DATAstudi Information

Home » Adat » Pendidikan Dalam Membentuk SIKAP dan MORAL

Pendidikan Dalam Membentuk SIKAP dan MORAL

Sistem pendidikan nasional terdiri dari tujuh jenis pendidikan yaitu pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional. Pendidikan umum merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan luar biasa merupakan pendidikan yang khusus diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental. Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu Departemen atau Lembaga Pemerintah Nondepartemen. Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. Pendidikan akademik merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan profesional merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu.

Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas: Pendidikan Dasar; Pendidikan Menengah; dan Pendidikan Tinggi. Selain jenjang pendidikan di atas, diselenggarakan pendidikan prasekolah. Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik di lembaga pemerintah, nonpemerintah, maupun sektor swasta dan masyarakat.


A. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan selururh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja, tetapi mencakup pula yang non formal.

Sejalan dengan penentuan prioritas bidang pembangunan, lebih-lebih pada bidang yang bersifat material, maka terdapat kecendrungan dalam pendidikan untuk menjejalkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan bidang material tersebut. Kecenderungan ini sebenarnya bertujuan baik. Ia bermaksud menyesuaikan diri  dengan iklim pembangunan dan kemajuan teknologi. Ia juga bermaksud memenuhi kebutuhan tenega-tenaga yang masih sangat kurang pada bidang-bidang tersebut, Akan tetapi karena bahan-bahan yang diberikan bersifat ekstern dari inti kepribadian manusia, dengan sendirinya ciri pendidikan yang sangat nampak hanyalah lebih bersifat pengajaran. Sedangkan menurut Charles E. Siberman bahwa pendidikan tidak identik dengan pengajaran yang hanya terbatas pada usaha mengembangkan intelektualitas manusia. Tugas pendidikan bukan melulu meningkatkan kecerdasan, melainkan mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia. Pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan kepribadian setiap manusia. Pendidikan agama tentunya mempunyai fungsi dan peran yang lebih besar daripada pendidikan pada umumnya, lebih-lebih yang hanya menitk beratkan pada aspek kognitf semata.

Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk menbiana kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya. Pendidikan diartikan juga sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam menyesuaikan dirinya dengan alam, dengan teman, dan dengan alam semesta.

Pendidikan adalah proses, dalam mana potensi-potensi ini (kemampuan, kapasitas) manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan supaya disempurnakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat/media yang disusun sedemikian rupa dan dikelola manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan.

Dalam hal ini ti Dosen FIP IKIP Malang menyimpulkan pengertian pendidikan adalah:

Aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya rohani (pikir, rasa, karsa, cipta dan budi nurani) dengan jasmani (panca indera serta keterampilan-keterampilan).

Lembaga yang bertanggung jawab menetapkan cita-cita (tujuan) pendidikan, isi, sistem dan organisasi pendidikan.

Lembaga-lembaga ini meliputi: keluarga, sekolah dan masyarakat (negara).

Hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuannya. Pendidikan dalam arti ini merupakan tingkat kemajuan masyarakat dan kebudayaan sebagai satu kesatuan.

1. Definisi yang Kompleks

Russel Klein termasuk salah satu seorang ahli yang memiliki pandangan menyeluruh. Menururt Klein (1973 : 3) pendidikan adalah penjumlahan dari semua pengalaman, yang melalui pengalaman itu seseorang atau sekelompok orang tua pada pengetahuan yang mereka miliki. Pengalaman adalah pertemuan, langsung atau dengan perantara, yaitu antara seseorang dan lingkungannya. Pertemuan itu menimbulkan perubahan (yaitu belajar) pada diri seseorang, dan juga menimbulkan perubahan (yaitu pengembangan, pembangunan) dalam lingkungan.

Pada perkembangannya yang awal pendidikan menjadi fungsi dari suatu sekolah atau suatu sistem dari sekolah-sekolah. Sistem pendidikan yang dimaksudkan diatas memiliki tiga sub system utama yang masing-masing memiliki dua komponen pokok:

1. Organisasi

a. Missi: kerangka kerja yang mapan yang didalamnya tujuan-tujuan dikembangkan dan dirumuskan

b. Sponsor: kelembagaan (politik,keagamaan,industri, dll) yang mengambil prakarsa, mendukung dan mengatur kegiatan yang didalamnya kelembagaan operasional (yang sering-sering sekolah) dibentuk, diabsahkan dan dikelola.

2. Manusia

a. Mentor (tutor, nara sumber): personil apakah terlatih secara khusus dan memiliki sertifikat atau tidak yang mengajar, menyelenggarakan kegiatan pendidikan.

b. Siswa (anak didik, warga belajar) : peserta atau partisipan yang kognisi,kompetensi, sikap-sikap dan nilai-nilainya akan dibentuk atau ditingkatkan.

3. Kurikulum

a. Isi: batang tubuh pengetahuan (informasi,kompetensi dan atau pola-pola yang dikehendaki) yang diinginkan oleh siswa untuk dipelajarinnya.

b. Media: bahan-bahan, perlengkapan-perlengkapan, alat-alat dan proses-proses untuk menyajikan pengalaman belajar bagi siswa.

Berdasarkan atas uraian di atas, Kleins (1973:6) merumuskan satu definisi tentang pendidikan luar sekolah sebagai berikut:

“Non formal education is any intentional and systematic education, outside of traditional schooling in wich conten, medis, time units, admission criteria, staff, facilities and other system components are selected and/or adapted for particular students, population or situations in order to maximize attainment of the learning mission and minimize maintenance constraints of the system”.

2. Definisi yang Singkat

Philips Coombs (1973 : 11) mengajukan definisi pendidikan luar sekolah sebagai berikut:

“Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan yang diorganisasikan di luar sistem persekolahan yang mapan apakah dilakukan secara terpisah atau sebagai bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, dilakukan secara sengaja untuk melayani anak didik tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya”.

Definisi yang dikemukakan oleh Supardjo Adikusumo (1971 ; 4) sebagai berikut :

“Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dan seseorang memperoleh informasi,pengetahuan, latihan ataupun bimbiingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarganya bahkan masyarakatnya dan negaranya”.

Definisi lain dikemukakan oleh Colletta (1975 ; 3) sebagai berikut:

”Pendidikan luar sekolah adalah transmisi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang bertujuan dan sistematik (dengan penekanan terhadap peningkatan keterampilan) di luar teknologi pendidikan persekolahan formal, dengan suatu susunan struktur waktu, tempat, sumber-sumber dan warga belajar yang beragam akan tetapi terarahkan”.

3. Definisi Pendidikan Informal dan Pendidikan Formal

Coombs (1973 : 10-11) mengemukakan bahwa:

”Pendidikan formal adalah sistem pendidikan yang strukturnya bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas dan yang setaraf dengannya, termasuk kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, bermacam-macam program spesialisasi dan latihan-latihan teknik serta latihan profesional yang dilaksanakan dalam waktu yang terus-menerus”.

Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang hayat, tiap-tiap orang memperoleh nilai, sikap keterampilan dan pengetahuan yang berasal dari pengalaman hidup sehari-hari dan dari pengaruh-pengaruh dan sumber-sumber pendidikan dalam lingkungan hidupnya dari keluarga dan tetangga,pekerjaan dan permainan,pasar,perpustakaan dan media massa.

4. Penamaan lain Tentang Pendidikan Luar Sekolah

Tercakup kedalam pendidikan luar sekolah adalah pendidikan massa (mass education), pendidikan orang dewasa (adult education), extension education, dan pendidikan dasar (fundamental education). Pendidikan orang dewasa meliputi pendidikan lanjutan, pendidikan pembaharuan, pendidikan kader organisasi dan pendidikan populer.

Di Indonesia, magricultural extension education disebut  penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian diberikan oleh PPL kepada para petani yang tergabung dalam kelompok tani. Bahwa penyuluhan pertanian merupakan salah satu bentuk PLS tampak dari cirri-cirinya yaitu:

a. Kegiatannya dilakukan diluar sIstem pendidikan pendidikan persekolahan

b. Di dalam kegiatannya terdapat proses komunikasi yang teratur dan terarah antara PPL dengan para petani, dan diantara para petani itu sendiri

c. Dilakukan dengan pengorganisasian tertentu

d. Tujuannya selalu berorientasi pada hal-hal yang perlu dan penting bagi kehidupan petani

e. Mempunyai program isi pendidikan dan urutan materi yang logis.

Dari rumusan ini masih banyak terlihat keumuman pengertian pendidikan. Pembentukan pribadi misalnya belum memberi gambaran konsep kepribadian model yang mana. Demikian juga perkembangan manusia yang dikehendaki keterpaduannya dengan kemajuan masyarakat dan hasil budaya, belum menunjukan adanya kualifikasi tertentu.

B. Pendidikan Agama Luar Sekolah

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering berhubungan dengan sesamanya. Proses tersebut lazim disebut sebagai proses interaksi. Proses interaksi ini berlangsung dalam sebuah pergaulan yang dapat terjadi kapan dan di mana saja, apakah di dalam sebuah masyarakat luas, kelompok kerja, kelompok sepermainan maupun dalam keluarga itu sendiri.

Wadah-wadah tersebut di atas merupakan lingkungan hidup tertentu yang bertujuan memenuhi berbagai kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan tersebut ada yang sifatnya material dan ada pula yang sifatnya immaterial yakni yang berkenaan dengan jiwa manusia. Kebutuhan yang sifatnya kebendaan dapat berupa kebutuhan sandang, papan dan pangan, sedangkan yang berkenaan dengan bidang kejiwaan dapat berupa kebutuhan akan agama.

Agama adalah sarana bagi manusia untuk menuju suatu tujuan hidup yakni kebahagiaan berupa keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Karena agama sarat dengan aturan dan tuntutan hidup yang mampu mengatur, membimbing dan mengarahkan manusia agar dapat hidup sesuai dengan kodrat penciptaannya yakni beribadah dan sebagai khalifah Allah swt di muka bumi.

Agar nilai-nilai agama tertanam pada diri manusia, maka diperlukan sebuah usaha bimbingan, pengajaran, dan tuntunan dalam proses pembentukan diri dengan melalui sebuah proses pendidikan agama Islam, agar pada diri manusia terdapat nilai-nilai Islam yang tercermin baik dalam sikap, tindakan, perbuatan, maupun tutur kata.

Dalam rangka pembahasan lebih lanjut dari penulisan skripsi ini, maka penulisa akan mengemukakan pengertian pendidikan agama dengan berfokus pada pendidikan agama Islam dan pengertian pendidikan luar sekolah, sehingga dengan mudah difahami tentang pendidikan agama luar sekolah.

1. Pengertian Pendidikan Agama

Pada pasal 3 (1) Peraturan Pemerintah No 73 tahun 1991, tentang pendidikan luar sekolah, dinyatakan bahwa pendidikan agama merupakan sebuah proses pendidikan yang mempersiapkan warga belajar untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan khusus akan ajaran agama.

Batasan di atas bermakna, bahwa pendidikan agama adalah proses penanaman pengetahuan terhadap diri seseorang (warga belajar) tentang pengetahuan-pengetahuan ajaran agama yang dianutnya. Sehingga pada diri individu terdapat sebuah pemahaman dan pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama. Defenisi ini berarti bahwa pendidikan agama berdasarkan bahasan di atas menyentuh satu aspek pada diri manusia, yakni akalnya.

Sedangkan Ahmad D. Marimba mendefenisikan, bahwa pendidikan agama usaha bimbingan jasmani, dan rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju kepribadian utama menurut ukuran Islam. Lebih lanjut dikatakan bahwa kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam setiap sendi kehidupannya. Sehingga dengan demikian disebut sebagai individu yang berkepribadian muslim.

Hal senada diungkapkan oleh Dr. H. Abuddin Nata, beliau mengatakan bahwa pendidikan agama Islam adalah sebuah upaya membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didik yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Dari defenisi yang dikemukakan di atas, maka dapat ditarik sebuah benang merah bahwa pendidikan bagi umat manusia khususnya umat Islam adalah merupakan sebuah sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspeknya, yakni jiwa dan akal manusia. Sehingga dalam sepanjang sejarah hidup manusia di muka bumi terdapat sebuah keseimbangan hidup lahir dan batin.

2. Pengertian Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan adalah merupakan suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspak manusia, yang dapat berlangsung dalam pergaulannya dengan sesama, atau dengan kata lain bahwa pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam kelas saja, namun juga dapat berlangsung di luar sekolah atau disebut pendidikan non formal.

Setiap lingkungan tempat dimana manusia mengadakan sosialisasi, entah di dalam komunitas yang berskala kecil yakni kelauarga, maupun komunitas yang berskala luas seperti tempat kerja, serta masyarakat luas. Wadah-wadah ini berpotensi dalam membentuk kepribadian manusia, dimana sikap dan karakternya itu akan terbentuk dari setiap pengalaman hidup yang dilaluinya.

Dari fenomena sosial yang terjadi tersebut, maka lahirlah sebuah konsep pendidikan, yang mampu dinikmati dan dirasakan oleh setiap manusia, serta prosesnya pun dapat berlangsung kapan dan dimana saja. Konsep pendidikan ini lazim disebut sebagai pendidikan agama luar sekolah.

Dalam pasal 1 (1) Peraturatn pemerintah No 73 tahun 1991 tentang pendidikan luar sekolah adalah sebuah proses pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah.

Dari batasan di atas dapat difahami bahwa pendidikan luar sekolah meliputi setiap aktivitas yang diperbuat oleh manusia sepanjang hidupnya, yang padanya manusia dapat memperoleh informasi atau pengetahuan yang diselenggarakan di luar sekolah baik di lingkungan keluarga, masyarakat luas, maupun di tempat-tempat yang mengadakan pelatihan khusus.

Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Philip. H. Combs, bahwa pendidikan luar sekolah itu merupakan proses pendidikan yang terorganisir yang terselenggara diluar sistem formal, abaik tersendiri, maupun bagian dari suatu kegiatan tertentu dalam rangka mencapi tujuan tertentu.

Dari dua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa:

a. Pendidikan luar sekolah meliputi setiap tiadakan mahasiswa yang padanya melahirkan sebuah pengertian bahwa yang mampu membawa perubahan pada diri manusia.

b. Pendidikan luar sekolah ada yang di lembagakan dan ada yang tidak di lembagakan.

c. Pendidikan luar sekolah mempunyai tujuan spesifik yakni membekali manusia dengan keahlian-keahlian tertentu.

Implementasi pendidikan agama luar sekolah adalah menivestasi dari pendidikan seumur hidup. hal ini berangkat dari sebuah asumsi bahwa manusia dalam meningkatkan kualitas hidupnya harus senantiasa belajar dan terus sepanjang hidupnya, tidak hanya terbatas pada lembaga formal saja.

Konsep pendidikan seumur hidup ini telah lama dicanangkan oleh Rasulullah SAW yaitu pendidikan itu dimulai dari ayunan hingga ke liang lahat. Ini merupakan sinyalemen bahwa pendidikan adalah hak semua orang dan proses pendidikan tersebut adalah sebuah proses yang berkesinambungan yang terus berlanjut sepanjang hidup manusia.

Dengan menyimak uraian-uraian di atas, maka dapat ditarik sebuah definisi tentang pendidikan agama luar sekolah. Yaitu suatu proses pendidikan yang dilaksanakan di luar sekolah atau jalur non formal, yang diarahkan guna mempersiapkan individu (warga belajar) melalui sebuah pengajaran, bimbingan, dan latihan dilaksanakan secara sistematis dan terorganisir sehingga membentuk pola tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai agama guna mencapai bahagia lahir dan batin.

Dari defenisi di atas maka dapat diketahui bahwa pendidikan agama luar sekolah di bedakan ke dalam dua bentuk yaitu pendidikan agama dalam keluarga pendidikan agama dalam masyarakat.

C. Pendidikan Agama Islam Dalam Keluarga

  1. Keluarga Sebagai Lembaga Pendidikan

Arus globalisasi telah mengantar kehidupan pada sebuah kompetisi budaya, yang sama sekali tidak dapat dihindari oleh masyarakat. Untuk menfilter imbas dari pengaruh globalisasi tersebut, maka dipandang perlu memberdayakan keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan. Karena keluarga merupakan salah satu elemen dalam masyarakat yang ikut menentukan arah dan perubahan yang terjadi di dalamnya.

Penyimpangan-penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat menjadi sebuah fenomena yang tak dapat dinafikan oleh siapapun sebagai sebuah cerminan dari kerusakan moral yang diderita oleh masyarakat. Kerusakan moral tersebut lahir dari sebuah pribadi yang rusak. Hal inilah yang menyebabkan pendidikan agama menjadi sebuah kebutuhan dalam membinan mental individu. Dan tentu berawal dari lingkungan terkecil yakni keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak untuk belajar tingkah laku.

Oleh karena itu keluarga memiliki tanggungjawab yang sangat besar dalam menjaga dan memelihara generasinya, agar ia tidak terbentuk menjadi generasi yang lemah, baik lemah ekonomi, lemah ilmu pengetahuan terlebih lagi lemah iman. Lemahnya sebuah generasi adalah indikator bagi lemahnya pendidikan.

Bagi anak keluarga adalah tumpuhan hidupnya, tempat ia memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani berupa kebutuhan akan agama. Kebutuhan akan agama adalah hal yang fitrawi bagi manusia yang dibawa sejak lahir yang menurut Wodworth disebut sebagai instink keagamaan. Yang dalam perkembangannya bertitik tolak pada keluarga.

Bila rumah tangga gagal dalam mengarahkan dan membina aspek kepribadian anak melalui aktualisasi pendidikan agama bagi anak, maka tidak mustahil anak akan gagal pula dalam mencapai perkembangan secara sempurna pada masa yang lain. Pendidikan agama yang diterima anak dalam lingkungan keluarga akan terkesan akan dewasanya nanti.

Kegagalan yang dialami sebagian keluarga dalam membimbing dan mengarahkan anaknya sebenarnya berawal dari kegagalan membina dalam hubungan keluarga yang harmonis yang berangkat dari rasa tak saling menyadari dan saling pengertian akan kekurangan satu sama lainnya. Pada rumah tangga yang baik dan bahagia adalah apabila diantara seluruh anggota keluarga khususnya suami istri selaku nahkoda dalam sebuah bahtera saling memberikan pengertian, penghargaan, saling memberikan dorongan serta saling menyadari kekurangan dan saling mengatasinya.

Oleh karena itu, pengalaman anak yang dialaminya dalam pergaulan dengan orang tuanya sangat berarti bagi perkembangan seorang anak. Hubungan-hubungan rasional terutama emosional terbentuk dalam proses dalam kehidupan bersama dalam keluarga, hingga simbol-simbol kepercayaan pertama bagi anak diangkat dari seluruh kosa gambaran anak tentang orang tuanya.

Kepercayaan pertama ini ditandai dengan kesadaran anak dalam keterpisahan dirinya dengan alam sekitarnya, termasuk kedua orang tuanya. Pengalaman keterpisahan ini akan membantu anak dalam menumbuhkan kesadaran akan keterpisahan tersebut. Dan juga dari irama antara anggota keluarga akan membentuk asumsi awal dalam diri seorang anak tentang sesuatu yang baik misalnya tentang kasih sayang, ahklak yang baik dan lain-lain.

Akan tetapi memberdayakan keluarga sebagai lembaga pendidikan , tidak cukup hanya mengandalkan kejeniusan, akan tetapi juga diperlukan metode-metode tertentu dalam mengarahkan dan membimbing anak, agar setiap usaha ang dilakukan tidak sia-sia.

  1. Metode Pendidikan Agama Dalam Keluarga

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa penerapan pendidikan agama dalam keluarga adalah salahsatu upaya untuk membina dan mengarahkan anak agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai agama, dan salah satu fungsi pokok keluarga adalah memperkenalkan dan memberikan pemahaman kepada anak akan nilai-nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Jadi pendidikan dalam keluarga adalah usaha untuk melatih sekaligus untuk mempersiapkan anak agar kelak ketika ia berinteraksi dengan masyarakat luas akan memiliki bekal tentang bagaimana harus bertindak dan berbuat dalam hidup bermasyarakat, sekaligus agar tercermin diri anak nilai-nilai ajaran agama.

Tetapi seorang pendidik khususnya orang tua, selaku penanggung jawab dalam keluarga, harus menyadari bahwa setiap anak yang lahir pasti mengalami proses perkembangan baik fisik maupun mental. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut menempuh beberapa tahap dengan kondisi dan keadaan tertentu sebagai ciri khas dari setiap fase perkembangannya yang akan nampak pada pola sikap dan tingkah lakunya.

Orang tua yang memiliki pemahaman yang cukup tentang fase perkembangan anak, akan dapat memilih sebuah metode yang tepat dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya sebagai pendidik dalam rumah tangga. Disamping ia mampu memberi pemahaman baru tentang ajaran Islam juga akan mampu membangun jiwa dan kepribadian anak. Dengan kata lain situasi belajar mengajar dalam lingkungan keluarga akan mampu membawa anak pada perubahan aspek kognitif saja tetapi juga dapat menyentuh aspek mental dan kepribadiannya.

a. Persiapan Mendidik Anak

Konsep pendidikan yang dicanamkan Nabi, untuk mendidik anak 25 tahun sebelum lahir adalah sangat ideal sebagai sebuah persiapan mendidik anak. Artinya bahwa dengan mendidik diri sendiri terlebih dahulu dengan cara menghias diri dengan akhlakul karimah, agar benih yang nantinya akan diturunkan adalah berasal dari sumber yang baik yakni individu yang taat beribadah dan memiliki karakter yang baik yang mencerminkan nilai-nilai ajaran Islam.

Islam yang sangat mengerti dan memahami kecenderungan manusia untuk saling mencintai, telah memberikan sebuah solusi bagi manusia, agar manusia dalam menyalurkan dan mengekspresikan rasa cintanya terhadap lawan jenisnya tidak menempuh jalan yang sesat, yaitu dalam bingkai nikah. Nikah adalah sebuah gerbang yang harus dilalui oleh setiap manusia ketika berkeinginan meneruskan keturunannya dan mendapatkan cinta yang suci, penuh berkah, dan rahmat.

Difinisi tentang nikah bermacam-macam, salahsatunya adalah aqad, yang menghalalkan pria menggauli wanita atau sebaliknya yang sebelumnya dilarang oleh syara. Dari sini nampak jelas , bahwa dengan melalui gerbang nikah, maka manusia akan memperoleh keselamatan dalam memenuhi kebutuhan seks biologisnya yakni libido seksualnya, dan sekaligus memenuhi ketentraman jiwa, tanpa harus dihantui oleh rasa bersalah. Dan juga nikah merupakan sarana bagi manusia agar tidak mengeksploitasi wanita sesuka hatinya, tetapi akan menggauli dan menyayangi manusia dengan cinta yang suci.

Orang yang hendak melangsungkan pernikahan, tentu akan melalui acara pinangan sebelumnya. Dalam hal meminang, Rasulullah telah memberikan rel-rel yang jelas kepada umat Islam, yakni hendaklah memilih wanita yang akan menjadi pendampingnya dengan mengutamakan keagamaannya. Dan ini adalah salahsatu dari upaya persiapan dalam mendidik anak.

Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh sebagai rangkaian persiapan mendidik untuk mendidik anak adalah sebagai berikut:


1) Memilih Jodoh

Memilih jodoh ibaratkan memilih lahan bagi persemaian bibit guna menuai hasil yang baik, sehingga sangat wajar ketika Islam mengajarkan dalam hal memilih jodoh untuk memilih orang-orang yang keagamaannya baik. Karena hal ini akan berpengaruh pada kokoh tidaknya fondasi keluarga. Sebab tabiat dan sifat orang tuanya akan turun kepada anak-anaknya.

2) Penyampaian Khutbah Nikah

Akad nikah adalah rentetan dari kegiatan melamar yang telah disepakati oleh kedua pihak (pihak laki-laki dengan pihak wanita). Dan lewat akad nikah pintu pergaulan yang halal antara laki-laki dengan wanita telah terbuka. Meskipun prosesi akad berlangsung dengan sangat sederhana, namun dampaknya sangat sakral, sebab akad adalah ikatan janji yang paling kuat. Hal ini berangkat dari defenisi  akad itu sendiri yakni perjanjian untuk memenuhi ketentuan yang telah disepakati. Setelah selesainya akad nikah dengan melakukan ijab qabul, maka resmilah dua belah pihak menjadi suami isteri. Untuk mengingatkan pada kedua mempelai tentang makna sebuah pernikahan dan tanggung jawab suami isteri, maka diadakanlah penyampaian khutbah nikah.


3) Berdoa pada saat Senggama

Doa adalah sebuah pengharapan manusia terhadap keinginan yang ingi dicapai. Dengan berdoa berarti mendidik diri untuk senantiasa dekat dengan Allah SWT, sebab doa pada saat senggama berarti mendoakan diri sendiri sekaligus sebagai pengharapan akan anak yang diinginkannya. Pertemuan sperma laki-laki dan ovum wanita menyebabkan terbentuknya zigod yang kemudian berkembang menjadi seorang bayi dalam rahim. Maka pada saat inilah pendidikan secara langsung dapat dilakukan.

b. Masa Mendidik Anak Secara Langsung

1) Mendidik Anak pada masa Kandungan

Masa kandungan atau prenatal adalah awal dari sebuah kehidupan individu. Sejak masa inilah pendidikan secara langsung dapat diberikan. Pada saat mengandung terjadi hubungan yang erat antara ibu dan anaknya, baik hubungan fisik maupun emosional. Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak yang ada dalam kandungan tergantung pada bagaimana pelayanan dan perhatian ibu terhadap kandungannya. Sebab kondisi seorang ibu akan ikut mempengaruhi kondisi anak yang dikandungnya. Oleh karena itu untuk menjaga kondisi anak seorang ibu harus betul-betul memberikan perhatian yang serius, baik dari segi makannya maupun kondisi emosionalnya. Kalau menginginkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang dikandungnya tidak mengalami hambatan.

Pendidikan bagi anak prenatal dilakukan melalui ibunya. Hal ini mengingat adanya hubungan fisik dan emosional yang sangat erat antara ibu dan anaknya. Pendidikan ini dapat dilakukan dalam bentuk ibu tersebut harus senantiasa membiasakan diri banyak mengerjakan amalan-amalan yang positif, seperti banyak membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Orang tua yang senantiasa terlatih untuk banyak mengerjakan amal kebajikan akan berdampak positif bagi dirinya dan anak yang dikandungnya. Bagi seorang ibu yang banyak membaca ayat-ayat suci akan membuat kondisi batin yang tenang, sedangkan bagi anaknya adalah terbiasanya anak untuk mendengarkan kalimat-kalimat suci khususnya usia keshamilan mencapai 22 pekan.

2) Pendidikan Agama Anak Setelah Lahir

Peristiwa kelahiran adalah awal bagi seorang anak untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru di luar kandungan ibunya dan merupakan awal seorang anak untuk hidup bertahan sebagai seorang priibadi yang terpisah dengan orang lain dan alam sekitarnya meskipun kesadaran akan keterpisahan antara dirinya dengan di luar belum ada karena yang dirasakan adalah kesatuan fundamental. Hal ini disebabkan belum adanya kemampuan untuk melakukan perbedaan antara dirinya dengan segala apa yang ada di luar dirinya. Tapi kesadaran itu lambat laun akan ada seiring dengan proses intraksi yang dilakukan antara diri dengan realitas yang ada disekitarnya.

Adanya hubungan bermutu atau dengan kata lain hubugan yang baik antara kedua orang tua dengan sang anak serta kondisi keluarga yang senantiasa dekat dengan agama, akan mengakibatkan kecenderungan anak untuk dekat dengan agama  lebih terbuka, sebab segala yang akan diajarkan akan berhasil ketika ia mempunyai model artinya apa yang diajarkan itu melekat pada orang yang mengajarkannya.

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, memiliki kadar kecerdasan dan kemangan berfikir yang berbeda-beda pada setiap fase perkembangannya. Sehingga cara penyampaian pendidikan agama harus disesuaikan dengan taraf perkembangan anak, agar apa yang diajarakan dapat dengan mudah dicerna dan diserap.


a) Pendidikan Agama Bagi Anak Usia 0-6 Tahun

Zakiah Daradjat mengatakan bahwa pendidikan agama pada usia ini adalah melalui semua pengalaman anak, baik ucapan, tindakan, perbuatan, sikap dan perlakuan yang dirasakannya. Ini berarti  pola sikap dan tingkah laku orang tualah yang menentukan perkembangan keagamaan pada diri anaknya.

Menurut Erikson bahwa anak pada usia 0-2 tahun adalah awal dimana kepercayaan dasar kecurigaan dasar terhadap orang dan lingkungannya bertaruh. Orang tua selaku pembimbing utama dalam keluarga harus mampu menumbuhkan kepercayaan dasar pada diri anak dengan cara memberikan pemeliharan dan pola asuh yang baik, dengan cara ini sang anak akan merasa bahwa orang lain khususnya orang tua dan lingkungannya dapat dipercaya untuk memenuhi kebutuhannya. Dari keseluruhan pengalaman yang dialami oleh anak dengan orang tuanya selaku pengasuhnya akan mulai menumbuhkan ide tentang Tuhan dalam diri anak.

Menjelang usia 3-6 kemampuan anak berfantasi sudah ada, sehingga pengetahuan anak tentang Allah diterjemahkan ke dalam pengalaman yang dilaluinya. Misalnya bahwa Allah itu Maha pengasih, dan penyayang. Oleh karena itu metode yang tepat digunakan dalam mengajarkan agama pada usia ini adalah metode keteladanan, pembiasaan dan bercerita.

b) Pendidikan Agama Bagi Anak Usia 6-12 Tahun

Anak memasuki jenjang ke sekolah dasar berarti petualangan baru bagi dia, di mana ia harus hidup di tengah-tengah berbagai macam karakter dan berusaha mengadakan adaptasi dengan lingkungannya. Modal pengetahuan yang di bawah dari dalam keluarga mencoba untuk di cocokkan dengan pengetahuan yang ia terima di berbagai lembaga pendidikan.

Ide keagamaan anak usia ini, di dasarkan pada emosianalnya, hingga hubungannya dengan Tuhan bersifat individual bersifat emosional olehnya itu mengajarkan tentang ketuhanan pada usia ini hendaklah menonjolkan sifat-sifat Tuhan yang baik seperti pengasih dan penyanyang. Agar timbul kesan pada anak bahwa Tuhan itu baik, yang dapat mendorongnya untuk senantiasa menjalankan ajaran-ajaran agama.

Karena anak usia ini sering mengidolakan sesuatu atau seseorang sehingga metode yang harus digunakan dalam mengajarkan pendidikan agama yaitu metode keteladanan. Selain itu metode pembiasaan dan pemberian pengalaman, serta kisah dapat dilakukan.

c) Pendidikan Agama Bagi Anak Usia 13-16 Tahun

Masa remaja dikenal masa pencarian identitas diri, sikap kritis sudah mulai tumbuh sebagai indikator dari perkembangan kecerdasan dan kematangan berpikir. Segala sesuatu tidaklah diterima dengan serta merta, tetapi dia mencoba memikirkan dan merenungkannya. Sehingga mencoba membangun konsep-konsep tersendiri terhadap apa yang diterimanya, oleh karena pertumbuhan kognitif ini memungkinkan terjadinya suatu transisi dari agama lahiriyah menjadi agama batiniah.

Mengingat pada masa ini, daya nalar dam kritis sudah mulai ada, maka metode yang yang dapat digunakan adalah dalam memberikan pendidikan agama pda anak adalah metode diskusi, nasehat, tanya-jawab, serta keteladanan.

d) Pendidikan Agama Bagi Anak Usia 17-21 Tahun

Pada usia perkembangan kecerdasan anak semakin tinggi, berbagai ilmu ia miliki yang diterimanya dari berbagai lembaga pendidikan yang lain. Seiring dengan hal tersebut sikap kritisnya pun semakin tinggi. Di samping itu kepekaan sosialnya pun semakin tumbuh, sehingga tidak mengherankan banyak para remaja ikut serta dalam berbagai kegiatan, dan berbagai organisasi kepemudaan.

Orang tua dalam menghadapi remaja yang menjelang usia dewasa ini, harus memiliki sikap yang demokratis, Agar antara anak dengan orang tua ada saling pengertian. Oleh karena itu metode yang bisa diterapkan pembinaan agama terhadap anak usia ini adalah tanya jawab, diskusi serta keteladanan.

D. Pendidikan Agama Luar Sekolah Dalam Masyarakat

1. Masyarakat Sebagai Lembaga Pendidikan

Masyarakat adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri dari individu-individu, dan sudah menjadi sunnahtullah bahwa individu-individu itu harus hidup bersama dengan orang lain untuk mengembangkan dirinya. Dalam kehidupan bersama itu manusia diperhadapkan pada sebuah kondisi dan keadaaan dimana karakter setiap orang berbeda-beda. Dimana individu itu harus mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut. Jika tidak menginginkan dirinya terisolasi dari orang di sekitarnya.

Setiap masyarakat mempunyai keperluan masing-masing, dan semakin komplek sebuah masyarakat semakin kompleks pula keperluan yang timbul di dalamnya. Akibatnya semakin besar pula animo masyarakat terhadap pendidikan. Dan hal ini akan berdampak pada timbulnya sebuah sistem pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya, dan tentu tidak dapat hanya mengandalkan sekolah.

Sejalan dengan hal tersebut, Evver Reimer mengatakan bahwa:

“Tidak ada satu negarapun di dunia ini yang sanggup memberikan pendidikan yang diperlukan oleh rakyatnya dalam bentuk sekolah, kecuali beberapa negara yang kaya dan belum dihinggapi virus pembangunan”.

Pernyataan di atas menggambarkan tentang keterbatasan pendidikan formal, baik dari segi pengadaan fasilitas seperti buku dan gedung-gedung, maupun dari segi warga belajar yang ikut di dalamnya, serta keterbatasan waktu yang digunakan. Oleh karena itu dikembanglah pendidikan non formal untuk mendampingi keberadaan pendidikan formal. Hal ini menandakan bahwa masyarakat sebagai salah satu dari tri pusat pendidikan juga bertanggung jawab dalam membimbing dan menjaga fitrah manusia  untuk tetap dalam keadaan suci. Sekaligus menjaga agar nilai-nilai budaya yang ada dalam sebuah masyarakat dapat bertahan.


2. Bentuk-Bentuk Pendidikan Agama Luar Sekolah di Masyarakat

a. Pondok Pesantren

Dari awal kiprahnya semenjak ada di tengah-tengah masyarakat, khususnya bangsa Indonesia. Pesantren telah banyak mencetak muballigh yang handal, yang tidak hanya sekedar mengetahui ajaran-ajaran agama tetapi juga punya komitmen yang kuat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama tersebut. Kaum ulama inilah yang menjadi ujung tombak bagi tegaknya syiar Islam, dan dengan sendirinya pesantren menjadi pusat dan wadah perluasan Islam itu sendiri. Keberadaan pesantren yang dewasa ini semakin meningkatkan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya adalah sebagai sebuah indikator bahwa masyarakat butuh akan pendidikan agama.

Metode yang banyak digunakan dalam pesantren adalah metode sorogan dan wetonan, metode sorongan adalah metode dengan cara santri membaca perkalimat dari kitab yang dipegangnya, kemudian dijelaskan oleh kiyai yang menjadi pembimbingnya. Metode ini dapat diidentikkan dengan metode CBSA, Sedangkan metode wetonan adalah metode pengajaran dengan mengambil waktu sesudah shalat lima waktu, Metode ini diientikkan engan metode ceramah.

Seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan hidup dewasa ini, kian hari pesantren terus membenahi diri sebagai sebuah langkah pembaharuan dan peningkatan mutu pesantren agar mampu tetap bersaing dengan sekolah umum. Sehingga dari usaha inilah lahir pesantren-pesantren modern. Yang memadukan keunggulan dibidang akhlak dengan keunggulan dibidang keterampilan, dengan cara melengkapi pesantren tersebut dengan fasilitas yang modern seperti komputer dan sebagainya.

b. Mesjid Atau Mushallah

Mesjid atau Mushallah sebagai wadah yang cukup tua dalam perkembangan Islam telah ikut menentukan dalam upaya pembangunan peradaban Islam yang tetap terpelihara hingga saat ini, sehingga para tokoh agama seperti ulama dan penganjur agama lainnya senantiasa memfokuskan diri dalam pemanfaatan mesjid atau mushallah. Kebangkitan umat Islam dapat diketahui dengan mengambil perbandingan pada masjid, baik dari segi perawatannya maupun dari segi pemanfaatannya. Bukan hanya dalam melaksanakan shalat lima waktu maupun kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya seperti majelis taklim dan sebagainya.

Masjid semenjak zaman Rasulullah saw, tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, akan tetapi merupakan tempat bersama untuk bermusyawarah dalam rangka menyelesaikan persoalan yang dihadapi umat untuk menyelesaikan sebuah kegiatan. Dari sini nampak fungsi mesjid sebagai fungsi edukatif dan fungsi sosial.

c. Taman Pendidikan Al-Qur’an

Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) adalah sebuah wadah dimana anak-anak dapat belajar baca tulis Al-Qur’an, namun selain itu juga diajarkan matei-materi agama lainnya, seperti fikhi dan sebagainya. Melalui TK/TPA anak dididik mengenal dan mengetahui baca tulis Alqur’an sebagai sebuah kegiatan yang berorientasi pada pemberantasan buta aksara Alqur’an dikalangan umat Islam.

Selain itu keberadaan TK/TPA juga menjadikan peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan di TK/TPA akan menjadi generasi yang mencintai Alqur’an dan menjadikan Alqur’an sebagai bacaan dan pandangan hidup sehari-hari. Pembelajaran Agama dalam hal baca tulis Alqur’an di TK/TPA kepada santrinya adalah metode CBSA.

d. Pesantren Kilat

Pesantren kilat adalah sebuah terobosan baru yang cukup cemerlang dalam memberikan pendidikan agama bagi individu khususnya anak-anak. Pesantren kilat adalah sebuah kegiatan ekstrakurikuler, yang berupaya menanamkan nilai-nilai keagamaan pada ke tiga aspek yakni kognitif, afektif serta psikomotorik. Dengan demikian warga didik tidak hanya diberikan pengetahuan agama, tetapi juga ia dirangsang agar bagaimana anak itu terbiasa dalam melaksanakan ajaran agama. Seperti membaca Alqur’an dan mendirikan shalat Tahajjud.

Dengan demikian dapat difahami bahwa pendidikan agama melalui pesantren kilat, adalah suatu upaya mengarahkan anak pada pembinaan mental dan moral dengan menanamkan nilai-nilai agama ke dalam diri anak. Agar setiap ucapan, perbuatan dan perasaan sesuai dengan ajaran agama, serta memiliki pengetahuan tentang agamanya. Namun untuk mencapai hal tersebut tetap harus memperhatikan tiap unsur yang menentukan bagi proses pendidikan tersebut, seperti materi peserta didik.

e. Kegiatan-Kegiatan Ilmiah

Telah banyak kegiatan-kegiatn ilmiah yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dalam upaya pembinaan mental umat islam. Baik yang diprakarsai oleh sekolompok orang, maupun dari kalangan lembaga-lembaga baik formal maupun bukan. Kegiatan ini banyak dikemas dalam berbagai dimensi, seperti seminar dan diskusi. Keberadaan Kegiatan ini adalah untuk memenuhi  kebutuhan masyarakat luas dalam memperoleh pendidikan agama sebagai sarana dalam pembentukan kepribadian.

f. Kegiatan-Kegiatan Keagamaan

Kegiatan-kegiatan keagamaan banyak bentuk dan macamnya, misalnya peringatan hari-hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj dan sebagainya. Kegiatan keagamaan ini dapat dijadikan moment yang tepat untuk memberikan pendidikan agama pada masyarakat. Karena pada umumnya kegiatan ini dilengkapi dengan ceramah-ceramah sebagai metode dalam menguraikan hikmah dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Lewat uraian hikmah ini nasehat keagamaan dapat dilakukan.

Ada dua manfaat yang diambil dari pelaksanaan kegiatan ini, yaitu lewat uraian hikmah oleh para muballigh, maka masyarakat akan memperoleh pengetahuan keagamaan, dan sekaligus akan mampu memupuk rasa solidaritas sebagai umat yang satu, yang memiliki kesamaan yakni sebagai hamba Allah swt.

E. Analisa tentang Dasar-dasar Pendidikan Berbasis Keagamaan

Sebagai aktivitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, tentunya pendidikan Islam memerlukan landasan kerja untuk memberi arah bagi programnya. Sebab dengan adanya dasar juga berfungsi sebagai sumber semua peraturan yang akan diciptakan sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah yang menentukan arah usaha tersebut.

Dasar pelaksanaan pendidikan Islam terutama adalah Al-Quran dan Al-Hadits. Dalam Al-Quran, surat Asy-Syura, ayat 52 :

y7Ï9ºx‹x.ur !$uZø‹ym÷rr& y7ø‹s9Î) %[nr①ô`ÏiB $tR̍øBr& 4 $tB |MZä. “Í‘ô‰s? $tB Ü=»tGÅ3ø9$# Ÿwur ß`»yJƒM}$# `Å3»s9ur çm»oYù=yèy_ #Y‘qçR “ωök¨X ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±®S ô`ÏB $tRϊ$t6Ïã 4 y7¯RÎ)ur ü“ωöktJs9 4’n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡•B ÇÎËÈ

Artinya :

“Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al kitab (Al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Quran itu cahaya yang kami beri petunjuk dengan dia siapa yang kamikehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalannya yang benar”.

Prof. Dr. Moh. Athiyah al-A brasyi dalam bukunya “Dasar-dasar pokok Pendidikan Islam” menegaskan bahwa pendidikan agama adalah untuk mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur.

Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama dari keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran-ajaran Islam bersifat Universal yang mengandung aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dalam hubungan-hubungannya dengan khaliqnya yang diatur dalam ubudiyah, juga dalam hubungannya dengan sesamanya yang diatur dalam muamalah, masalah berpakaian, jual-beli, aturan budi pekerti yang baik dan sebagainya.

F. Analisa tentang Tujuan Pendidikan Berbasis Keagamaan

Tujuan adalah dunia cita, yakni suasana ideal yang ingin di wujudkan. Dalam tujuan pendidikan suasana ideal itu nampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Tujuan akhir biasanya dirumuskan secara padat dan singkat, seperti terbentuknya kepribadian muslim. Dan kematangan integritas – kesempurnaan – pribadi.

Sebagai dunia cita, kalau sudah ditetapkan, ia adalah idea statis. Tetapi sementara itu kualitas dari tujuan itu adalah dinamis dan berkembang nilai-nilainya. Lebih-lebih tujuan pendidikan yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai yang bersifat fundamental, seperti: nilai-nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral dan nilai agama. Di sini kiranya orang berkeyakinan bahwa pendidikan menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan keseluruhan aspek lingkungan hidup dan dapat memberi informasi yang paling berharga mengenai pegangan hidup masa depan dunia, serta membantu anak-anak didik dalam mempersiapkan kebutuhan yang esensial untuk menghadapi perubahan.

Ada yang memerinci tujuan pendidikan dalam bentuk taksonomi (sistem klasifikasi) yang terutama meliputi:

1. Pembinaan kepribadian (nilai formil).

– Sikap (attitude).

– Daya pikir praktis rasional.

– Obyektivitas.

– Loyalitas kepada bangsa dan ideologi.

– Sadar nilai-nilai moral dan agama.

2. Pembinaan aspek pengetahuan (nilai materill), yaitu materi ilmu itu sendiri.

3. Pembinaan aspek kecakapan, keterampilan (skill) nilai-nilai praktis.

4. Pembinaan jasmani yang sehat.

G. Pendidikan dan Pengajaran Keagamaan

Pendidikan dan pengajaran merupakan hal yang pertama dan utama usaha manusia untuk mencerdaskan bangsanya dan sekaligus mempertinggi cita-cita bangsanya, akan tetapi pendidikan dan pengajaran Tauhid lebih dari itu, ia juga dapat menuntun orang mencapai kebahagiaan hidup di akhirat kelak.

Pendidikan Tauhid dimaksudkan adalah membimbing anak didik agar mempunyai jiwa tauhid, melalui bimbingan tidak hanya dengan lisan dan tulisan, akan tetapi juga melalui sikap, tingkah laku dan perbuatan. Segala tingkah laku, perbuatan dan perkataan orang tua atau guru adalah termasuk pekerjaan mendidik.

Pengajaran Tauhid dimaksudkan adalah memberikan pengertian tentang ketauhidan baik ia sebagai akidah yang wajib diyakini atau tauhid sebagai filasafat hidup manusia yang akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pendidikan dan pengajaran Tauhid, baik yang berhubungan dengan akidah atau ibadah, akan menanamkan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah. Keikhlasan mengabdi kepada Allah inilah yang membuat Tauhid laksana pisau bermata dua, satu segi untuk kehidupan di akhirat dan segi lain untuk kehidupan di dunia ini.

Usaha-usaha pendidikan dan pengajaran Tauhid harus dimulai sejak anak didik lahir ke dunia ini, anak adalah amanah Allah kepada orang tuanya. Fitrah anak yang mempercayai adanya Allah SWT. Harus disalurkan dengan sewajarnya, di bimbing dan diarahkan kepada rasa iman kepada Allah dan mencintai-Nya pula.

Proses pendidikan dan pengajaran tauhid harus dimulai sejak lahir anak ke dunia ini. Bukankah kehadiran seorang bayi ke dunia ini supaya didengungkan suara adzan sebagai pertanda pendidikan dan pengajaran tauhid telah dimulai.


Artinya:

“Sesungguhnya telah adzan Rasulullah saw. Pada telinga Husein (cucu beliau) ketika Husein baru dilahirkan – oleh Fatimah.” (Riwayat Ahmad dan Turmudzi).

Usaha-usaha pemupukan rasa iman sebagai fitrah manusia itu harus sungguh-sungguh mendapat perhatian orang tua/pengasuh, agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan wajar. Usaha-usaha pemupukan rasa iman itu melalui dalam tiga proses, yaitu pembiasaan, pembentukan pengertian dan akhirnya pembentukan budi luhur.

Dalam taraf pembentukan pembiasaan, meliputi masa vital, masa anak-anak dan sebahagian masa sekolah. Dalam taraf pembiasaan ini hanya berupa pembiasaan pengenalan terhadap rasa iman kepada Allah dan adanya Allah.

Pada taraf ini anak dapat diumpamakan sebagai bibit tanaman yang baru bertumbuh, maka ia memerlukan pemeliharaan yang serius dari gangguan-gangguan yang dapat mematikan tanaman yang baru tumbuh itu, memerlukan siraman, perlindungan dari panas matahari dan sebagainya.

Anak mengenal Allah dengan perantaraan apa yang dilihat dan didengarnya dari lingkungan, mula-mula diterimanya secara acuh tak acuh, akan tetapi tatkala ia melihat atau mendengar lingkungan keluarganya menganggumi Allah, maka terjadilah pengalaman agamis dalam dirinya.

Anak pada permulaan sekolah, pembiasaan diperlukan peragaan-peragaan pengenalan kepada Allah – lebih baik secara spontan – yang dapat dilihat atau didengar anak seperti mengucapkan basmallah, shalat, mendo’a, mengucapkan salam bila bertemu sesama keluarga, mengucapkan syukur dan sebagainya.

Pada permulaan sekolah anak belum dapat menyerap pemikiran maknawy, pemikiran masih terbatas pada persoalan yang nyata dan suka meniru. Maka kesukaan meniru ini perlu dimanfaatkan dan diarahkan pada pengenalan kepada Allah.

Pada tahap pembentukan pengertian, meliputi pada masa sekolah sampai menjelang remaja. Ada suatu hal yang perlu diperhatikan pada anak usia menjelang usia sekolah yaitu anak suka berkhayal, karenanya kekhayalannya itu perlu mendapat penyaluran pada pengenalan kepada Allah, antara lain seperti mukjizat, malaikat dan sebagainya.

Masa remaja adalah masa peralihan dan persiapan untuk dewasa, ia bukan anak-anak lagi akantetapi dewasa pun belum matang pula. Masa remaja bagaikan pohon yang kita tanam mengalami hembusan angin dan tidak jarang pohon itu tumbang bila akar-akarnya tidak kuat

Menjelang usia baligh, anak diarahkan pada penginsafan tentang kenyataan, mengerti dan menyadari bahwa segala apa saja yang ada di dunia ini adalah makhluk Allah, semuanya diciptakan oleh Allah.

Apabila pertumbuhan dan perkembangan pengenalan kepada Allah itu berjalan dengan baik dan lancar, segala kebiasaan yang baik jadi amalannya., maka dalam usia remaja akan terbentuklah rasa iman kepada Allah dengan mendalam dan lebih di sempurnakan lagi pada usia dewasa yang dimatangkan dengan pendidikan dan pengajarannya atau pengalamannya.

Dari uraian di atas nyatalah bahwa lingkungan keluarga besar sekali perannya dalam pendidikan anak pada umumnya dan pendidikan agama khususnya. Pendidikan dan pengajaran dalam lingkungan keluarga itu akan lebih berhasil lagi bila tidak mengalami halangan dan rintangan antara lain seperti keutuhan struktur keluarga dan keutuhan interaksi antara sesama anggota keluarga.

Peranan utama pendidikan keluarga adalah ibu, ibu sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga, tidak dapat digantikan oleh orang lain, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan rohani. Ibu mendidik anknya atas dasar kasih sayang yang dalam. Nilai ASI sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pisik dan mental anknya, hubungan ibu dan anak dalam menyusui yang disertai pelukan dan belaian sayang akan menghadirkan rasa aman dan nyaman dalam diri anak. Oleh karena itu peranan ibu dalam pendidikan keluarga, hendaknya perlu dimanfaatkan dan diarahkan pada penanaman ajaran ketauhidan kepada Allah. Karena ajaran tauhid adalah ajaran pokok dalam agama yang menentukan masa depan seseorang sebagai muslim atau sebaliknya menjadi kafir.


1 Comment

  1. Hi everybody, here every one is sharing these kinds of knowledge, therefore it’s fastidious to read this webpage, and I used to visit this weblog every day.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: