DATAstudi Information

Home » Agama » Pandangan Guru tentang Pendidikan Seks pada Remaja

Pandangan Guru tentang Pendidikan Seks pada Remaja

Pendidikan merupakan salah satu alat yang dapat mengantarkan ummat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini kearah yang lebih baik, menurut asumsi ini sebagian tanggung jawab terletak dipundak pendidikan Islam yang secara ideal bertujuan melahirkan pribadi manusia seutuhnya, dengan mengembangkan segenap potensi manusia, seperti ; fisik, akal, ruh dan hati kesemua potensi ini dioptimalkan untuk membangun kehidupan manusia yang meliputi aspek spritual, intelektual, rasa sosial, imajinasi dan lainnya yang akhir tujuannya adalah pencapaian kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Menyadari betapa pentingnya pendidikan dalam mengarahkan dan membimbing manusia dalam merubah tabiat menuju terbentuknya kepribadian yang utama, maka penerapan pendidikan harus menyeluruh meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Demikian pula pendidikan seks bagi remaja yang sampai saat ini masih menjadi polemik antara yang pro dengan yang kontra sudah perlu dikemukakan kembali untuk mendapatkan solusinya. Terjadinya pro kontra tentang pendidikan seks itu, karena belum ada keseragaman pandangan mengenai pendidikan seks itu sendiri.  Bahkan jika pendidikan seks itu ingin diaplikasikan sebaiknya kata seks dihilangkan dengan mengganti kata-kata dan bahasa yang lain, namun mengandung makna yang sama, sebab jika orang mendengar penyebutan kata seks asosiasinya selalu mengarah kepada “kata kerjanya”, sehingga diperlukan sosialisasi mengenai batasan atau defenisi tentang pendidikan seks.


Menyebut kata “seks”, kesannya sesuatu yang sifatnya vulgar, porno dan seronok, sehingga kedengarannya sangat menjurus kepada hubungan intim antar dua lawan jenis yang berbeda, persepsi seperti inilah yang menyebabkan kata seks menjadi tabu untuk dibicarakan di depan umum, apalagi didepan siswa (remaja). Padahal sesungguhnya pendidikan seks adalah salah-satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan.[2] Kalau kita melihat fenomena remaja sekarang, sudah sangat perlu pendidikan seks diajarkan sebagai salah satu muatan kurikulum di sekolah, mengingat pendidikan seks ini banyak hal-hal yang perlu diketahui oleh para remaja, bukan hanya kebutuhan biologis itu saja. Karena bilamana para remaja memandang seks hanya kebutuhan biologis saja yang penuh dengan cerita seribu macam kesenangan yang dapat membuat orang mabuk kepayang, tanpa mereka tahu bagaimana resiko hamil diluar nikah dan permasalahan lainnya, maka akibatnya pergaulan remaja semakin memprihatinkan dan pembuktian seperti ini sudah tidak terlalu sulit di era informasi dewasa ini.

Di kota Polewali misalnya, pergaulan antara remaja putra dengan remaja putri pada usia mumayyiz dan puber mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap akhlak, tingkah laku dan emosi, dewasa ini pergaulan seperti itu sudah lumrah di sekolah-sekolah dan tempat-tempat umum dengan dalih bahwa pergaulan sepasang manusia yang berlainan jenis itu dapat mendidik naluri, menahan nafsu syahwat, dan akan menjadikan pertemuan kaum perempuan dan lelaki sebagai sesuatu yang biasa. Untuk tidak mengatakan tontonan gratis, sebagian dari remaja sudah berani menyuguhkan atau menampilkan suatu perilaku yang kurang pantas, baik dari sudut pandang sosial maupun dari sudut pandang agama, dengan berdalih untuk mengapresiasikan indahnya kehidupan muda-mudi.

Meskipun belum terlalu jauh, tapi bila hal seperti ini dibiarkan begitu saja, maka akan semakin parah dan berbahaya untuk masa depan remaja itu sendiri dan masa depan bangsa ini, karena remaja adalah pewaris dari bangsa ini, bila remaja rusak akan rusaklah bangsa ini di masa yang akan datang.

Kenyataan seperti diatas tidak hanya terjadi di kota Polewali, tapi mungkin hampir terjadi diseluruh kota-kota besar yang ada di negara ini, sudah barang tentu tidak hadir begitu saja, melainkan sebuah trend yang perlu diwaspadai dan dicermati. Hal yang penting, tidak dapat diperselisihkan lagi bahwa kerusakan sosial dan dekadensi moral yang menyebar ke segenap masyarakat disetiap tempat itu merupakan strategi yang direncanakan dan disetting oleh pihak-pihak tertentu untuk menjebak dan menjerumuskan remaja kepada kesesatan dan kerusakan moral dan akhlak melalui pergaulan bebas, pemutaran film porno di bioskop, pertunjukan pornoaksi melalui pagelaran seni dan musik,  penyebaran pornografi melalui majalah, surat kabar, acara televisi, VCD,  serta tempat-tempat pelacuran dan yang sejenisnya.

Serangan terhadap remaja yang begitu gencar dan bertubi-tubi, disisi lain ketahanan mental remaja sangat labil dan gampang goyang, apalagi pengaruh dan rayuan tersebut sangat sistimatis sekali yang dibungkus dengan  berbagai bentuk acara, sehingga kadangkala remaja terlena oleh tipuan tersebut, apatahlagi pada usia remaja baru mencari bentuk dan idola, sehingga tingkah-lakunya senang meniru-niru model atau gaya.

Pada dasarnya kebutuhan manusia akan figur tauladan bersumber dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia.  Pada hakekatnya, peniruan itu berpusat pada tiga unsur berikut:

  1. Kesenangan untuk meniru.  Hal itu terjadi pada anak remaja, mereka terdorong oleh keinginan yang sama, yang tanpa disadari membawa mereka pada peniruan gaya bicara, cara bergerak, cara bergaul, atau perilaku lain dari orang yang mereka kagumi.
  2. Kesiapan untuk meniru setiap usia manusia, memiliki kesiapan dan potensi yang terbatas untuk periode tersebut, karena itulah Islam menganjurkan kepada orang tua untuk mengajak anaknya yang usianya belum cukup tujuh tahun ikut shalat berjamaah, agar dapat meniru gerakan shalat.
  3. Setiap peniruan terkadang memiliki tujuan yang sudah diketahui oleh si peniru, atau bisa juga tujuan itu belum diketahui atau, bahkan tidak ada.

Akibat dari tingkah laku remaja yang sering mau mencoba dan menikmati hal-hal yang baru tanpa pertimbangan yang rasional, maka timbullah berbagai masalah dan persoalan seperti; Banyaknya kasus hamil sebelum nikah (MBA = married by accident) pada remaja dan anak sekolah, pemerkosaan, penyimpangan dan kejahatan seks lainnya dan terakumulasi pada kenakalan remaja berupa menjadi pecandu dan pengedar narkotika, terlibat pencurian dan perampokan serta tindakan kriminal lainnya.

Padahal jika hal ini dipahami dengan baik dan menempatkan posisi remaja pada tempatnya tentu hal seperti diatas kita tidak temukan. Tapi karena tidak dipahami dengan baik, sehingga tidak hanya penyelewengan dan penyalahgunaan seks yang terjadi, tetapi pemerkosaan sudah terjadi dimana-mana, apalagi pada kehidupan remaja kini dan yang akan datang, bagaimana lagi mau ditulis dan diceriterakan bila tidak diantisipasi sedini mungkin.

Menghadapi fenomena tersebut di atas, tuduhan seringkali diarahkan kepada dunia pendidikan sebagai penyebabnya. Dunia pendidikan benar-benar tercoreng wajahnya dan tampak tidak berdaya untuk menghadapi problematika remaja tersebut, itulah sebabnya belakangan ini banyak seminar yang digelar kalangan pendidik yang bertekad mencari solusi untuk mengatasi hal ini, bahkan para pemikir pendidikan menyerukan agar kecerdasan akal diikuti dengan kecerdasan moral.

Issu seks adalah suatu yang sangat sakral, namun tetap aktual dan hangat dibicarakan oleh masyarakat luas. Bahkan kontroversi tentang pendidikan seks pada usia belajar belum juga usai. Sex education tetap menjadi tema sentral yang pembahasannya belum juga berkesudahan.

Pendidikan seks di kalangan remaja di Indonesia kelihatannya masih menjadi perbincangan yang memerlukan penanganan yang serius, sebab masih memunculkan kontroversi, seputar perlu tidaknya pendidikan seks dikalangan remaja. Padahal kalau kita mau jujur persoalan ini hendaknya menjadi prioritas, apalagi melihat kehidupan pergaulan remaja dalam kekinian ini, dimana etika dan norma pergaulan sudah semakin longgar.

Persepsi tokoh pendidikan terhadap perlu tidaknya pendidikan seks dikalangan remaja, khususnya para pakar pendidikan masih beragam, tergantung dari sudut pandang mana mereka melihat.  Hal tersebut masih dianggap sebagai wacana yang memerlukan pemahaman dan pemaknaan yang mendalam dan mendasar, serta perlu dilihat dari berbagai sisi eksistensi dan nilai serta struktur sosial budayanya.

Terjadinya kontroversi seputar perlu tidaknya pendidikan seks dikalangan remaja, sudah barang tentu dipengaruhi pandangan agama, serta budaya yang dianut bahkan latar belakang pendidikan orang yang bersangkutan. Dan yang tak kalah pentingnya dikalangan remaja itu sendiri yang masih beragam cara menyikapinya. Yang lebih ironis lagi terkadang dalam tataran konsep kaum remaja tahu dan sepakat bahwa pergaulan diantara insan yang berlainan jenis ada aturan dan tata kramanya, namun tatkala diperhadapkan pada tataran realitas kadang remaja tak tahu diri. Sadar atau tidak remaja kadang tidak mampu menolak dan mengendalikan diri, dengan berlindung dibalik ungkapan “kehidupan remaja itu tidak datang dua kali” ungkapan ini tidaklah keliru, yang keliru adalah cara memaknai dan menyikapinya.

Pandangan pro-kontra terhadap pendidikan seks ini pada hakikatnya tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan pendidikan seks itu sendiri. Jika pendidikan seks diartikan sebagai pemberian informasi mengenai seluk-beluk anatomi dan proses faal dari reproduksi manusia semata ditambah dengan teknik-teknik pencegahannya (alat kontrasepsi), maka kecemasan yang disebutkan di atas memang beralasan.

Namun, sekali lagi dengan melihat realitas kehidupan remaja sekarang, khususnya pelajar dan anak sekolah yang sudah terkena pengaruh negatif, tentunya memberikan motivasi bagi kita semua untuk berfikir ekstra, bagaimana menyelamatkan remaja dari kehancuran moral yang sepertinya sulit dihindarkan, tetapi menjadi tugas kolektif bagi kita selaku anak bangsa.

Akan tetapi penulis sendiri berpendapat bahwa pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata-mata. Pendidikan seks, sebagaimana pendidikan lainnya (pendidikan agama, atau pendidikan Moral Pancasila, misalnya) mengandung pengalihan nilai-nilai dari pendidik ke subjek-didik. Dengan demikian informasi tentang seks tidak diberikan “telanjang”, melainkan diberikan secara “kontekstual” yaitu dalam kaitannya dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat: apa yang terlarang, apa yang lazim dan bagaimana cara melakukannya tanpa melanggar aturan.

Berangkat dari kenyataan itulah peneliti ingin melihat bagaimana pandangan guru tentang pendidikan seks di kalangan remaja khususnya di Madrasah Aliyah Negeri Polewali. Mengingat remaja, selain sebagai asset yang harus di selamatkan, juga tata pergaulan remaja pada umumnya sudah semakin bergeser dari etika dan moral, hal inilah yang memberikan inspirasi untuk menjadikan judul ini sebagai fokus dan lokus penelitian.



 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasyi, Mohd.Athyiyah, Attarbiyah al Islamiyah, diterjemahkan oleh Prof. H. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, L.I.S. dengan judul Dasa –Dasar Pokok Pendidikan Islam, Cet.VII, Jakarta ; Bulan Bintang, 1993.

Alang, M. Sattu, Etika Seksual Dalam Lontara: Telaah Pergumulan Nilai-Nilai Islam dengan Budaya Lokal. Cet.II; Makassar: Coraq Press, 2005.

Ali, Sayuthi, Metodologi Penelitian Agama Pendekatan Teori dan Praktek Cet.I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.

Aly, Hery Noer, Ilmu Pendidikan Islam, Cet. II ; Jakarta : Logos, 1999.

Alwi, Hasan (Pimpinan Redaksi), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga Cet.I; Departemen Pendidikan Nasional: Balai Pustaka, 2001.

Annahlawi, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat Cet.II; Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Cet.X; Jakarta: Rineka  Cipta, 1996.

Azra, Azyumardi, Esei-Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam Cet.I; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.

Dagun, Save M. Psikologi Keluarga (Peranan Ayah Dalam Keluarga), Cet.I; Jakarta : Rineka Cipta, 1990.

Departemen Agama R.I. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Pedoman Umum Pengembangan Dan Pengelolaan Madrasah Model : Jakarta, DMAP, 2002.

Departemen Agama R.I. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Pedoman Umum Pengelolaan Pembelajaran: Jakarta, DMAP, 2002.

Kauma, Fuad, Sensasi Remaja Dimasa Puber, Dampak Negatif dan Alternatif Penanggulangannya, Jakarta; Kalam Mulia, 1999.

L, Zulkifli, Psikologi Perkembangan,(Cet.VII ; Bandung, Remaja Rosdakarya,  2000.

Mappanganro, Pemberdayaan Pendidikan Islam Dalam Mengatasi Bahaya Narkoba Bagi Remaja, Makalah disampaikan pada seminar sehari pada Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar, 6 Desember 1999.

Miqdad,  Ahmad Azhar Abu, Pendidikan Seks Bagi Remaja Menurut Hukum Islam Cet.II; Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000.

Moleong, Lexi J. Metodologi Penelitian Kualitatif Cet.XVI; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Mustafa, Ibnu Keluarga Islam Menyonsong Abad 21, Cet.I ; Bandung : Al Bayan, 1993.

Nata, Abuddin Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia Cet.I; Jakarta: Prenada Media, 2003.

Pangkahila, Wimpie Seksualitas Anak dan Remaja Cet.I; Jakarta: Grasindo, 1998.

Republik Indonesia. “Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2004 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.” Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Dikdasmen, Jakarta, 2003.

Ridhwi, Sayyid Muhammad Marriage  & Morals in Islam, yang diterjemahkan oleh Muhammad  Hasyim dengan judul Perkawinan  dan  Seks Dalam Islam, Cet.V; Jakarta:  Lentera,  2000.

Sa’abah, Marzuki Umar Perilaku Seks Menyimpang dan Seksualitas Kontemporer Umat Islam Cet.I; Yogyakarta: UII Press, 2001.

Sarwono,Sarlito Wirawan Psikologi Remaja Cet.VII; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.

Shofan,Moh. Pendidikan Berparadigma Profetik, Upaya Konstruksi Membongkar Dikotomi Sistem Pendidikan Islam Cet. I; Yogyakarta: IRCiSoD, 2004.

Singgih D.Gunarsa dan Y.Singgih D.Gunarsa, Psikologi praktis: Anak,Remaja dan Keluarga,(Cet.II; Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993.

Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, Cet.II ; Bandung : Rineka Cipta, 1991.

Sudijono, Anas Pengantar Statistik Pendidikan Cet.VII;  Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.

Sudirman dkk, Ilmu Pendidikan, Cet.VI; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1992.

Surtiretna,  Nina Bimbingan Seks Bagi Remaja Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2000.

Ulwan Abdullah Nashih and Hassan Hathout, Tarbiyatu’l-Auladfi’l-Islam, diterjemahkan oleh Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim dan Jalaluddin Rakhmat dengan judul Pendidikan Seks, Pendidikan Anak Menurut Islam Cet.I; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 1992.

Wan Daud, Wan Mohd Nor The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas, diterjemahkan oleh Hamid Fahmi dkk dengan judul Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam Syed M.Naquib Al-Attas Cet.I; Bandung: Mizan, 2003.

Wojowasito, S. Kamus Umum Lengkap, Inggeris-Indonesia, Cet.X; Bandung: Pengarang,t.th.

Yusuf, A.Muri Pengantar Ilmu Pendidikan Cet.I; Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982.

 

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,827 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

%d bloggers like this: