bagi Nya. Selanjutnya spiritualitas perlu juga dimengerti sebagai suatu kesediaan mencari makna dari segala apa yang terjadi di dalam realita dalam kaitan dengan karya besarNya disertai dengan kerinduan untuk menjalani hidup dengan transformasi terus menerus.

 

 

Seorang laki-laki berjalan meniti seutas tali tebal. Tidak aneh bukan. Namun, tali itu terentang di atas sebuah jurang sedalam 50 meter. Tali itu sendiri panjangnya melebihi 70 meter. Berkali-kali laki-laki itu berjalan di atas tali yang terentang dari satu sisi ke sisi lain dari jurang itu. Penonton di bibir jurang bertepuk tangan.atas keberaniannya menghadapi resiko yang besar seperti itu. Kini sang laki-laki tadi berhenti dan berkata-kata pada penonton: Apakah Anda percaya bahwa saya masih dapat meniti tali ini kembali dengan mengangkat sekarung beras seberat 50 kilogram?“ Penonton bertepuk tangan dan menyatakan‚ ’’Tentu Anda mampu.“ Sang laki-laki itu kembali meniti tali tadi dan berhasil mengangkut beras seberat itu. Kini ia berhenti dan menyeka keringatnya dan kembali bertanya‚ ‚“Percayakah Anda bahwa saya mampu melakukan hal seperti tadi sekali lagi, namun dengan mengangkat seorang manusia di atas pundak saya. Saya jaminkan orang itu akan mendapatkan suatu pengalaman yang menarik dan tak terlupakan. Tugasnya hanyalah mempercayakan diri pada saya dan berdiam diri.“ Beberapa penonton saling memandang, namun tak ada seorangpun yang menyambut tantangan itu. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun lari ke depan dan berkata: “Saya berani dan saya percaya.“ Anak itu diangkat ke bahu sang pria dan mulai berpegangan. Setengah jam kemudian, para penonton bertepuk tangan. Wartawan-wartawan berdatangan dan bertanya: „Nak, koq kamu berani percaya pada orang ini.“ Sang anak tertawa, ’’Tentu saja say a berani mempercayakan diri kepadanya, saya kenal kemampuannya.“ Para wartawan tercengan, „Koq bisa?“ Anak itu mengangguk: “Tentu saja , karena saya tahu hatinya juga, ia ayah saya.“

 

Seorang pemimpin yang tidak dapat mempercayakan diri kepada Tuhan akan sangat sulit memberikan kepercayaan pada orang lain atau mendapatkan kepercayakan orang lain. Mempercayakan diri berarti para pemimpin harus terlebih dulu belajar mengenal dan bergaul dengan Nya pada tingkat pribadi dan eksistensial, bukan saja pada tingkat nalar dan perasaan atau perilaku saja. Mempercayakan diri berarti mengambil resiko besar dengan menyerahkan kendali hidup mati serta kesejahteraan sang pemimpin dan semua yang ia cintai kepadaNya.

Nuh rela membuang waktu hidupnya dan percaya pada Tuhan serta melakukan kewajiban muskil yang ia terima daripadaNya

Abraham rela meninggalkan tempat yang berbudaya tinggi dan nyaman menuju tempat dimana orang belum mengenal masak dengan api dan membuat tempat tinggal (versi naskah kuno Sumeria) karena panggilanNya

David dalam saat dikejar Saul lebih percaya kepada Tuhan daripada kepada dirinya sendiri atau pada suara orang yang dekat denganNya.

Paulus dan Barnabas tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam suasana penjara, mereka menyanyi dan memuja Tuhan dalam derita mereka. Mereka percaya pada kuasaNya.

 

Masih banyak lagi contohnya. Percaya berarti mengaminkan dan mengimani kuasa, kebijaksanaan dan pengetahuanNya, serta terutama, cinta kasihNya. Inilah salah satu inti spiritualitas Kristiani.

 

Bagaimana dengan aspek selanjutnya, yaitu makna?

 

Enam ekor kera dikurung di dalam sebuah kamar. Di langit-langit kamar ini terpasang beberapa keran yang dapat menyemprotkan air ke seluruh kamar tadi. Juga disana tergantung setandan pisang. Sebuah tangga dipasang sehingga dapat dipanjat oleh kera-kera tadi untuk menggapai pisang tadi namun tangga tadi memiliki sensor elektrik. Setelah seperempat jam berada bersama di dalam kamar tadi, seekor kera menyadari adanya makanan yang tergantung di langit-langit. Otak keranya berputar dan mulailah ia menghubungkan kehadiran tangga dengan makanan tadi. Sang kera beringsut ke arah tangga dan mulai memanjatnya. Namun, ketika ia menginjak anak tangga ke dua, secara otomatis air keluar dari keran di langit-langit dan membasahi kera-kera lain. Mereka menjerit-jerit dan berlarian kian kemari. Setelah keadaan tenang, kera yang tadi mulai kembali mendekati tangga dan memanjatnya. Kembali, air muncrat membasahi kamar. Semuanya kembali kalut.

Dalam setengah jam, peristiwa tadi terjadi beberapa kali. Perlahan-lahan, kera-kera ini menyadari bahwa bila tangga disentuh, maka air akan disemprotkan. Karenanya, setiap kali seekor kera mendekati tangga, kelima ekor kera lainnya menyergap dan mencegahnya menyentuh tangga ini.

Setengah jam kemudian, salah seekor kera yang basah tadi dikeluarkan dari ruang tadi. Seekor kera yang baru dibawa masuk. Tidak sampai lima menit berada disana, sang kera baru ini melihat pisang dan bergerak menuju tangga. Betapa terkejutnya hewan ini ketika teman-temannya menyergapnya. Ia pun lari kian kemari. Setelah keributan mereda, ia berupaya maju kembali ke arah tangga. Sekali lagi kelima kera menyergapnya. Setelah beberapa lama, ia belajar untuk menjauhi tangga.

Beberapa menit kemudian, seekor kera yang baru dibawa masuk. Bila kera ini juga mencoba menaiki tangga, ia akan mengalami keterkejutan pula. Semua kera lainnya, termasuk kera yang baru masuk setengah jam sebelumnya ikut menyerbunya. Lama kelamaan, maka terbentuklah suatu kebiasaan di kelompok kera-kera itu. Setiap seekor kera mendekati tangga, rekan-rekannya akan menyergapnya tanpa kejelasan mengapa hal itu terjadi. Bila satu persatu kera yang pernah basah digantikan oleh kera-kera baru, tetap kebiasaan untuk menyergap siapa yang menuju tangga dilanjutkan. Kera-kera itu tidak pernah mengalami kebasahan, namun mereka memelihara kebiasaan perilaku yang tidak jelas maknanya bagi mereka.

 

Hal yang digambarkan di atas seringkali terjadi dalam hidup manusia. Berbagai hal dilakukan dengan kesungguhan, gairah dan resiko yang tinggi, namun tidak ada seorangpun yang berani berhenti sejenak dan mempertanyakan maknanya. Untunglah masih ada segelintir manusia-manusia yang mempertanyakan makna tersebut. Merekalah yang membuat dunia mengalami perubahan-perubahan dahsyat. Orang-orang seperti Abraham Lincoln, Martin Luther King Jr, dan Kartini adalah contoh nyata dari orang-orang yang tidak sekedar hidup, tapi berani menggali dan mempertanyakan makna apa yang mereka alami. Spiritualitas berporos pada keberanian serupa itu.

 

 

 

Untuk mendapatkan suatu definisi kerja, baiklah pertama-tama spiritualitas dipahami sebagai suatu kesediaan dan kemampuan menggali makna dari kenyataan-kenyataan hidup. Makna itu mengaitkan hubungan akrab seseorang dengan Penciptanya dengan kenyataan tadi. Makna tadi mengaitkan realitas dengan sesuatu yang ia pahami lebih esensiel dari dirinya.

 

 

Dalam pemahaman Kristiani serupa itu, terutama dalam paham Kritiani yang tidak dualis dan memisahkan dunia rohani dari kenyataan lainnya, maka spiritualitas selalu harus bermuara dalam perbuatan dalam hidup sehari-hari atau sekurangnya pada transformasi diri. Dengan demikian muncullah istilah “walk the talk” sebagai salah satu ukuran otentiknya suatu spiritualitas.

 

Dengan pemahaman tadi spiritualitas harus sekaligus mengandung aspek-aspek sebagai berikut:

o pendalaman pemahaman,

o pergumulan dan perenungan makna,

o perubahan diri dan kemudian,

o perbuatan nyata, termasuk yang bersifat ritual maupun yang kegiatan sehari-hari seperti yang bersifat hubungan antar pribadi, perilaku manajerial dan perubahan sistem.

 

Bagaimana penggalian atau pendalaman makna terjadi? Ada dua kutub yang harus menjadi titik berangkat pergumulan seseorang pemimpin sebelum ia mendapatkan makna untuk apa yang terjadi di dalam hidup pribadi, keluarga bahkan perngalaman bermasyarakat Kutub pertama adalah kehadiran suatu teks yang menjadi dasar renungannya. Teks adalah kompas dimana ia membandingkan pengalamannya dengan pola yang seharusnya menjadi standar keluhuran dan menjadi sudut pandangnya. Bagi orang Kristen, Alkitab yang telah diperlihara dari jaman ke jaman merupakan teks dasar. Alkitab tidak memuat hukum-hukum atau petunjuk-petunjuk saja, namun refleksi pergumulan dan pengalaman nyata umatNya ketika mereka berjalan bersama Tuhan atau ketika mereka meninggalkannya. Karenanya, kualitas seorang pemimpin terkait dengan keakrabannya dengan Alkitab. Seorang Muslim memiliki teksnya sendiri. Demikian pula seorang Buddhis atau Hindu. Mereka yang mengabaikan teksnya akan menjalani hidupnya sebagai pelancong yang tidak memiliki peta atau buku pedoman wisata.

Tanpa rekonsiliasi diri, seorang pemimpin akan membawa-bawa luka dan sampah masa lalu ke dalam pengabdiannya

 

Text Box: Tanpa rekonsiliasi diri, seorang pemimpin akan membawa-bawa luka dan sampah masa lalu ke dalam pengabdiannya

Selanjutnya kutub sebaliknya dalam proses penggalian makna sang pemimpin adalah konteks hidupnya. Konteks hidup yang sempit membuat seorang pemimpin merenungkan teksnya dengan sempit pula. Ia cenderung menghilangkan ambivalensi dan kompleksitas hidup lalu membangun suatu dunia artifisial yang sederhana dan mudah ditangani. Namun dunia tadi bukan dunia nyata yang menjadi ciptaan sang Mahakuasa, namun dunia buatan pribadinya. Dengan dunia serupa itu, ia memilih dan memilah bagian teks yang cocok dengan seleranya. Hal-hal yang rumit diabaikannya atau dihindarinya, karena menggumuli hal tadi membuatnya harus mengubah persepsinya tentang dunia sederhananya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang memiliki konteks hidup yang luas akan membuatnya terus menerus harus menghadapi pertanyaan dan rasa gamang. Hal ini akan dapat mendorongnya mencari dimensi baru dari teksnya agar ia mampu memahami makna kompleksitas tadi. Dengan demikian ia terus menerus belajar bahkan menggantungkan jalan hidupnya setapak demi setapak kepada sang Pencipta. Lebih lanjut lagi ia semakin peka pada “roh-roh” yang dihadapinya sepanjang jalan hidupnya.

 

Semakin ia menggali dengan dalam makna dan dan membuat pemetaan terhadap apa yang terjadi dalam konteksnya, semakin paham dirinya. Namun selain menghasilkan pemahaman, ia perlu merenungkan secara kritis namun rendah hati makna kenyataan yang ada bagi dirinya dan sesamanya. Dengan kata lain, harus terjadi suatu pergumulan eksistensial. Pergumulan eksistensial seorang pemimpin akan bermuara pada penghayatan syukur yang akan mewarnai segala aspek hidupnya. Tanpa hal ini maka penghayatan kepemimpinannya akan tidak mendalam.

 

Setelah rasa syukur tadi hadir, mala lebih lanjut lagi penghayatan tadi perlu dilanjutkan dengan transformasi pribadinya sendiri. Transformasi diri tadi mencakup beberapa hal:

Pertama, terjadi perubahan pahamnya tentang siapa dirinya sendiri dalam kaitan dengan keseluruhan realita atau dengan sang Penciptanya. Perubahan ini membuatnya memahami riwayat pribadinya dalam kaitan dengan rancangan agung sang Pencipta bagi semesta. Selanjutnya, dengan penghayatan tentang makna hidupnya, ia mengalami rekonsiliasi (pemulihan) dari luka-luka yang diakibatkan oleh berbagai peristiwa yang menyakitkannya bahkan membuatnya kehilangan keyakinan atas kasih atau keagungan Sang Pencipta.

Kedua, transformasi diri yang selanjutnya mencakup perubahan pada hal-hal yang dianggapnya paling bernilai dan patut dikejarnya di dalam hidup (nilai-nilai). Nilai-nilai ini sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tentang siapa dirinya dan tujuan hidupnya.

 

Ketiga, akibat dari ke dua transformasi tadi terjadi suatu perubahan dalam ambisi atau sasaran hidup seseorang. Keselarasan antara penghayatan siapa diri seseorang dengan nilainya serta ambisinya akan bermuara dalam kejelasan peran yang ia mainkan dalam hidup.

 

Semakin tidak terintegrasi ketiga hal tadi semakin tidak konsisten dirinya. Sebaliknya integrasi ketiga transformasi hal tadi akan menghasilkan kesediaan untuk menghasilkan sikap kepemimpinan dan skil kepemimpinan–dua hal yang perlu dipelajari terus menerus.

 

Jadi, bagi seorang pemimpin yang melayani, ia melakukan tugas kepemimpinan karena ia menyadari, memiliki pandangan hidup dan nilai bahwa ia diberikan kesempatan oleh Penciptanya untuk ambil bagian di dalam kehidupan semesta untuk membuat transformasi dan menolong orang bergerak.

 

Kuasa yang ia miliki adalah pemberian dari sang pencipta dan bukan sesuatu yang harus ia kejar dan pupuk sendiri. Kepemimpinan adalah pengabdian dan baktinya bagai sang Pencipta. Dengan pemahaman seperti ini maka ia tahu siapa diri dan keterbatasannya. Ia tahu pula apa yang menjadi ambisinya yaitu melakukan semuanya dalam proses kepemimpinan seakan untuk menyembah sang Pencipta. Melayani sebagai pemimpin adalah bagian dari ibadah pengabdian. Kepemimpinan baginya adalah suatu proses belajar dan transformasi diri sebagai abdiNya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana mengevaluasi spiritualitas seorang pemimpin?

 

1. Kualitas spiritual seorang pemimpin tercermin dari kepekaannya membaca realitas kasat mata terutama tren perubahan masyarakat. Kepekaan ini amat penting dalam dunia modern yang penuh dengan kepelbagaian, bertempo cepat, serta riuh rendah. Kepekaannya membuat ia mampu menemukan makna dari semua gejala yang orang biasanya hanya menangkap secara inderawi serta direspon secara emosional dan nalar. Tanpa kemampuan untuk peka, kemudian diikuti dengan kemampuan menggali, mengungkap atau mengenali makna dari realita yang kompleks maka seorang pemimpin sulit mengajak pengikutnya bergerak ke visi yang baik.

 

2. Dari sudut pandang agama-agama yang berasal dari laut Tengah, kualitas spiritualitas ini tercermin juga dari keintiman hubungannya dengan Penciptanya. Orang yang akrab dengan Yang Mahakuasa berarti, ia harus mampu menggali makna dari apa yang ia lakukan. Ia juga harus dapat menggali makna dari apa yang pengikutnya lakukan serta makna dari tujuan bersama mereka dalam kaitan dengan kehadiran sang Pencipta. Terutama, ia harus mampu menggali dari makna berbagai peristiwa di dalam masyarakat dimana ia berada dalam hubungannya dengan kehendak sang Pencipta. Dari sudut agama yang berasal dari Asia, kualitas ini terbaca dari tingkat kedalaman penghayatan orang atas kebenaran sejati, atau kebebasan dari kungkungan persepsi atau realita yang maya.

 

3. Selanjutnya, bagi penganut agama yang berasal dari Timur tengah, kualitas spiritual terbaca dari kedalaman penyerahan diri seseorang pada Yang Mahakuasa. Seorang pemimpin harus mampu meneladani pengikutnya dalam penyerahan dirinya atau mempercayakan diri pada sang Pencipta. Penyerahan diri terlihat dari kebergantungan dan syukurnya pada Penciptanya. Penyerahan diri bukan berarti ia harus hidup secara pasif dan sepenuhnya tidak berbuat apa-apa. Ia tetap giat namun menyadari dan yakin bahwa ia dapat mempercayakan seluruh urusannya ke dalam tangan sang Pencipta. Sebaliknya bagi penganut agama yang berasal dari Asia, kualitas tadi tercermin di dalam tingkat keheningan yang seseorang alami atau kebebasan dari ikatan-ikatan yang menjauhkannya dari kebenaran.

 

 

Orang yang tidak spiritualis dan tidak mampu mengenali makna daripada apa yang ia hadapi sebenarnya adalah orang yang termiskin di dunia. Ia hanya menjalani hari-harinya. Ia terus merangkai hidupnya tanpa memahami pola yang sedang ia bentuk. Ia juga tidak menyadari jebakan persepsi-persepsi atau penangkapan inderawi serta respon emosinya terhadap realita. Bagi seorang pemimpin, tanpa makna yang diyakininya maka ia akan mudah bosan. Ia juga dapat mabuk kekuasaan, atau menangani berbagai hal detil saja. Iapun tidak dapat mentransformasi pengikutnya untuk mengenali makna dari gerakan mereka bersama menuju cita-cita mereka.

 

Sebaliknya pemimpin yang mampu memahami makna urusannya kerapkali menjadi orang yang tegar, tahan derita, tetap konsisten, serta mampu mensyukuri apa yang ia hadapi — walaupun mungkin pahit. Semakin dalam makna yang seorang pemimpin mampu temukan, semakin unggul dan kokoh kepemimpinannya. Ia dapat menentukan hal yang utama dari hal-hal sampingan. Sekurangnya ia dapat memimpin dirinya sendiri sesuai dengan makna yang ia yakini.

 

Entah diakui atau tidak, orang yang tidak bergantung pada Yang Mahakuasa berarti harus menggantungkan dirinya pada suatu hal yang lain. Pilihan-pilihan sumber untuk bergantung misalnya ialah, kemampuan dirinya, koneksinya, sistem yang ia yakini, atau berbagai-bagai hal lain yang pada dasarnya adalah hasil ciptaan Yang Maha Kuasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa seorang manusia memiliki dua pilihan, yaitu bergantung pada Sang Pencipta atau pada ciptaanNya.

 

Selanjutnya, seorang pemimpin yang tidak peka pada berbagai hal di balik hal-hal yang kasat mata dan trend yang muncul serta tidak bergantung pada sang Pencipta, akan mudah menjadikan dirinya sebagai pusat segala kepentingan yang ada. Ia akan menggantikan posisi sang Mahakuasa dengan dirinya. Dengan mengatas-namakanNya, ia mengejar kehendak dirinya sendiri. Dengan demikian, pada dasarnya ia sudah mengusir sang Pencipta dan menjadikan dirinya allah ciptaan benaknya. Sebaliknya, kepekaan pada hal-hal yang tidak kasat mata membuat orang terus menerus mewaspadai apa yang ia sendiri rasakan, kerjakan, dan impikan.

 

Bila kepekaan tadi sudah dimilikinya, gerak majupun dapat terjadi. Namun cerita belum berakhir. Seringkali pemimpin yang puas dengan hal tadi menghasilkan gerakan yang belum tentu cukup lancar dan langgeng. Seperti telah disinggung di atas, untuk tugas kepemimpinan (tugas menggerakkan) sehari-hari, seorang pemimpin memerlukan berbagai keterampilan kepemimpinan seperti keterampilan perencanaan strategis, komunikasi, coaching dan konseling, pembentukan team-work, pengambilan keputusan dan pengelolaan resiko negoisasi, pengelolaan hubungan antar manusia serta berbagai teknik pengelolaan/manajemen. Di samping itu ia harus memiliki sikap kepemimpinan yang terkait dengan berbagai skil tadi. Namun yang terpenting adalah bagaimana kedua alat tadi menjadi bagian yang terkait dengan spiritualitasnya.

 

 

B. Sikap seorang pemimpin

 

Sikap adalah pola-pola yang mendasari perilaku. Sikap seorang pemimpin dalam hal ini dipahami sebagai pola-pola yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pola-pola seorang pemimpin teramati dari perilaku mereka dalam pelaksanaan peran kepimpinan. Namun pola-pola tadi berakar pada pemahaman dan pengendalian respons emosi

 

 

mereka dalam tugas memimpin. Keduanya terkait dengan nilai, ambisi dan gambar diri seorang pemimpin. Contoh sikap yang baik ialah, seorang pemimpin yang menyadari bahwa melayani berarti ia bersedia mengurbankan diri dan meletakkan dirinya di balik ketenaran pengikutnya.

 

Dari mana datangnya pola-pola tadi? Pola-pola tadi merupakan gabungan dari dua pengaruh besar. Pertama, pengaruh yang merupakan bawaan (herediter), dan kedua adalah pengaruh dari proses belajar yang membekas dan tersimpan dalam ingatannya. Dengan demikian, lahirlah kebiasaan. Dalam hal ini ada dua hal penting yang dapat dipelajari dari kenyataan tadi.

 

Pertama, sebagian besar dari pola-pola merupakan hasil dari pengaruh proses belajar. Hal ini merupakan kabar baik bagi kita. Semua yang telah dipelajari berarti dapat diteliti atau dipelajari ulang dan dibuang bila tidak lagi berguna. Dalam bahasa bahasa Inggrisnya dikenal istilah learned and unlearned.

 

Contoh yang paling jelas adalah pola pemarah. Pada dasarnya kebiasaan menjadi pemarah disebabkan oleh berbagai hal. Salah satunya disebabkan karena faktor bawaan biologis yang membuat individu lebih mudah marah. Beberapa anak pemarah dinasehati, ditenangkan, dan diajak berpikir mengenai kemarahan mereka. Akhirnya, mereka menjadi orang yang mengenali mudahnya mereka marah dan kemudian belajar untuk mengendalikan kemarahannya atau menyalurkannya dengan cara yang wajar. Sebaliknya, ada anak-anak pemarah yang setiap kali mereka marah, menerima pukulan dari orang tuanya. Akibatnya, mereka jadi takut untuk marah terhadap atau di depan orang-orang

 

yang mereka anggap lebih kuat. Anak-anak ini belajar untuk marah hanya kepada orang-orang yang lebih lemah dari mereka. Setelah dewasa dan menjadi pemimpin, seringkali mereka menjadi orang yang sadis, bahkan cenderung marah dengan kasar kepada orang-orang yang menjadi bawahan mereka. Di pihak lain, mereka dapat pula menyamarkan diri menjadi orang yang manis dan penurut di depan atasan. Mereka belajar bahwa cara ini lebih aman. Pola marah ini menjadi bagian dari diri mereka. Kecuali mereka dengan sengaja belajar mengenai pola asal mula, akan sulit mereka menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

 

Kedua, seringkali suatu pola perilaku menjadi bagian dari diri seseorang tanpa disadarinya. Banyak orang tidak menyadari bahwa hal tersebut dapat diubah bila mereka dengan sengaja memperhatikan dan merancang perubahan dalam diri. Dalam hal ini, kaitan antara perilaku dan ingatan atau apa yang dipelajari dari masa lalu sangat berperan aktif. Dalam bahasa ilmu jiwa terjadi proses conditioning atau pembiasaan.

 

Ahli ilmu jiwa, Pavlov melakukan pembiasaan ini pada anjingnya. Setiap kali si anjing lapar, Pavlov memberinya makanan sambil membunyikan bel. Lama-kelamaan si anjing ini terbiasa mengaitkan bunyi bel dengan kehadiran makanan. Ia mempelajari hubungan antara bel dengan makanan. Pada suatu hari ketika bel tadi dibunyikan, si anjing bereaksi seakan makanan hadir, misalnya mengeluarkan air liur.

 

Bila anjing terus menerus mendengarkan bel, namun makanan tidak juga hadir pada suatu titik tertentu, ia dapat belajar lagi bahwa bel dan makanan tidak selalu terkait. Ia membuang asosiasi atau kaitan yang telah dipelajari-nya

 

sebelumnya, kemudian hal itu dicerminkan di dalam perilakunya (unlearned).

 

Seorang manusia seringkali mempelajari begitu banyak hal dalam lima tahun pertama dalam hidupnya sehingga ia tidak lagi menyadari kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa ia mempelajari hal tadi. Dalam arti tertentu, apa yang dipelajari dapat memberikan faedah bagi dirinya, namun sekaligus secara potensial menjebak dirinya untuk terus menerus menggunakan pola yang telah dipelajari tadi di dalam hidupnya. Anjing Pavlov pun terjebak ke dalam pola yang ia buat, yaitu mengeluarkan liur setiap ia mendengar bel. Namun, pengalaman atau rangsangan baru membuatnya mempelajari ulang hal tadi. Manusia tidak sesederhana sang anjing, karena dapat memilih dan menghindari pengalaman atau rangsangan yang bertentangan dengan pola yang telah dipelajarinya. Ia akan menghindar dari rangsangan yang memaksanya mengadakan proses unlearned. Seorang pemimpin juga sering terjebak dalam pola itu. Misalnya, seorang penakut akan menghindari pengalaman-pengalaman yang membawanya menghadapi resiko tinggi, apalagi resiko yang dapat melukai dirinya. Ia belajar di masa kecil bahwa melarikan diri dari kesulitan, bahaya, dan tantangan akan memberikan keberhasilan baginya. Pola ini diterapkannya bertahun-tahun dan berhasil.

 

Walaupun suatu budaya mempengaruhi tata nilai dan akan menentukan pemahaman tentang pola kepemimpinan, ada beberapa pola yang berlaku universal yang ditampilkan dalam hidup tokoh-tokoh besar dalam sejarah manusia. Pemilik dari pola-pola ini dapat disebutkan sebagai orang yang memiliki pola atau sikap kepemimpinan.

 

 

Pertama, mereka sangat kentara dalam sikap pengendalian diri untuk mengatasi kecenderungan manusiawi-nya. Mereka sering menyadari kesulitan dan aniaya yang akan dialami mereka ketika mereka mengejar pencapaian misi hidup mereka, namun mereka tidak membiarkan naluri manusiawi yang selalu ingin menghindar dari derita menguasai keputusan-keputusan mereka. Orang-orang seperti MK Gandhi, Abraham Lincoln, atau Kemal Attaturk kentara dalam hal ini. Contoh yang jelas dalam hal ini ialah bagaimana seorang pemimpin menghadapi kritik. Bila seorang biasa menghadapi sepuluh kritik yang tidak benar serta disampaikan bersama dua kritik yang tepat, ia akan tersinggung karena sepuluh kritik yang menyakitkan perasaannya. Namun seorang pemimpin akan brterimakasih untuk kedua kritik yang tepat dan mengabaikan sepuluh kritik yang lain.

 

Kedua, kerangka pendekatan para pemimpin sangat berbeda dari orang di sekitarnya. Misalnya, Kristus Yesus. Ketika Ia menderita kelelahan yang sangat berat dan sekelompok anak-anak kecil datang, Ia tidak meremehkan mereka. Berbeda dengan kita, Ia tidak mendahulukan kepentingan-Nya. Ia memperlihatkan bahwa anak-anak dalam kerangka pikir Allah merupakan mahluk yang penting. Di dalam bagian lain bahkan Ia menunjukkan pada kerinduan seorang anak yang menerima-Nya sebagai model dari cara yang tulus menerima Tuhan, padahal anak kecil sampai masa kini pun sering disepelekan. Socrates mengajarkan filsafat tidak dari dalam ruang kelas namun di tengah kerumunan orang di pasar-pasar. Sang Buddha Gautama meneliti hidup dengan mengamati penderitaan orang-orang di sekitarnya, padahal ia hidup sebagai bangsawan. John Burke dari Johnson and Johnson juga mengambil keputusan yang luar biasa dengan menarik produk Tyllenol yang segelintir diantaranya diracuni orang. Padahal keputusan tadi merugikan posisinya dalam jangka pendek. Biaya penarikan saja telah mencapai 5 milliar dollar. Belum lagi kehilangan pangsa pasarnya. Ternyata 2 tahun kemudian, ternyata keputusan dan pola pikirnya sangat tepat.

 

Ketiga, dengan meneliti hidup tokoh-tokoh yang mempengaruhi sejarah manusia dapat disimpulkan bahwa mereka sangat bekerja keras dan menyadari daya pengaruh yang ada di dalam diri mereka. Abraham Lincoln dengan segala keanehannya merupakan suatu contoh manusia yang sangat bekerja keras. Demikian juga Ho CHi Minh, John Calvin, atau Kagawa, teolog Jepang yang terkenal. Mereka menjadi teladan karena kerja keras mereka.

 

Keempat adalah, bagaimana sebagian besar tokoh-tokoh yang berhasil mengubah hidup dan meninggalkan jejak yang dalam cenderung memiliki dapat meletakkan diri pada posisi orang lain. Mereka memiliki kepekaan pada apa yang orang butuhkan, rasakan, dan tanggung. Penulis buku Uncle Tom’s Cabin yang mengubah sejarah, demikian juga penulis Tom Sawyer, atau perjuangan Multatuli merupakan contohnya.

 

Kelima adalah pola yang mungkin tidak banyak teramati, yaitu mereka memperhatikan hal-hal yang kecil dan terus memperbaiki apa yang telah mereka capai dengan konsisten. Pematung-pematung di Bali, atau pembuat batik di Jawa Tengah merupakan contoh hal ini.

 

Keenam, para tokoh merupakan orang yang sangat teratur dan berdisiplin menangani dirinya sendiri. Mereka tidak membuang-buang waktu apalagi untuk bergossip atau sekedar berseloroh kian kemari. Mereka terus giat belajar dalam keadaan yang sulit dan miskin fasilitas sekalipun. Ada di antara mereka yang terus menerus mendoakan orang yang sama secara teratur dan berdisiplin untuk waktu yang panjang. Mereka juga memeriksa diri dengan serius secara berkala. Keseluruhan sikap di atas yang teramati oleh orang lain membuat mereka unggul dan dipercaya orang.

Ketujuh, para pemimpin memiliki sikap tegas dan berani memberi arah. Di dalam situasi yang membingungkan sikap pemimpin yang tegas akan menenangkan dan memberikan kepastian yang dibutuhkan komunitasnya.

Dapat juga dicatat bahwa sikap seorang pemimpin juga memiliki ketegangan. Di satu pihak ia mampu mengendalikan diri, di pihak lain ia harus berani melepaskan kendali banyak hal secara berkala. Juga, ia harus mampu tekun dan berdaya juang, namun di pihak lain ia harus mampu untuk diam, merenung dan tidak berbuat apa-apa. Seorang pemimpin juga harus mampu memiliki sudut pandang yang berbeda-beda untuk situasi yang berbeda-beda, namun di pihak lain, ia juga harus mampu tetap menjaga konsistensi dan keteguhan pendirian. Sementara itu dengan pengikut dan pihak lain yang terkait ia harus mampu menjalin hubungan yang akrab, namun di pihak lain, ia harus pula mampu menjaga jarak. Demikianlah ketegangan yang para pemimpin harus dipikul mereka

dalam mengembangkan sikap kepemimpinan.

 

 

C. Skil seorang pemimpin

 

Sikap seorang pemimpin membuat pengikutnya mempercayakan diri padanya. Namun seorang pemimpin perlu membuat gerak dan perubahan. Untuk itu selain sikap diperlukan serangkaian keterampilan atau skil kepemimpinan. Secara sederhana definisi keterampilan adalah kemampuan mengubah sesuatu yang ada menjadi apa yang dikehendaki sesuai dengan rencana. Keterampilan menyangkut pengenalan bahan, input, atau apa yang dapat diolah. Keterampilan juga terkait dengan tahap-tahap pelaksanaan pengolahan, serta bobot atau jumlah energi yang dibutuhkan, bahkan kemungkinan-kemungkinan penyimpangan dan perkecualian.

 

Dalam bahasa Inggris, keterampilan adalah sesuatu yang dapat Make things happen. Sesuatu yang terjadi, diolah, atau diubah tadi dapat berupa hubungan antar rekan, cara kerja, cara ber-organisasi, bangunan, dana, informasi, dan sebagainya.

 

Keterampilan dapat juga disebut sebagai suatu daya transformasi yang memungkinkan seorang manusia menjadikan apa yang tersedia menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Cara mengubah atau menjadikan ini adalah proses pengubahan yang paling efektif dan efisien. Artinya, dapat tepat mencapai sasaran serta menggunakan porsi yang dikehendaki.

 

 

 

Apa yang tersedia di dalam hidup ini? Beberapa hal di bawah ini cukup berlaku universal dalam dunia modern:

waktu,

uang,

nama baik,

kesehatan,

uang,

benda milik,

pengetahuan/data/informasi/pemahaman,

keluarga,

teman/relasi, dan

pekerjaan.

Suatu hal yang membedakan dunia sebelum ini dengan zaman ini adalah manusia harus semakin bergantung satu sama lain. Oleh sebab itu, salah satu keterampilan kepemimpinan yang paling mendasar untuk dunia modern adalah keterampilan untuk mengelola hubungan dengan baik. Untuk situasi komunitas Asia, dimana kompleksitas organisasi dan hubungan antara manusianya cukup tinggi, maka sangat dibutuhkan keterampilan kepemimpinan yang menghasilkan hubungan baik tadi. Untuk menyokong hal tadi sebuah keterampilan lain dibutuhkan. Seorang pemimpin perlu memiliki keterampilan berkomunikasi secara interpersonal, dalam kelompok, maupun secara massal. Kegunaan keterampilan nyata dalam beberapa hal:

mencari data,

mengubah sudut pandang orang,

menjelaskan sudut pandang kita,

menyimak orang lain,

menggunakan komunikasi yang memungkinkan terjadinya sinergi, atau

menangani konflik.

 

Keterampilan lain yang sangat penting terutama agar dapat menciptakan sinergi dalam lingkup kerja, adalah keterampilan menggalang tim kerja yang mampu bekerja sama (dan bukan cuma sama-sama bekerja). Akibatnya, orang belajar untuk meningkatkan entusiasme kerja, kompetensi, dan kesadaran saling menopang yang akan menuju pada produktivitas yang tingkatnya lebih tinggi.

 

Tim kerja yang baik harus memiliki kemampuan mengambil keputusan secara runtut dan masuk akal. Keterampilan pengambilan keputusan antara lain menolong orang untuk membedakan antara informasi dan persepsi atau tafsiran tentang informasi tadi. Keterampilan pengambilan keputusan membuat kita mampu mengenali alternatif atau pilihan-pilihan, bahkan menentukan prioritas-prioritas kita.

 

Akhirnya, seorang pemimpin di dalam konteks Indonesia pada khususnya harus mampu memiliki keterampilan untuk mencari alternatif dan kerangka yang lebih besar, terutama dalam situasi konflik dan persaingan ketat di tengah masyarakat yang majemuk.

 

Keseluruhan jenis keterampilan yang diuraikan di atas dapat disimpulkan ke dalam tiga jenis yang sangat dibutuhkan dewasa ini, di samping keterampilan yang bersifat teknis spesifik, seperti keterampilan memasak, mengecat, memotong rambut, mengukir es, mengaudit pembukuan, dan lain-lain.

 

 

Pertama: jenis-jenis keterampilan untuk merumuskan apa yang mau dicapai bersama dalam jangka pendek.

 

Kedua: jenis-jenis keterampilan dalam proses mengajak orang lain untuk menyusun tahap-tahap kerja sama serta pelaksanaannya

 

Ketiga: jenis keterampilan untuk mengelola diri sendiri dan memberikan kontribusi yang tepat pada waktu yang tepat.

 

Bila keterampilan kepemimpinan dihasilkan, bersama dengan sikap yang seharusnya, maka seorang pemimpin tumbuh melalui pengalamannya bukan saja untuk menjadi semakin handal dan terampil namun tumbuh pula dalam kebijaksanaannya (wisdom/hokma).

 

 

 


D. Pemimpin dan sensitivitasnya

Seorang pemimpin harus memiliki radar yang tajam. Namun radar ini atau kepekaan seorang pemimpin hanyalah berguna kalau dirinya tenang. Bila ia tergopoh-gopoh, penuh dengan kekuatiran atau merasa kurang, maka kepekaan tadi sulit muncul dan menjadi berguna, sama seperti seorang pembaca radar yang ingin cepat-cepat pulang.

 

Kepekaan ini hanya muncul kalau seorang pemimpin senantiasa peka terhadap dinamika yang ada di dalam dirinya sendiri. Tanpa kepekaan ini ia akan mudah jatuh ke dalam bias dalam menangkap hal-hal di sekitarnya.

 

Kepekaan apakah yang seorang pemimpin perlu kembangkan dalam ia membaca dirinya sendiri? Pertama-tama, kepekaan atas asumsinya tentang gambar dunia atau kepekaan pada world view nya. Setiap orang memiliki suatu gambaran tentang dunia dimana ia berada. Ada yang memahami dunia sebagai arena. Adapula yang menggambarkannya sebagai rimba yang menakutkan, suatu mall yang menarik, atau sebuah perjalanan pulang. Ia perlu peka bagaimana gambaran yang hidup dan ia gunakan ini mempengaruhi keputusan, hubungan-hubungan serta tindakannya.

 

Kedua adalah bahwa seorang pemimpin harus peka tentang apa yang ia anggap bernilai di dalam hidup. Sadar atau tidak hal ini akan menentukan arah kerja, besarnya upaya, dan tingkat resiko yang akan diambil seorang pemimpin di dalam pekerjaannya.

 

Ketiga, seorang pemimpin juga perlu peka terlebih dahulu pada kadar harga diri dan gambar dirinya.

Keempat, ia perlu peka juga terhadap ambisi dan kebutuhan diri pribadinya.

Keseluruhan kepekaan tadi akan membuatnya peka terhadap persepsinya sendiri dibandingkan dengan realitas yang ditangkap oleh persepsi itu.

 

 

 

D1. Peka pada apa yang bernilai bagi diri sendiri

 

Memahami nilai-nilai

Nilai-nilai adalah hal-hal yang teramat penting dan berharga untuk seseorang pemimpin yang ingin dicapainya dalam hidup. Hal yang paling bernilai bagi seorang pemimpin tertentu mungkin adalah memiliki kekayaan karena kekayaan membuatnya merasa aman dan terjamin dalam hidupnya. Yang lain mungkin berpendapat bahwa hal yang paling bernilai adalah menaklukkan saingan-saingannya, menjadi nomor satu. Ada pula orang yang mengejar popularitas, karena dapat membuatnya merasa unggul dibandingkan dengan orang lain dan keunggulan tadi merupakan hal yang paling bernilai baginya.

 

Meskipun nilai berbeda-beda, semua orang memiliki kesamaan, yaitu mereka berani mempertaruhkan tenaga, waktu, pikiran atau harta demi mengejar apa yang dianggapnya bernilai itu. Nilai mempengaruhi sikap dan perilaku seorang pemimpin. Nilai-nilainya mempengaruhi secara langsung sensitivitasnya sebagai pemimpin karena nilai-nilai dapat membuatnya peka pada keragaman nilai dan perilaku yang ada serta interaksinya, namun nilai-nilainya dapat pula membuatnya tidak peka bahkan berprasangka pada perilaku, sikap dan nilai yang berbeda dengan apa yang ia miliki.

 

Pernahkah Anda mendengar bagaimana seorang menemukan sebuah intan di ladang sewaan yang digarapnya? Ia menjual seluruh harta bendanya untuk membeli ladang itu. Baginya intan tersebut sangat bernilai, bahkan ia rela mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya.

 

Berbagai peneliti telah menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal apa saja yang dianggap bernilai oleh manusia. Ada yang memberikan ratusan jenis nilai sebagai nilai-nilai yang ada di tengah masyarakat manusia. Ada pula yang hanya membatasi sampai beberapa puluh. Muncullah berbagai teori nilai.

 

Penelitian yang cukup dikenal menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat empat nilai pokok yang menjadi pengarah hidup manusia. Selanjutnya berawal dari keempat pokok nilai tersebut, muncullah sepuluh nilai yang dianut manusia. Bersama dengan gambaran tentang dunia, nilai-nilai menjadi akar dari perilaku seorang pemimpin.

 

 

 

 

 

 

Perilaku

 

 

 

Nilai-nilai seseorang

 

Definisi dari Kluckhohn menggambarkan bahwa nilai, selain mewakili keunikan individu, juga dapat mewakili keunikan suatu kelompok tertentu. Misalnya, orang Jawa disebutkan sebagai kelompok yang sangat menekankan harmoni dan kesantunan sebagi nilai utama mereka. Selain itu disebutkan bahwa ada nilai-nilai universal, artinya di mana pun serta kapan pun sesuatu hal dapat dianggap bernilai.

 

Seorang ahli bernama Rokeach pada tahun1973 berhasil menentukan pondasi dari pemahaman modern tentang nilai. Dengan tegas ia menyatakan bahwa asumsi dasar dari konsep nilai adalah bahwa setiap orang, di mana saja, memiliki nilai-nilai yang sama, tapi dengan derajat yang berbeda (menunjukan penegasan terhadap konsep universalitas nilai). Penelitian yang paling komprehensif tentang nilai-nilai yang universal (dalam arti terdapat di mana saja di semua budaya) dimulai oleh Schwartz dan Bilsky pada tahun1987. Mereka mulai mencari nilai apa yang universal dari 44 negara, dengan sample di masing-masing negara berkisar antara 154 sampai 542 orang.

 

Untuk memahami pengertian nilai secara lebih dalam, berikut ini akan disajikan sejumlah definisi nilai dari beberapa ahli.

 

Nilai adalah keyakinan yang langgeng dari seseorang bahwa suatu jenis keberadaan atau keadaan yang diharapkan secara pribadi maupun sosial dianggap lebih diinginkan daripada jenis keberadaan yang bertentangan dengannya.

(Value is an enduring belief that a spesific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence) (Rokeach, 1973: halaman 5)

 

Nilai adalah keyakinan umum tentang cara-cara dan tujuan-tujuan yang diinginkan (Value is a general beliefs about desireable ways of behaving and about desirable or undesireable goals or end-state) (Feather, 1994: halaman 1884)

 

Nilai adalah tujuan transisionil yang diinginkan meskipun tingkat kepentingannya berbeda-beda. Nilai menjadi pedoman dalam hidup seseorang atau sosial. (Value as desireable transsituational goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of a person or other social entity) (Schwartz,1994: halaman 21)

 

Lebih lanjut Schwartz pada tahun 1994 juga menjelaskan bahwa nilai adalah: suatu keyakinan, berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, melampaui atau tidak dibatasi oleh situasi tertentu, mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.

 

 

Berdasarkan beberapa definisi di atas, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai yaitu: suatu keyakinan yang berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi, disimpulkan bahwa hal-hal yang dianggap bernilai ini adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan oleh seorang pemimpin. Tatanan nilai tadi, baik pribadi maupun kelompok, digariskan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.

 

Dari hasil penelitiannya di 44 negara, Schwartz pada tahun 1994 berhasil menggali 10 tipe nilai yang dianut oleh manusia, termasuk para pemimpin yaitu:

 

Kuasa (Power)

Pemimpin yang memegang nilai ini menganggap bahwa apa yang paling bernilai bagi mereka adalah memiliki pengaruh pribadi. Dasar dari nilai ini adalah kebutuhan untuk memiliki dominasi dan kontrol. Tujuan utama pemimpin yang mementingkan nilai ini adalah pencapaian status sosial dan prestise, serta memiliki kontrol atau dominasi terhadap orang lain atau sumber daya tertentu. Nilai spesifik yang mendapat urutan tinggi bagi mereka adalah kuasa sosial, wewenang, kekayaan, pandangan sosial, dan penghargaan masyarakat.

 

Pencapaian (Achievement)

Pemimpin yang memegang nilai ini mengganggap bahwa mencapai sesuatu hal secara sengaja merupakan keutamaan. Dengan kata lain, bagi mereka hal yang penting adalah pencapaian dengan menunjukkan kompetensi sesuai standar sosial. Unjuk kerja yang kompeten nilai tertinggi bagai mereka. Secara khusus, orang yang menganut nilai ini mengejar sukses, dan kapabilitas.

 

Kenyamanan-kenikmatan (Hedonism)

Pemimpin yang menekankan nilai ini sangat memperhatikan kebutuhan dan kenikmatan fisik. Mereka yang sangat mementingkan nilai ini mengutamakan kesenangan, kenyamanan, dan kepuasan untuk diri sendiri.

 

Rangsangan (Stimulation)

Pemimpin yang menekankan tipe nilai ini memiliki kebutuhan akan variasi dan rangsangan untuk menjaga agar aktivitasnya tetap pada tingkat yang optimal. Rangsangan biologis dianggapnya perlu untuk mempengaruhi variasi kebutuhan, ditambah pengaruh pengalaman sosial. Tujuan pencapaian hidup bagi mereka adalah kegairahan dan mencari tantangan dalam hidup. Pemimpin yang memiliki nilai ini sering muncul sebagai orang yang ingin memiliki variasi, hidup yang menarik dan keberanian bertualang.

 

Pengarahan diri sendiri (Self-direction)

Bagi pemimpin yang memiliki nilai ini, tujuan utama yang dikejarnya adalah memiliki pikiran dan tindakan yang tidak terikat (independen), seperti memilih, mencipta, menyelidiki secara kreatif. Self-direction bersumber dari kebutuhan akan kontrol dan penguasaan (mastery), serta kebebasan berinteraksi dan ketidakterikatan. Wujud dari hal-hal yang mungkin dikejar pemilik nilai ini adalah kreativitas, keingintahuan, kebebasan, pemilihan tujuan sendiri serta keleluasaan.

 

Universalisme

Pemimpin yang memiliki tipe nilai ini menekankan kematangan dan tindakan prososial, artinya hal-hal yang membuat umat manusia menjadi semakin berkualitas. Mereka mengutamakan pentingnya saling menghargai, toleransi, memahami orang lain, dan perlindungan terhadap kesejahteraan umat manusia. Pemimpin yang memiliki tipe nilai ini menganggap amat bernilai untuk berpikiran luas, serta mencipta keadilan, kesamaan, kebijaksanaan, dan keseimbangan diri.

 

Kebajikan (Benevolence)

Pemimpin dengan nilai kebajikan ini mirip dengan mereka yang menekankan tindakan prososial. Bila mereka yang prososial menekankan kepada kesejahteraan semua orang di semua kondisi, penganut nilai kebajikan mengarahkan tindakannya kepada orang lain yang dekat dengannya. Nilai ini dapat berasal dari dua macam kebutuhan, yaitu kebutuhan interaksi yang positif untuk mengembangkan kelompok dan kebutuhan sebagai organisme untuk berafiliasi. Motivasi pemimpin dengan tipe nilai ini adalah peningkatan kesejahteraan individu yang terlibat dalam kontak personal yang intim dengannya. Mereka akan suka membantu, serta menekankan kejujuran, pengampunan, kesetiaan, persahabatan dan kasih yang dewasa, namun ditujukan hanya pada kalangan dekat saja, seperti teman, keluarga, dan warga dari suku yang sama serta agama yang sama.

 

Tradisi (Tradition)

Setiap kelompok masyarakat mengembangkan simbol-simbol dan tingkah laku yang merepresentasikan pengalaman dan nasib mereka bersama. Sebagian besar tradisi diambil dari ritus agama, keyakinan, dan norma bertingkah laku. Pemimpin yang menekankan nilai tradisi bertujuan untuk menjaga adanya penghargaan, komitmen, dan penerimaan terhadap kebiasaan, tradisi, adat istiadat, atau agama. Mereka menekankan sikap rendah hati, pengabdian, menerima posisi hidup, jalan tengah, serta hormat pada tradisi.

 

Konformitas

Tujuan dari pemimpin yang mementingkan tipe nilai ini adalah pembatasan terhadap tingkah laku dan kungkungan terhadap dorongan-dorongan individu yang dipandang tidak sejalan dengan harapan atau norma sosial. Mereka berusaha untuk mengurangi perpecahan sosial saat interaksi atau ketika fungsi kelompok tidak berjalan dengan baik. Pemimpin yang menekankan nilai ini mengutamakan kesopanan, kepatuhan, penghormatan pada orang tua, serta disiplin diri.

 

Keamanan (Security)

Tujuan pemimpin dengan nilai ini adalah mengutamakan keamanan, harmoni, stabilitas masyarakat, hubungan antar manusia, dan hubungan dengan diri sendiri. Asal nilai ini merupakan pencapaian dari dua minat, yaitu minat sebagai individual dan sebagai bagian dari komunitas. Wujud nilai khusus yang termasuk tipe nilai ini adalah keamanan nasional, tatanan kemasyarakatan, kebersihan, kesehatan, saling membantu, keamanan keluarga, dan rasa tergabung/berafiliasi.

 

Keseluruhan nilai-nilai tadi masih dapat diklasifikasikan dengan lebih sederhana:

1. Nilai-nilai yang menekankan keluhuran

2. Nilai-nilai yang menekankan tradisi dan kelanggengan

3. Nilai-nilai yang menekankan keunggulan dan

4. Nilai-nilai yang menekankan ekplorasi.

 

Apa gunanya pemetaan di atas? Pertama, untuk memperjelas nilai yang dianut seorang pemimpin. Dengan jelas dimana ia berdiri ia dapat menjadi peka atas biasnya dan bias orang lain. Pemimpin yang memiliki sensitivitas adalah orang yang tahu dengan jelas nilai-nilai yang dianutnya dan bersedia untuk merombaknya dimana perlu. Ia dengan mudah juga menjadi peka atas nilai-nilai yang dimiliki orang lain, baik nilai yang berbeda maupun yang sama dengan nilai-nilai yang ia anut.

 

 

Bagaimana hubungan antara nilai dengan gambar diri atau gambar tentang dunia? Mungkin skemanya adalah sebagai berikut. (lihat di papan tulis) Gambar di atas merupakan perluasan teori yang dibuat pada tahun 1994. Terlihat pada skema di atas adanya empat jenis gambaran orang tentang dunia, seiring dengan empat jenis gambar diri, serta 10 macam nilai.

 

 

 

D2. Peka pada harga diri

 

Harga diri

Gambaran tentang dunia dan nilai akan menentukan sensitivitas seorang pemimpin. Namun masih ada hal lain yang ikut berpengaruh, yaitu gambar diri dan harga diri. Gambar diri adalah pemahaman pribadi akan diri seseorang yaitu hal-hal apa yang akan membuatnya semakin merasa berharga atau tidak. Gambar diri ini juga akan mempengaruhi konsep seorang pemimpin mengenai harga dirinya. Bila ia menggambarkan dirinya sebagai seorang cendekiawan, hal-hal yang meningkatkan harga diri ini mungkin adalah buku-buku yang dibaca dan ditulisnya, seminar yang dihadiri, dan riset-riset yang telah ia lakukan.

 

Harga diri mempengaruhi seorang pemimpin dalam menentukan hal-hal yang di-anggapnya mempermalukan dirinya atau sebaliknya hal-hal yang membuatnya merasa semakin dihormati. Dalam bentuk yang sempit, seringkali harga diri merupakan hal yang sangat subyektif atau primordial. Akibatnya, orang yang memiliki konsep harga diri yang sempit mudah tersinggung, siap mati, dan mengadu nyawa demi menjaga harga dirinya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang arif dan memiliki konsep gambar diri yang luas, melihat bahwa kemampuan untuk berlaku bijak merupakan hal utama dalam menambah harga dirinya.

 

Bagi orang yang mengerti peranan diri dan statusnya dalam dunia, faktor-faktor pendukung peningkatan harga dirinya tidak akan sama dengan orang lain. Harga diri yang sempit merupakan batasan konsep yang ditentukan persepsi pemiliknya terhadap sikap orang lain padanya, sedangkan harga diri yang luas ditentukan oleh kendali kejiwaan pribadi orangnya.

 

 

D.3 Peka pada kebutuhan dan ambisi

 

Kebutuhan dan Ambisi

Kebutuhan adalah kesenjangan antara persepsi akan kondisi yang seharusnya dibandingkan dengan keadaan nyata. Atas pengaruh harga diri, dapat timbul kebutuhan bendawi atau kebutuhan emosional, kebutuhan pengalaman tertentu, dan kebutuhan spiritual yang bila dicapai akan memperkuat harga diri tadi. Dengan demikian, sebagian besar kebutuhan dipengaruhi harga diri. Namun, perlu dicatat bahwa dua orang yang memiliki konsep harga diri identik dapat memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Contohnya, seorang pematung dapat memiliki kebutuhan membeli sanggar, sedangkan pematung lain lebih memiliki kebutuhan untuk membeli buku-buku tentang mematung. Suatu kebutuhan dapat menghasilkan beberapa jenis ambisi. Misalnya seorang pemimpin yang ingin menolong orang lain atau menekankan nilai universal, ia dapat memiliki ambisi membuat sebuah panti anak-anak yatim piatu, atau dapat juga ia memiliki ambisi membuat sebuah sekolah murah. Pengenalan akan ambisi seseorang akan menolongnya menjadi sensitif terhadap segala akibat dari ambisinya serta memampukannya mengenali ambisi orang lain juga.

 

Apakah ambisi itu? Ambisi akan terkait dengan makna hidup atau pemahaman tentang tujuan hidup.

Di atas sebuah kapal, seorang wanita bersandar ke pagar dan menatap ke laut yang terus dilalui kapal ini. Ia merasa bahwa hidupnya seperti setitik air di lautan luas–tak bermakna dan tanpa tujuan. Apa yang ingin dicapainya berakhir dengan kepahitan. Kini dengan kehilangan kekasih dan hartanya, sebagai orang yang tidak memiliki siapa-siapa, ia siap untuk menghadapi kematian. Hidup terlalu menyakitkan. Ketika semua penumpang lain sibuk dengan kenikmatannya sendiri di atas kapal pesiar tadi, sang wanita melangkahi pagar kapal dan terjun ke laut yang dalam dan siap untuk mati. Tiba-tiba, didengarnya teriakan dan suara orang melompat ke dekatnya. Seorang pria dengan jas lengkap terjun dan berusaha menyelamatkannya. Belum sempat sang pria mendekat padanya, sang wanita melihat pria tadi mengalami kram di perutnya. Kini, sang wanita itulah yang mati-matian berenang mendekati orang itu dan berusaha menyeretnya ke kapal. Pria calon penolong yang kini ditolongnya membuat saat-saat kritis dari hidupnya bermakna penuh. Sejam kemudian, di atas kapal, sang wanita mendengar dari pria itu bahwa ia terjun hanya karena dorongan sesaat dan tanpa memperhitungkan bahwa ia tidak cukup pandai berenang …

 

 

 

Wanita di dalam kisah di atas adalah seorang yang tidak memiliki ambisi apa pun karena hidupnya tidak memiliki tujuan dan makna lagi. Memiliki makna dan tujuan berarti memiliki keyakinan bahwa ada sesuatu yang pantas dicapai, dibangun, dan diubah. Selanjutnya, memiliki makna dan tujuan berarti memiliki keyakinan bahwa “saya termasuk, terkait, atau adalah bagian” dari apa yang kita yakini tadi. Hidup tidak lagi bermakna bila kita tidak lagi merasa bahwa kita merupakan bagian daripadanya. Biasanya orang-orang yang melakukan bunuh diri merasakan hal ini dengan mendalam. Ia merasa terpisah, jauh, atau terlepas dari masyarakat. Martin Luther King Jr., sang pejuang persamaan hak kaum kulit berwarna di Amerika mengatakan bahwa, “Bila seseorang tidak lagi memiliki sesuatu yang untuknya ia rela mati, pada dasarnya ia tidak lagi cocok untuk hidup”.

 

Merasa menjadi bagian dari hidup ini berarti yakin bahwa hidup ini masih dapat memberikan tiga hal yaitu;

pertumbuhan,

kegairahan, dan

hal baru

bagi diri pemimpin.

 

Dari ketiganya, muncullah impian dan ambisi. Munculnya ambisi yang dimiliki seseorang terkait dengan tatanan kebutuhan-kebutuhan yang ia miliki. Abraham Maslow dan McGregor menjadi nama yang sangat terkenal dalam menjelaskan tatanan kebutuhan-kebutuhan manusia, baik kebutuhan jasmani yang bersifat dasar, kebutuhan untuk rasa aman, kebutuhan tergabung dalam suatu kelompok atau kebutuhan untuk diterima, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk mewujudkan seluruh potensi dirinya. Seluruh kebutuhan di atas senantiasa hadir, namun intensitasnya berbeda sehingga komposisinya menghasil-kan berbagai bentuk ambisi yang berbeda.21

 

Kebutuhan sendiri muncul dari konsep seseorang tentang hal-hal yang menambah atau mengurangi harga dirinya, sedangkan harga diri ini berakar pada gambar dirinya, bahkan lebih dalam lagi berakar pada tata nilainya. Seseorang yang menggambarkan dirinya sebagai artis, akan memiliki kebutuhan untuk menghasilkan karya seni, karena akan meningkatkan penghargaan bagi dirinya sendiri. Seorang yang merasa dirinya ksatria modern mungkin memiliki kebutuhan untuk mengalah-kan lawan yang jahat. Gambar diri pun disertai dengan nilai-nilai: hal-hal yang dianggap berharga, luhur, dan paling penting untuk dimiliki atau dikejar di dalam hidup ini. Contoh nilai-nilai keadilan, kerapihan, kenyamanan, keamanan, atau keteraturan dan pertumbuhan. Seseorang yang memegang nilai keamanan dan menggambarkan dirinya sebagai orang yang papa, mungkin memaksa diri mencari uang. Sebagai ambisinya, mungkin ia ingin menjadi pialang saham yang kaya.

 

 

Ambisi Sehat dan Tak Sehat

Sebuah cerita legenda tua mengenai Raja Midas mengimplikasikan ambisi yang tidak sehat. Sang raja memiliki kemampuan membuat apa saja yang disentuhnya akan menjadi emas. Dengan kemampuan itu, ia mengembangkan ambisi untuk menjadi orang yang terkaya di dunia. Tiba-tiba, tanpa sengaja putrinya datang dan memeluknya. Sang buah hatinya pun tersentuh. Tak pelak lagi, sang putri berubah menjadi patuh emas.

 

Ambisi yang sehat adalah ambisi yang bila tercapai menghasilkan hal yang baik, tidak hanya bagi sebagian besar anggota masyarakat, tetapi juga bagi si pemilik ambisi tadi. Ambisi yang sehat juga merupakan ambisi yang sesuai dengan kodrat manusiawi

 

Kodrat manusia, hadir di dunia untuk memenuhi suatu tugas tertentu yang diberikan Penciptanya, merujuk pada pemberianNya akan pemenuhan sebuah proses, yaitu transformasi, sebagaimana telah dijelaskan di awal tulisan ini. Sebaliknya suatu ambisi yang tidak sehat seringkali menghasilkan efek samping yang merugikan semua pihak, bahkan mencegah tugas tadi terselesaikan. Akibatnya, orang yang ia sayangi atau masyarakat di sekitarnya menjadi penderita efek samping tadi, entah berupa stagnasi, atau kehancuran.

Peka pada Keserasian Kebutuhan dengan Gambar diri

Setelah mengetahui pola gambar diri, nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan, banyak hal telah menjadi jernih. Namun, kita perlu menguji keserasian gambar diri dan kebutuhan-kebutuhan tadi. Seorang yang menggambarkan dirinya sebagai orang yang kekurangan, perlu memilikikebutuhan ala kadarnya. Seorang yang menggambarkan dirinya sebagai petualang, perlu memiliki kebutuhan untuk selalu keluar dari ruang nyamannya.

Pakhom, seorang petani di Rusia merasa jengkel karena orang lain lebih berhasil daripadanya. Ia merasa dirinya sangat miskin. Rumahpun tidak dimilikinya. Seringkali ia mengeluh, “Kalau saja ia memiliki sepetak tanah dan bukan hanya bekerja sebagai penggarap ladang orang …” Aku ingin punya rumah.

Pada suatu hari, tuan tanah setempat mendengar mengenai keluhan Pakhom. Dipanggilnyalah petani itu. Diajaknya ia berkuda sampai di sebuah bukit.

“Pakhom, maukah engkau kuberi sebidang tanah sehingga kau mencapai apa yang menjadi keinginanmu?”

Pakhom terkejut meskipun semula memang sudah mencoba menduga mengapa sang tuan tanah mengajaknya. Cepat-cepat ia menjawab, “Tentu saja saya mau, tapi apakah yang harus kulakukan untuk tuan sebagai bayarannya?”

Tuan tanah tadi tertawa dan berkata, “Tidak perlu bayar. Semuanya gratis. Asalkan kau berhenti mengeluh, hatiku sudah senang.”

Pakhom tersenyum lebar dan ebrlutut sertra mengucap syukur. , “Tuan, terima kasih, saya memang orang yang miskin, namun kini tuan akan membuat saya hidup wajar. Terima kasih, sekali lagi. Bolehkah ku tahu berapa besar tanah yang akan kudapat?”

Tuan tanah itu menunjuk ke bawah bukit. “Buatlah lingkaran dengan berlari mengitarinya. Tanah yang kau kitari akan menjadi milikmu. Kau boleh mulai dari mana saja dan membuat lingkaran sebesar apa pun, sekuat kau berlari. Tapi bila matahari tenggelam, kau harus sudah tiba kembali di titik mulaimu.”

Pakhom mengangguk. Ia menyadari bahwa hari ini kemiskinannya berakhir. Ia akan meiliki sebuah rumah. Mulailah ia berlari sambil bersyukur… Makin lama semakin jauh. Lambat laun terpikir olehnya untuk berlari sejauh mungkin sehingga ia akan mendapatkan tanah sebesar lima belas hektar. Semakin jauh ia berlari semakin ia menyadari bahwa kesempatan serupa ini tidak akan muncul dua kali dalam hidupnya. Ia pun berlari semakin jauh. Akhirnya, ia sadar bahwa matahari mulai turun sehingga ia mulai memutar dan kembali ke arah semua. Namun, kini ia sadar bahwa jarak yang harus di tempuh ke titik awalnya masih jauh dan belum tentu ia akan mampu mencapainya sebelum matahari terbenam. Pakhom mulai mempercepat larinya dan terus semakin cepat karena ternyata benar-benar jarak yang masih harus ditempuhnya lebih jauh dari perkiraannya.

Semakin turun matahari, semakin terengah-engah larinya. Matanya berkunang-kunang padahal jarak yang harus ditempuh masih ada sekitar tiga kilometer lagi. Ketika matahari nyaris turun sepenuhnya, ia berada seratus meter dari titik berangkatnya, tersungkur, dan meninggal. Ia mengejar lima belas hektar dan mendapat hanya 2 x 1 meter persegi sebagai kuburannya …

Sukses tidak diperoleh dengan jalan pintas. Pohon jati tidak akan menjadi jati yang baik dengan waktu yang pendek, berbeda dengan pohon pisang yang hanya perlu tiga bulan dan kemudian mati. Arus listrik juga mencari jalur yang

 

paling tidak memberikan tahanan atau rintangan. Namun, berpijarnya bola lampu justru terjadi karena arus listrik itu dialirkan dengan sengaja ke kawat tungsram yang memberikan hambatan yang paling tinggi bagi si arus. Gambar diri yang kokoh harus disertai dengan ambisi dan perilaku yang selaras dengannya dan terus menerus diteliti.

 

Ketika Og Mandino, seorang penceramah terkenal berlibur di antara sungai Euphrat dan Tigris, penunjuk jalannya menyampaikan sebuah cerita. “Mohon Anda dengarkan baik-baik, tuan. Kenapa? Karena cerita ini sudah berumur ribuan tahun dan hanya saya sampaikan pada teman-teman dan orang yang khusus”.

 

Konon ada seorang Persia yang bernama Ali Hafed. Ia memiliki sebuah rumah yang indah dan taman yang amat luas. Uangnya ada di mana-mana dan ladang-ladangnya memberinya panen yang luar biasa. Ia berbahagia dalam hidup dengan kekayaannya.

 

Pada suatu hari seorang pendeta yang bijak dari Timur mengunjungi Ali dan bercakap-cakap. Sang pendeta juga menjelaskan bagaimana dunia dijadikan dan makna hidup. Percakapan di ruang tamu Ali Hafed berlangsung serius. Ketika menjelaskan asal mula dunia, sang pendeta juga menjelaskan bahwa intan adalah sejenis batu mulia yang berasal dari sinar matahari yang membeku. Sang pendeta melanjutkan bahwa sebutir intan sebesar telur puyuh dapat membeli sebuah kota; dan bila seseorang memiliki tambang intan, ia akan dapat meletakkan anak-anaknya di singgasana kerajaan.

 

Mendengar cerita itu, Ali tidur dengan tidak nyenyak. Pertama kalinya ia merasa tidak berbahagia dan betapa miskin dirinya. Ia menginginkan tambang intan dalam khazanah miliknya.

 

Pagi-pagi benar, didatanginya sang pendeta dan bertanya “Dimanakah saya dapat menemukan tambang intan yang Bapak ceritakan?”

“Wah, sulit. Anda harus mencarinya,” jawab sang pendeta.

Ali pun menjual harta miliknya dan berangkat dengan kafilah yang besar. Ia mulai perjalanannya ke arah Gunung Bulan yang mestinya mengandung intan. Setelah gagal di sana,

 

ia berangkat ke Palestina, kemudian ia mengembara ke daerah yang kini dikenal dengan nama Eropa. Sepuluh tahun berlalu, hampir semua uangnya habis, ia tiba di Barcelona, Spanyol. Di antara pilar-pilar Herkules, petani ini mati dengan menerjunkan diri ke air pasang.

 

Og Mandino mendengar cerita itu lalu bertanya, “Mengapa cerita ini hanya Anda sampaikan kepada teman-teman khusus Anda?” Tanpa melihat wajah Og, sang penunjuk jalan melanjutkan ceritanya.

 

 

“Ketika pembeli taman milik Ali Hafed membawa untanya yang ingin minum ke sebuah sungai kecil di tanah Ali, ia melihat sesuatu yang gemerlap di dasar sungai: sebuah intan sebesar telur burung puyuh. Keesokan harinya ia memeriksa kembali sungai itu dengan seksama bersama dengan sang pendeta yang dulu mampir di rumah Ali Hafed. Mereka menemukan beberapa batu-batuan yang sang pendeta pastikan sebagai intan. Itulah asal mulanya tambang intan Golconda yang menghasilkan intan-intan besar yang lebih bermutu daripada intan Kohinoor sekalipun.

 

Si penunjuk jalan memberi komentar, “Kalau saja Ali Hafed tidak langsung pergi namun memeriksa dulu miliknya …”

Kini Og Mandino memahami mengapa cerita ini ditujukan hanya pada teman-teman baik si penunjuk jalan. Ia mengajak tamunya untuk mengenali diri mereka, budaya mereka, dan kekayaan hidup di negeri asal mereka sebelum pergi ke tengah budaya orang lain. Memang, perjalanan yang terjauh dan tersulit adalah perjalanan ke dalam diri sendiri.

Demikian juga dengan ambisi, sebelum mencari contoh teladan orang yang berambisi dan berhasil, atau mencari berbagai ilmu tentangnya, terlebih dulu kita perlu memeriksa diri atas semua pemberian yang sudah dimiliki dan yang masih belum lengkap, serta arah yang Sang Pencipta ingin kita tempuh.

 

E. Pendekatan Sistem dan kepemimpinan

 

Di tepi desa, seorang anak remaja melihat beberapa ruas bambu, seutas tali dan sepotong bila bambu besar. Anak ini tidak hanya memandang kumpulan benda-benda tadi sebagai hal yang terpisah-pisah. Ia mulai memotong bilah bambu tadi. Dibelahya bambu tadi hingga ia mendapatkan sebilah bambu sepanjang satu meter setengah dengan lebar empat sentimeter. Setelah selesai dengan bambu itu, ia memuntir seutas tali yang panjang menjadi tali yang lebih tebal. Kemudian masing-masing ujung bilah bambu tadi diikatnya dengan sang tali sehingga bambu tadi agak melengkung. Ia masih belum selesai dengan pekerjaannya. Ia mengambil sisa bambu dan merautnya. Tak lama kemudian memiliki sebuah busur dan anak panahnya. Anak ini membuktikan bahwa ia dapat menciptakan suatu sistem dengan menghubungkan komponen-komponen yang ada padanya secara khas.

 

Sistem memang dapat dicipta dan dapat ditemukan dimana-mana. Sebuah mobil adalah sebuah sistem dengan ratusan ribu komponen. Sebuah pesawat televisi. Demikian juga dengan sekumpulan pedagang di pasar, sebuah organisasi, suatu gereja, atau sebuah negara. Pertanyaan besar adalah apa yang harus kita lakukan dengan sistem tadi?

 

Di dalam suatu peristiwa, seorang pemimpin menghadapi situasi pengambilan keputusan. Di dalam pabrik yang dipimpinnya ditemukan genangan oli di antara rangkaian mesin-mesin besar yang menghasilkan sebuah benda. Wakilnya meminta anak buahnya membersihkan oli tadi. Namun sang pemimpin bertanya sebelum hasl tadi dilaksanakan. “Dari mana asalnya oli tadi?” Orang menjawab bahwa oli tadi adalah hasil kebocoran dari sebuah mesin. Kembali sang pemimpin bertanya “Mengapa mesin tadi bocor?” Terhadap hal itu ia mendapatkan jawab bahwa mesin tadi sudah bocor sejak awal pemasangannya karena gasket nya bocor. Kini ia bertanya kembali mengapa gasket tadi bocor. Dalam hal ini sang pemimpin tidak segera mengambil keputusan namun mencoba melihat genangan olie sebagai suatu hasil dari rangkaian komponen atau urusan yang tidak terlihat. Ia melakukan apa yang disebut sebagai pemetaan hubungan kausal atau sebab akibat. Ia memeriksa komponen-komponen dari sistem pabriknya dan melakukan peningkatan.

 

Ketika memimpin orang banyak, seorang pemimpin tentu menghadapi berbagai-bagai masalah, kebutuhan orang, idam-idaman dan berbagai hal yang tak terduga. Dengan mudah seorang pemimpin tenggelam dalam hal-hal rumit serupa tadi. Seringkali ia menjadi seperti seorang buta yang coba memahami seekor gajah dengan memegang belalainya saja. Ia tidak lagi berhasil menggerakkan diri dan pengikutnya menuju visi mereka, bahkan ia mudah menjadi skeptis dan apatis. Visinya pun mulai dilupakan dan pudar, maka kebersamaan mereka akan kehilangan dinamikanya dan diisi dengan kepahitan dan kebosanan. Sang pemimpin tidak lagi mengejar impian karena ia gagal melihat hal-hal besar dan kaitan berbagai faktor kecil dalam urusan dia dalam suatu kerangka pikir.

 

Seorang pemimpin yang handal memerlukan kemampuan menggunakan kerangka pemikiran dan pendekatan sistem. Artinya ia memiliki kemampuan menggunakan kerangka pemikiran tertentu di dalam menghadapi kerumitan. Dalam upaya memahami kerumitan tadi seringkali pemimpin memiliki beberapa pilihan.

 

Pertama, ia membuat gambaran mental yang sangat sederhana tentang kerumitan tadi. Akibatnya ia jatuh ke dalam simplisitas yang lewat batas dimana segala hal dilihat secara sangat sederhana. Contohnya, banyak pemimpin di jajaran kepolisian jatuh ke dalam penyederhanakan masalah narkoba. Mereka menganggap bahwa penggrebekan di daerah mereka akan menekan arus jual beli narkoba di sana. Sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya. Bila penggrebekan narkoba terjadi, maka di daerah tadi terjadi kelangkaan barang atau supply sedangkan tingkat permintaan dan kebutuhannya tetap. Akibatnya, harga meningkat. Dengan meningkatnya harga maka para penyalur dari daerah lain mengirimkan barang dalam jumlah besar karena akan mendapatkan laba yang lebih besar dari laba di daerahnya sendiri. Selanjutnya, sampai akhirnya harga menurun kembali, maka proses jual dan beli narkoba di daerah tersebut tetap tinggi.

 

Pilihan kedua adalah seorang pemimpin mencoba menangani kompleksitas dalam tugasnya dengan mengadakan percakapan ilmiah dan pendekatan interdisipliner. Ia ingin mendapatkan akurasi yang tinggi tentang apa yang dihadapinya sebelum ia mengambil keputusan-keputusan. Akibatnya, waktu dan enerji akan banyak dituangkan hanya untuk menjelaskan kompleksitas tadi dan berakhir dengan rasa tidak berdaya. Situasi Indonesia pada masa kini mencerminkan hal tadi. Pilihan ketiga adalah pemimpin menggunakan pendekatan sistem atau analisis dinamika sistem, suatu cara yang memberikan kejelasan namun merangkum semua faktor yang berperan dalam kerumitan yang ada. Selain itu kelemahan pendekatan serupa itu adalah rendahnya tingkat kecepatan pengambilan keputusan untuk dunia yang semakin cepat dan rumit.

 

Jadi kini tersisa pilihan pendekatan sistem atau kerangka pikir sistem. Apakah sistem itu? Bagaimana menciptanya, bagaimana memelihara, dan bagaimana mengenalinya? Lebih penting lagi, bagaimana menangani berbagai urusan kepemimpinan dalam kaitan dengan sistem?

 

Suatu sistem adalah penggabungan dari berbagai komponen. Suatu permainan sepak bola, misalnya memiliki berbagai komponen baik manusia dan benda serta metode misalnya, pemain, penonton, wasit, penjaga garis, kemudian bola, gawang, lapangan, kursi penonton, bendera, pluit, baju seragam, bahkan juga cara memberikan imbalan, aturan-aturan pertandingan, metode menyerang, dan sebagainya. Komponen-komponen tadi bergerak bersama.

 

Suatu sistem juga adalah kaitan-kaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya. Lebih daripada itu tiap kaitan akan menghasilkan suatu dinamika yang berbeda-beda. Seorang yang mempelajari sistem dinamika akan belajar mengenali struktur, pola-pola dan pengaruh dari kaitan-kaitan di dalam suatu sistem. Contoh yang paling jelas adalah dengan mengamati dua kelompok manusia yang masing-masing terdiri dari 50 orang yang tinggal bersama. Kedua kelompok tadi sama-sama memiliki sebidang tanah, modal kerja, senjata, teknologi, dan komposisi pria-wanita yang sama. Satu-satunya yang membedakan adalah bahwa di dalam kelompok yang pertama mereka yakin bahwa ada orang yang harus dijadikan pemimpin mereka karena orang tadi dianggap lebih luhur dan memiliki nenek moyang yang bangsawan. Sementara itu di kelompok yang lain, kepemimpinan dipilih berdasar pada kemampuan seseorang dan penerimaan orang banyak kepadanya, sehingga status dan tanggung jawab ini bersifat sementara. Kedua kelompok akan menghasilkan dua jenis struktur dan pola hubungan yang berbeda, serta mungkin pengaturan pembagian ruang tinggal dan tata krama berpakaian.

Suatu sistem dapat terdiri dari suatu komponen tunggal atau terdiri dari berbagai sub sistem atau kumpulan komponen. Selain itu komponen-komponen di dalam sistem membentuk suatu batas yang membedakan sistem tadi dengan lingkungannya, sama seperti kulit memisahkan seseorang dari orang lain atau masyarakat. Contoh yang jelas adalah di sebuah rumah susun. Di rumah susun tadi tinggal sekelompok pengusaha muda yang masih lajang serta sekelompok pekerja yang sudah bekeluarga. Dalam waktu pendek kedua kelompok tadi membentuk pola hubungan yang terpisah.

Para lajang seringkali bepergian bersama di malam hari, sedangkan para ibu dan bapak rumah seringkali hanya mengobrol dengan tetangga di lingkungan rumah susun itu. Bila ada bapak-bapak yang berusaha ikut dalam acara bepergian di malam hari tadi, terasa bahwa kehadiran mereka tidak disambut hangat atau sekurangnya ditolerir.

 

Suatu sistem juga memiliki identitas, stabilitas terhadap perubahan dan tujuan. Pengalaman penulis tinggal bersama untuk waktu pendek di antara penghuni rumah kumuh sepanjang Tanah Abang Bongkaran di tahun 1974 menunjukkan bahwa para penghuni tidak mudah digusur atau digerebek. Berkali-kali tempat itu dibakar, penghuninya dipindahkan, serta mereka diberi tawaran untuk bertransmigrasi. Dalam

waktu pendek mereka kembali menghuni tanah kosong Bongkaran serta gerbong-gerbong kereta tua di dalamnya. Berbagai organisasi mencoba menolong mengangkat kehidupan disana, namun para penghuni tidak berubah banyak karena mereka mempertahankan kestabilan lingkungan masyarakat mereka tanpa banyak dirancang.

 

Akhirnya suatu sistem adalah sesuatu yang terus berubah karena adanya faktor waktu yang menimbulkan berbagai dinamika di dalamnya. Dalam dekade yang lalu, sebuah sekolah sebagai sistem, misalnya, mengalami berbagai perubahan. Guru tidak lagi berperan sebagai orang tua murid, namun menjadi pengajar profesional yang memberikan waktunya. Peran orang tua lebih menjadi konsumen yang berani membayar para profesional dan lingkungan asri bagi putera-puterinya. Sekolahpun tidak lagi menjadi penjaga nilai dan keluhuran bersama ilmu yang akan diwariskan antar generasi. Sekolah semakin mirip sebagai sebuah lembaga bisnis yang memenuhi kebutuhan konsumen demi terjadinya transaksi dan pertukaran yang saling menguntungkan. Untung uang dan prestise mereka memberikan ilmu dan pembekalan masa depan. Dengan demikian guru tidak lagi menjadi abdi ilmu dan abdi nilai luhur yang dihormati karena pengabdiannya, namun berubah menjadi para profesional yang digaji, yang dapat menuntut haknya dan dapat mengadakan tawar menawar. Sistem pendidikan berubah menjadi suatu hubungan yang tidak berbeda dengan suatu perusahaan.

 

Selain itu sebuah sistem juga mampu mengatur diri sendiri dan membuatnya terus hadir. Dalam suatu pelatihan misalnya, terhadap 50 orang yang berdiri dilemparkan sebuah bola volley yang harus terus diapungkan ke udara. Ke lima puluh orang tadi bergerak dan memukul serta berlari sehingga bola tadi tidak juga jatuh ke tanah. Mendadak sebuah bola lagi di masukkan ke tengah mereka, maka dengan sendirinya mereka mengatur diri sehingga ke dua bola tetap tertangani dengan baik. Mereka mengatur diri sendiri tanpa perjanjian terlebih dulu. Mereka menjadi suatu sistem yang menurut von Bertallanfy, seorang pakar, mempertahankan intergritasnya sendiri.

 

Dapat dicatat bahwa di dunia terdapat beberapa sistem yang menarik diteliti. Salah satunya adalah Sistem Pengiriman Pos sedunia. Walaupun terjadi perang atau bencana sekalipun, sistem ini tetap tegar dan melaksanakan fungsinya. Sistem ini juga menerobos batas etnis, kelas sosial, dan perbedaan sistem politik. Dalam keadaan perang sekalipun, perajurit di front terdepan masih menerima surat-surat dari keluarganya.

 

Seorang yang mempelajari pendekatan dan kerangka pikir sistem sebagai pemimpin akan memiliki hal-hal di bawah ini:

1. mampu menyadari bahwa ia memiliki kebebasan untuk bereksperimen dengan sistem karena tidak mungkin ia mampu membuat kendali dan pemetaan utuh dan menyeluruh tentang sistem

2. mampu membuat metafor, gambar, kiasan atau model mental dari hal rumit yang ia hadapi sehingga dapat menanganinya

3. mampu menghasilkan pemikiran yang dapat menggambarkan struktur interrelasi dari komponen-komponen sistem tadi

4. mampu membaca persepsi orang terhadap pengaruh-pengaruh yang ada atau komponen-komponen di atas

5. mampu mengenali tujuan dan arah gerak dari sistem tadi

6. mampu membaca dan memahami dinamika dari suatu proses misalnya, penundaan, feedback proses dan osilasi atau siklus

7. mampu membuat pengendalian secara terbatas terhadap apa yang berlangsung sebagai suatu sistem.

 

Dengan kata sederhana, pendekatan sistem adalah pendekatan yang berdasarkan kerendahan hati, yang memaksa manusia menggunakan nalar dan intuisi, serta menggunakan bahasa metafor serta bahasa artistik sekalipun.

 

 

 

 

Bagaimana membangun prasyarat kepemimpinan

 

Pertama-tama, sama seperti seorang yang belajar mengendarai sepeda. Ia cepat merasa bingung dan lepas kendali karena ada banyak komponen yang harus dikuasainya. Untuk setiap saat ia memfokus pada suatu komponen, komponen-komponen yang lain lolos dari perhatiannya. Seorang anak yang baru belajar naik sepeda dan berkonsentrasi hanya pada pedal, dengan mudah menabrak orang lain karena ia luput mengendalikan setir sepedanya.

 

Seorang yang akan memiliki kemampuan pendekatan sistem memang memerlukan beberapa sikap kepemimpinan serta skil kepemimpinan. Ia harus handal dalam teknik observasi, dalam berkomunikasi, serta membuat pemetaan proses serta mampu mengadakan pendekatan secara fleksibel, tanpa putus asa dan mampu mengendalikan respon otomatisnya. Dengan modal itu, ia perlu berupaya menggunakannya dalam memahami sistem di hadapannya. Namun setelah melakukan segala sesuatu sesuai dengan skil dan sikapnya, ia harus memasuki suatu tahap kedua.

 

Pada tahap kedua ini, ia perlu menyadari bahwa penguasaan pendekatan sistem harus dimulai dengan munculnya kesadaran pada mereka yang ingin belajar tentangnya bahwa tidak ada seorangpun yang mampu mencerna secara nalar, apalagi mengendalikan sistem yang sedang dihadapi. Semua skil, sikap dan pengalamannya tidak mencukupi dan patut diandalkan untuk memetakan kerumitan yang ada. Semakin dipetakan semakin banyak bagian esensial dari kerumitan tadi yang luput digambarakan. Kesadaran ini akan membuat ia merasa bebas untuk membuat eksperimen dan kesalahan.

 

Pada tahap ketiga, ia mulai menggunakan kemampuan bawah sadarnya atau kemampuan nalar yang tidak biasa. Ia berhenti berupaya mencerna secara nalar, namun menggunakan intuisinya dalam mengenali seluruh kerumitan yang ada. Penggambarannya tentang kerumitan yang ada mulai menggunakan metafor dan berbagai imajeri atau kiasan-kiasan. Ketika kata-kata dan bahasa terasa tidak cukup lagi memberikan akurasi tentang sistem, maka digunakan gambaran-gambaran yang lebih lentur. Kondisi serupa ini sama dengan sulitnya orang menjelaskan iman, cinta, dan kesepian dengan kata-kata biasa yang linear karena ketiga hal tadi sangat kaya dimensi.

 

Sekali lagi dapat ditekankan disini bahwa dalam pendekatan sistem, agar potensi bawah sadar tadi dapat dipergunakan, seseorang harus tiba terlebih dulu pada kesadaran bahwa tidak akan ada suatu pemahaman lengkap terhadap sistem tadi, karena baik sistem dan orang yang mencoba memahami terus berubah dan berinteraksi. Tujuan pendekatan sistem adalah untuk memahami lebih utuh dan menyeluruh suatu kerumitan.

 

Pada tahap keempat, dimana kesadaran nalar dan potensi alam bawah sadarnya terkait, mulailah muncul suatu kemampuan untuk memahami kerumitan yang ada. Jadi sangat penting untuk diterima kenyataan bahwa pendekatan sistem membutuhkan integrasi antara rasionalitas dan juga intuisi.

 

Penutup

 

Bagaimana menghasilkan suatu kepemimpinan yang memiliki keseluruhan hal di atas? Tidak lain dan tidak bukan, diperlukan suatu investasi waktu, perhatian, dana, upaya dan pemikiran serta doa terus menerus untuk memfasilitasi suasana agar orang dapat bertumbuh menjadi pemimpin sejati. Upaya serupa ini tidak dapat dilakukan sesekali atau secara dadakan, namun harus secara bertahap dan bertumbuh melalui modifikasi-modifikasi. Dengan demikian, selain belajar secara formil pemimpin dan calon pemimpin di konteks Indonesia perlu terus menerus berpartisipasi menghasilkan suasana belajar bersama untuk menghasilkan modal kepemimpinan yang seharusnya. Pemimpin akan sukses bila melihat suatu makna dan mempercayakan diri padaNya yaitu, ia akan disebut berhasil bila dirinya dan orang-orang di sekitarnya tumbuh sesuai dengan rencanaNya bagi mereka.

 

 

 


1 Comment

  1. zxtnnp says:

    rWJqTS vpslxcueqpmi, [url=http://fgdmhyoyqrnh.com/]fgdmhyoyqrnh[/url], [link=http://xkienujakzlx.com/]xkienujakzlx[/link], http://anyzmnwoweyh.com/

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: