Home » Adat » Budaya MANDAR

Budaya MANDAR

Latar Belakang

Kebudayaan pada dasarnya telah ada semenjak hadirnya manusia pertama dimuka bumi ini. Kebudayaan berfungsi memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik yang bersifat supranatuaral maupun kebutuhan materil. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut untuk sebagian besar dipenihi oleh kebudayaan yang bersumber dari masyarakat itu sendiri.

Kebudayaan  adalah sejumlah cita-cita, nilai, dan standar prilaku yang didukung oleh sebagian warga masyarakat, sehingga dapat dikatakan kebudayaan selalu pada setiap rumpun masyarakat di muka bumi. Meskipun demikian penting untuk disadari bahwa semua itu bukan berarti keseragaman. Dalam setiap masyarakat manusia, tedapat perbedaan-perbedaan kebudayaan khas dan unik.kemudian kebudayaan dapat dipahami sebagi identitas suatu rumpun masyarakat bersangkutan.

Mandar adalah nama suatu suku (etnis) yang terdapat di sulawesi selatan  dan nama budaya  dalam Lembaga Budayaan Nasional dan Lembaga Pengkajian Budaya Nasional. Diistilahkan sebagai etnis karena Mandar merupakan salah satu kelompok etnis dari empat suku yang mendiami kawasan provinsi Sulawesi Selatan yakni etnis Makassar (makasara’), etnis Bugis (ogi’), etnis Toraja (toraya). Pengelompokkan ini dimaksudkan dalam suatu kelompok pengkajian yang disebut “lagaligologi”.


Mandar sesuai dengan makna kuantitas yang dikandung dalam konteks geografis merupakan wilayah dari batas paku (wilayah polmas) sampai surename (wilayah kabupaten mamuju). Akan tetapi dalam makna kualitas serta symbol dapat kita batasi diri dalam lingkup kerajaan Balanipa sebagi peletak dasar pembangunan kerajaan (landasan idial dan landasan structural), dan sebagai bapak perserikatan seluruh  kerajaan dalam wilayah mandar Pitu ulunna Salu dan Pitu Ba’pana  Binanga.

Suku mandar adalah satu-satunya suku bahari dinusantara yang berhadapan langsung dengan laut dalam, tanpa ada pulau yang bergugus. Teknologi kelautan mereka sudah demikian sistematis, yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka.  Mandar sebagai salah satu suku di sulawesi selatan memiliki aneka ragam corak kebudayaan yang khas. Dengan kekhasan kebudayaan mandar tersebut maka deskripsi suku mandar ini saya angkat dalam makalah saya ini.

IDENTIFIKASI

Wilayah suku mandar terletak diujung utara Sulawesi Selatan tepatnya di Sulawesi Selatan bagian barat dengan letak geografis antara 10-30 lintang selatan dan antara 1’180-1’190 bujur timur

Luas wilayah Mandar adalah 23.539,40 km2, terurai dengan :

1. luas kabupaten Mamuju dan Mamuju Utara     : 11.622,40 Km2

2. luas kabupaten Mameje                         : 1.932 Km2

3. luas kabupaten Polewali Mamasa                    : 9.985 Km2

Semula dari zaman dahulu, dizaman perjanjian atau Allamungang Batu di Lujo, batas-batas wilayah Mandar adalah :

a) Sebelah Utara dengan Lalombi, wilayah Sulawesi Tengah

b) Sebelah timur dengan kabupaten poso, kabupaten Lawu dan Kabupaten Tana Toraja.

c) Sebelah selatan dengan Binanga Karaeng, kabupaten Pinrang

d) Sebelah barat dengan Selat Makasar.

Kini batas Mandar di utara berubah menjadi Suremana, yang berarti kita kehilangan wilayah lebih dari 10 km, dan juga kehilangan 10 km di selatan, karena batas wilayah Mandar di selatan sekarang sudah bukan Binanga Karaeng, tetapi Paku.

KEBUDAYAAN SUKU MANDAR DILIHAHAT DARI UNSUR-UNSUR BUDAYANYA

Berikut merupakan kebudayaan suku Mandar dilihat dari unsur-unsur budayanya:

I. Agama

Pada umumnya dewasa ini suku Mandar adalah penganut agama Islam yang setia tetapi dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat lepas dari kepercayaan-kepercayaan seperti pemali, larangan-larangan dan perbuatan magis seperti pemakaian jimat atau benda-benda keramat dan sesaji.

Didaerah pedalaman seperti di pegunungan Pitu Ulunna Salu sebelum Islam masuk, religi budaya yang dikenal ketika itu adalah adat Mappurondo yang diterjemahkan sebagai bepeganng pada falsafah Pemali Appa Randanna.

Sedangkan untuk wilayah persekutuan Pitu Ba’bana Binanga sendiri, religi budayanya dapat ditemui pada peningglaanya yang berupa ritual dan upacara-upacara adapt yang tampaknya bisa dijadikan patokan bahwa ia besumber dari religi budaya dan kepercayaan masa lalunya. Seperti ritual Mappasoro (menghanyutkan sesaji di sungai) atau Mattula bala’ (menyiapkan sesjai untuk menolak musibah) dan lain sebagainya yang diyakini akan membawa manfaat kepada masyarakat yang melakukannya. Dari sini jelas tampak betapa symbol-simbol budaya itu berangkat dari religi budaya, yang untuk itu tidak dikenal dalam Islam.

II. Mata Pencarian

Masyarakat Mandar memiliki mata pencarian sebagai nelayan. Melaut bagi suku Mandar merupakan sebuah penyatuan diri dengan laut. Chistian Pelras dalam Manusia bugis (Nalar, 2006) menilai bahwa sebenarnya leluhur orang Mandarlah yang ulung melaut bukan orang Bugis seperti pendapat banyak orang.

Rumpon atau roppong dalam bahasa Mandar adalah tehnologi penangkapan ikan yang pertama kali ditemukan oleh pelaut Mandar, perahu sandeq adalah perahu tradisional bercadik yang tercepat dan ramah lingkunagn dikawasan Austronesia. Ide penciptanya berasal dari aral yang ditemukan pelaut mandar dilaut.

Mencari hidup dilaut bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dilaut. Dikampung-kampung Mandar, alat tangkap tak semuanya sama, ada yang menggunakan sandeq dan ada juga yang menggunakan Baago, perahu Mandar yang tak bercadik.

Sistematis pengetahuan yang harus dimiliki nelayan Mandar, terdiri dari kegiatan: berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang) dan kegaiban (biasa disebut paissangang). Sebelum melaut, mereka melangsungkan upacara Kuliwa, yaitu pemujaan terhadap sang pencipta, sebagai prasyarat melaut. Upacara Kuliwa ini semakin berarti dalam aktivitas Motangnga yaitu mengakap ikan terbang beserta telurnya diakhir musimbarat dan diawal musim timur (april-agustus).

III. Sistem Kekerabatan

Suku Mandar, pada umumnya mengikuti kedua garis keturunan ayah dan ibu yaitu bilateral.

Suku Mandar biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang biasanya bersekolah di daerah lain. Adapun keluarga luas di Mandar terkenal dengan istilah Mesangana, kelurag luas yaitu famili-famili yang yang dekat an sudah jauh tetapi masih ada hubungan keluarga.

Status dalam suku Mandar berbeda dengan suku Bugis, karena didaerah Bugis  pada umunya wanita yang memegang peran   dalam peraturan rumah tangga. Suami sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas keluarganya mempunyai tugas tertentu, yaitu mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Sebaliknya di Mandar, wanita tidak hnaya mengurus rumah tangga, tetapi mereka aktif dalam mengurus pencarian nafkah, mereka mempunyai prinsif hidup, yaitu Sibalipari yang artinya sama-sama menderita (sependeriataan) seperti: kalu laki-lakinnya mengakap ikan, setelah samapi didarat tugas suami sudah dianggap selesai, maka untuk penyelesaian selanjutnya adalah tugas istri terserah apakah ikan tersebut akan dijual atau dimakan, dikeringkan, semua itu adalah tugas si istri. Didaerah Bugis wanita juga turut mencari nafkah tetapi terbatas pada industri rumah, kerajinan tangan, menenun anyaman dan lain-lain.

Didaerah Mandar terkenal dengan istilah hidup, Sirindo-rondo, Siamasei, dan Sianuang pa’mai.

Sirondo-rondoi maksudnya bekerjasama Bantu membantu dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan baik yang ringan maupun yang berat. Jadi dalam rumah tangga kedua suami istri begotong royong dalam membina keluarga. Siamamasei, sianuang pa’mai ( sayang menyayangi, kasih mengasihi, gembira sama gembira susah sama susah).

Secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya kerjasama Bantu membantu baik yang bersifat materil maupun non materil.

IV. Bahasa

Suku mandar menggunakan bahasa yang disebut dengan bahasa mandar, hingga kini masih dengan mudah bisa ditemui penggunaannya di beberapa daerah di Mandar seperti: Polmas, Mamasa, majene, Mamuju dan Mamuju Utara.

Kendati demikian di beberapa tempat atau daerah di Mandar juga telah menggunakan bahasa lain,seperti untuk Polmas di daerah Polewali juga dapat ditemui penggunaan bahasa Bugis. Begitu pula di Mamasa, menggunakan bahasa Mamasa, sebagai bahasa mereka yang memang di dalamnya banyak ditemui perbedaannya dengan bahasa Mandar. Sementara di daerah Wonomulyo, juga dapat ditemui banyak masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa, utamanya etnis Jawa yang tinggal dan juga telah menjadi to Mandar di daerah tersebut.Kecuali di beberapa tempat Mandar, seperti Mamasa. Selain daerah Mandar atau kini wilayah Provinsi Sulawesi Barat tersebut, bahasa Mandar juga dapat ditemukan penggunaannya di komunitas masyarakat di daerah Ujung Lero Kabupaten Pinrang dan Tuppa Biring Kabupaten Pangkep.

V. System Kemasyarakatan

Pelapisan masyarakat di daerah Mandar nampaknya masih ada walaupun tidak menjadi hal yang mutlak dikedepankan lagi dalam pergaulan keseharian.Hal ini dapat diperhatikan jika kita membaca sejarah Mandar.

Kerajaan-kerajaan yang masih mempunyai kedaulatan  pada masa berkuasanya raja-raja dahulu hakekatnya terbagi dalam dua stratifikasi,yaitu lapisan penguasa dan lapisan yang dikuasai.Sistem mobilisasi social yang Mandar memiliki sifat yang amat sederhana dan elastis dimana lapisan penguasa bukan hanya dari golongan tomaradeka (orang biasa),apabila mereka mampu memperlihatkan prestasisosialnya,misalnya : to panrita,to sugi,to barani,to sulasana,dan to ajariang.

Kelima macam tersebut ditempatkan dalam lapisan elit (golongan atas orang yang terpandang ).Dengan demikian terjadilah mobilisasi social horizontal bagi anak puang.Lambat laun nampak pelapisan masyarakat ini makin tipis akibat pembauran dalam bentuk perkawinan.Kelima golongan tadi juga memiliki andil untuk dipilih sebagai pemimpin dalam masyarakat karena kelebihannya itu.

Struktur masyarakat di daerah Mandar pada dasarnya sama dengan susunan masyarakat di seluruh daerah di Sulawesi Selatan,dimana susunan ini berdasarkan penilaian daerah menurut ukuran makro yaitu : 1. Golongan bangsawan raja, 2. Golongan bangsawan hadat atau pia, 3. Golongan tau maradeka yakni orang biasa, 4. Golongan budak atau batua.

Golongan bangsawan adapt ini merupakan golongan yang paling bayak jumlahnya.Mereka tidak boleh kawin dengan turunan bangsawan raja supaya ada pemisahan.Raja hanya sebagai lambing sedangkan hadat memegang kekuasaan.

Pada umumnya suku Mandar ramah-ramah yang muda menghormati yang tua.Kalau orang tua berbicara dengan tamu,anak-anak tidak boleh ikut campur (ikut bersuara).Ada beberapa hal yang menjadi kebiasaan dalam suku Mandar seperti:

a. Mengalah yaitu kalau menghadap raja,kaki tangan dilipat.

b. Meminta permisi kalau mau lewat didepan orang dengan menyebut Tawe

c. Kalau bertamu sudah lama, mereka minta permisi yang disebut massimang.

VI. Perkawinan

Untuk perkawinan di daerah Mandar secara umum, garis besarnya melalui 14 fase seperti:

1) Massulajing

Massulajing  artinya mencalonkan dan mencocokkan antara dua orang yang akan di persunting. Fase ini dilakukan oleh orang tua si lelaki berssama keluarga terdekat. Ini bermakna saling menghargai antara keluarga dan merupakan isyarat bahwa pengurusan dan seluruh tanggung jawab akan menjadi tanggung jawab bersama.

2) messisi’ atau Mammanu’manu

messisi’ adalah langkah permulaan yang berfungsi sebagai pembuka jalan dalam rangka pendekatan pihak laki-laki terhadap pihak wanita. Tugas ini biasanya dilakukan oleh satu atau dua orang diambil dari orang-orang yang kedudukannya dapat menengahi urusan ini. Artinya dia ada hubungan keluarga dengan wanita dan juga ada hubungan kelurga dengan pihak pria.

Sifat kunjungan Messisi’ ini sangat rahasia. Sedapat mungkin pihal lain tidak mengetahuinya. Ada 2 hal yang ingin dicapai dalam kerahasian ini:

· Jika gagal pihak laki-laki tidak merasa malu.

· Untuk mencegah pihak lain yang ingin menghalangi hubungan ini.

Inti pembicaraan pada fase ini hanya menanyakan:

· Apakah si gadis……sudah ada yang meminang ?

· Apakah si………..anak dari si…….., dapat menerima jika datang melamar?

3) Mettumae atau Ma’duta

Mettumae atau ma’duta ialah mengirim utusan untuk melamar, merupakan proses lanjutan utuk lebih memastikan dan membuktikan hasil yang dicapai pada fase mammanu’-manu. Duta artinya utusan tediri dari bebrapa pasangan suami istri yang biasanya dari keluarga dekat, pemuka adat dan penghulu agama dengan berbusana secara adat.

Pada fase ini biasanya berlangsung ramai karena disini para utusan berkesempatan menyampaikan maksudnya secara simbolik melalui puisi atau ‘kalinda’da mandar’. Untuk fase ini contoh kalinda’danya sebagai berikut :

Pihak laki-laki :

“ Poleang me’oro candring

Dileba turunammu

Tandai mie’

Kalepu di batammu

Artinya :

“ Kami datang duduk menduta

Dikampung halamanmu

Suatu tanda

Cinta kami kepadamu”.

Jawaban pihak wanita :

“ Uromai pepolemu

Utayang pe’endemu

Maupa bappa

Anna mala sambasse”

Artinya :

“ Kedatanganmu kami jemput

Kutunggu maksud hatimu

Semoga beruntung

Kehendak kita dapat bertemu”

Sampai pada kalimat terakhir yaitu

Pihak laki-laki :

“ Beru-beru dibanyammu

Pammasse’i appanna

Diang tumani

Tau laeng mappuppi”.

Artinya :

“ Kembang melati dalam rumahmu

Kuat-kuat pagarnya

Jangan sampai ada

Orang lain yang memetiknya”

Jawaban dari pihak wanita :

“ Beru-beru di boya’i

Masse’ banggi appanna

Takkala  ula

I’o nammabuai”

Artinya :

“ kembang melati dirumah kami

Pagarnya cukup kuat

Kami sepakat

Engkaulah yang membukanya”.

Menyimak jawaban terkhir dari pihak wanita menendakan bawa lamaran diterima. Dengan demikian fase berikutnya yaitu: “Mambottoi Sorong”. Ketentuan utama dari fase ma’duta adalah :

§ Pihak laki-laki harus membawa uang yang di sebut “pamuai ngnga yaitu uamh pembuka mulut”

§ Segala bahan konsumsi ditanggung oleh pihak laki-laki, dan diantar ke pihak wanita bersamaan pemberitahuan hari mambotoi sorong.

4) Mambottoi Sorong

Sorong atau mas kawin adalah sesuatu yang memiliki nilai moral dan material yang mutlak ada dalam suatu perkawinan. Tanpa adanya mas kawin, perkawianan dianggap tidak sah menurut aturan adat maupun menurut syariat Islam.

Sedang menurut adapt istiadat suku Mandar, “sorong” adalah gambaran harga diri dan martabat wanita yang ditetapkan menurut aturan adat yang disahkan oleh  hadat yang tidak boleh diganggu gugat atau ditawar-tawar naik turunnya. Seorang ini adalah milik si wanita yang harus diangkat oleh si pria menurut strata si wanita itu sediri. Sampai saat sorong didaerah mandar dikenal lima tingkatan :

a. Sorong bagi anak raja yang berkuasa menggunakan istialah “Tae” yang nilai realnya berfariasi :

· Satu tae balanipa nilainya  4 real

· Satu tae sendana nilainya  3 real

· Satu tae banggae nilainya  2½ real

· Satu tae pamboang nilainya 2½  real

· Satu tae tappalang nilainya  2½  real

· Satu tae mamuju nilainya  2½  real

· Satu tae binuang nilainya 2½  real

b. Sorong anak bangsawan 180 dan 300 real

c. Sorong Tau anak pattola hadat bisa 120 atau 160 real .  Jika sedang berkuasa menjadi anggota hadat bisa 200 real.

d. Sorong tau samar (orang biasa), 60 dan 80 real

e. Sorong to batua (budak), 40 real kemudian sorongnya diambil oleh tuannya.

Semenjak suku mandar, Bugis, Makasar, dan Toraja itu lahir di Sulawesi selatan, telah lahir dan berkembang pula  budaya  dan adat-istiadat yang mendasari dan mengatur kegiatanya masing-masing.

Bila kegiatannya dilakukan dengan suku yang sama maka tidak akan ada masalah. Kalaupun ada masalah penyelesaiannya mudah karena sama-sama berpegang pada budaya dan aturan adat yang sama. Tetapi bila kegiatan itu, masalnya perkawinan dilakukan oleh suku yang berlainan maka timbul masalah tentang budaya dan aturan adat mana yang akan mendasari perkawianan tesebut.

Jika kedua belah pihak bersikeras ingin menerapkan budayanya masing-masing, maka perkawinan yang seharusnya terlaksana dengan baik, bisa menjadi batal. Yang demikian ini banyak terjadi bagi yang belum mengetahui kesepakatan “aturan adat” di sulawesi selatan yang diletakkan oleh tiga bersaudara yaitu I-TabittoEng Balanipa (Mandar), La Palangki Aru Palakka (Bugis) dan I-Rerasi Gowa (Makassar) sekitar tahun tahun 1460 M yang isinya dalam bahasa Indonesia :

“Orang Mandar dan orang Gowa pergi ke Bona, maka Bonelah dia; orang Mandar dan orang Bone pergi ke Gowa maka Gowalah dia; jiak orang Gowa dan orang Bone pergi ke Manar, maka Mandarlah dia”

Ini mengandung pengertian bahwa orang Mandar dan orang Gowa (Makassar) yang berada di Bone (Bugis) harus menggunakan atau memakai adat-istiadat Bone (Bugis) dan sebaliknya seterusnya

Jika pria Gowa (Makassar) akan melamar wanita Mandar, menurut adat harus datang melamar di Bandar. Karean acara ini dilakukan di Mandar (dalam lingkungan pihak wanita) maka sesuai kesepakatan adat di Sulawesi Selatan yang harus mendasari   pelamaran, perkawinan dan seluruh rangkaiannya adalah budaya dan adat-istiadat Mandar, termasuk “sorong” atau “mas kawin” dan sebaliknya seterusnya.

Meskipun ada aturan-aturan adat yang disepakati seperti tersebut diatas, jika ada perselisihan tentang hal ini masih ada jalan lain yang dibenarkan oleh aturan adat dan kaidah yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Sulawesi Selatan selama ini berbunyi :

“Matindoi ada’mua’diang sasamaturuang”

Artinya :

“Aturan-aturan adat (bisa) tidak berlaku bagi pihak-pihak yang ingin berdamai atau  mencari kesepakatan lain yang baik”.

Mambottui sorong artinya memutuskan (menetapkan) mas kawin. Pada fase ini seluruh permasalahan yang berhubungan dengan persyaratan mas kawin dan pelaksanaannya telah dibicarakan dan diputuskan, utamanya mengenai sorong itu sendiri, belanja, waktu pelaksanan akad nikah, paccandring dan lain-lain.

Pada acara ini biasa berjalan ramai dan seru karena “sipappa soro-sorong” artinnya saling desak-mendesak untuk mengabulkan usul masing-masing. Dikatakan ramai karena usul ini biasanya dapat disampaikan secara simbolik dengan kalinda’da Mandar yang contohnya sebagai berikut :

Pihak laki-laki :

“ Poleang ma’lopi sande

Lima ngura sobalna

Merandang jappo

Mewalango ta’garang”

Artinya :

“ Kami datang berperahu sande

Lima urat kain layarnya

Bertali-jangkar lapuk

Jangkarnya juga sudah berkarat”

Satu hal yang harus diperhatikan dalam penyampaikan lamaran kepada pihak wanita yaitu kalinda’da yang digunakan harus yang bersifat merendah hati, tidak boleh menyombongkan diri karena bangsawan, karena kaya, karena pintar, dan lain-lainnya.

Jika tahap pambottuiangan sorong ini mencapai kesepakatan maka tahap selanjutnya dapat dilakukan.

5) Membawa Paccanring

Membawa paccandring adalah pernyataan rasa gembira oleh pihak laki-laki atas tercapainya kesepakatan tentang sorong dan besar belanja. Yang dibawa dominan buah-buahan segala macam dan sebanyak mungkin. Menurut kebiasaan, paccanring ini dibagi-bagikan kepada segenap keluarga dan tetangga, dan pengantarnya harus dengana arak-arakan.

6) Ma’lolang

Adalah perkunjuangan laki-laki bersama sahabat-sahabatnya kerumah wanita. Ini merupakan pernyataan resminya pertunangan dan perkenalan pertama laki-laki yang akan dikawinkan kepada segenap keluarga pihak wanita.

Yang dilakukanya antara lain mengadakan permainan musik Gambus, Kecapi dan lain-lain. Mengenai konsumsi dalam acara ini ditanggung sepenuhnya oleh pihak laki-laki.

7) Mappadai Balaja

Artinya pihak laki-laki mengantar uang belanjaan yang telah disepakati kepihak wanita dengan arak-arakan yang lebih ramai lagi. Ini dilakukan sebelum ‘mata gau’ dan diantar sesuai permintaan pihak wanita.

8) Mappasau

Dilakukan pada malam hari menjelang besoknya persandingan. Mappasau artinya mandi uap, dimaksudkan agar semua bau busuk yang yang mungkin ada pada mempelai wanita menjadi hilang.

Bahannya terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang disebut “daun bunga” sejenis daun pandan dan beberapa campuran rempah-rempah lainnya. Cara melaksanankan pappasaungan ini ialah, bunga dan campurannya berupa dedaunan yang harum baunya direbus dengan air sampai mendidih. Mulut belanga diberi bungkus kain dan di lubangi. Pada lubang tersebut dipasangi saluran saluran bambu. Si gadis menyelimuti tubuhnya engan kain setebal mungkin. Setelah si gadis mengeluarkan keringat dan dianggap sudah memadai selimut dibuka. Setelah itu sigadis dimandikan untuk membersikan sisa-sisa uap yang melekat pada badan si gadis. Sesudah itu selesailah acara Pappasaungan.

9) Pallattigiang

Pallatiang dalam suku Mandar ada  3 yaitu pellattigiang secara adat, pelattigiang adat oleh raja-raja, an pelattigiang secara pauli atau obat.

Pelaksanaan pelattigiang waktunya ada 2 macam :

  • Bersamaan dengan hari akad nikah
  • Sehari sebelum akad nikah

Pelaksanaan pellattigiang secara adat harus berbusana lengkap dengan keris di pinggang, khusus pellattiang pauli (obat), busana dan kelengkapan lainnya bebas.

10) Mambawa Pappadupa

Adalah perkunjungan utusan pihak wanita ke rumah pihak laki-laki membawa “lomo masarri atau manyak wangi” dan busana yang akan dipakai pada saat akad nikah. Maksud utama dari padduppa ini adalah pernyataan kesiapan dan kesedian calon mempelai wanita untuk dikawinkan. Ini dilakukan pada malam hari, menuju esonya akan dinikahkan.

11) Matanna Gau

Merupakan puncak dari  segenap acara yang ada dalam upacara perkawinan. Pada bagian ini dilakukan arak-arakan yang lebih ramai ari sebelumnya untuk mengantar calon mempelai pria kerumah calon mempelai wanita.

Ada dua hal pokok yang diantar, yaitu calon mempelai laki-laki dan mas kawin. Mas kawin dipantangkan bepisah dari calon mempelai laki-laki sebelum di serahkan pada wali mempelai wanita. Untuk meramaikan iring-iringan turut diantar barang-barang yang diatur sebagi berikut :

  1. Lomo atau minyak dimaksudkan agar acar berjalan dengan mulus dan jika ada kesulitan mudah penyelesaiannya.
  2. Gula atau manis-manisan, dimaksudkan agar pelaksanaan acara berjalan dengan baik.
  3. Kappu bunga-bungaan atau harum-haruman dimaksudkan agar kemulusan dan kebaikan pelaksanaan acara ini tersohor di segenap penjuru.
  4. Masi-masigi dimaksudkan agar calon pihak mempelai pria dan wanita senantiasa searah dan keseinginan, dan sekaligus menjadi tanda bahwa yang diarak ini beagama Islam.
  5. Bualoa artinya seperti pajak dari nilai kesepakatan. Ini dibagi-bagikan oleh adapt dalam upacara.
  6. Kelompok pengantar dari golongan wanita.
  7. Calon mempelai pria bersama mas kawin yang dibawa oleh seorang laki-laki kuat asmnai dan rohani serta dapat dipercaya.
  8. Kelompok pengantar laki-laki.
  9. Kelompok musik rebana.

Calon pengantin pria bersama sorong dan pembawanya berada dibawah payung. Setelah calon mempelai pria tiba dihalaman rumah calon pengantin wanita, dia dijemput oleh seorang famili dari mempelai wanita. Sesampai di tangga diemput dengan taburan beras ini dimaksudkan agar kedua suami-istri kelak dapat membangun rumah tangga yang makmur, berbahagialahir dan batin.

Urutan acara pada mata gau :

§ Pembacaan ayat suci Al-Qur’an

§ Pellattingiang berlangsung bersama-sama dengan tarian

§ Penyerahan mas kawin

§ Penyerahan perwalian dari wali calon mempelai wanita kepada orang yang akan menikah

§ Pelaksanan ijab Kabul

§ Pengucapan ikrar mempelai pria terhadap mempelai wanita

§ Mappasinga’ang artinya melakukan pegangan sah yang pertama.

§ Pemasangan cincin kawin bergantian

§ Saling menyuapi makan

§ Memohon doa restu ke-4 orang tua, dan sanak famili yang lain dari ke-2 belah pihak

§ Kedua mempelai duduk bersama di pelaminan untuk menerima tamu.

12) Nilipo

Merupakan kunjungan keluarga pihak mempelai pria keruamh mempelai wanita. Ini dilakukan paling tidak 3 kali berturut-turut setiap malam sesudah salat isya.

Ini dimaksudkan untuk mempererat hubungan kekeluargaan antara kelurga kedua belah pihak. Kesempatan ini pula diadakan acara ‘mappapangino’ yaitu mempelai laki-laki mencari, memburu dan menangkap memoelai wanita.

13) Mando E Bunga

Artinya mandi bunga untuk menharumkan dan membersihkan diri dari hadas besar yang mungkinterjadi sesudah akad nikah. Ini dilakukan bersama-sama  kedua mempelai dalam tempayan yang satu, untuk memasuki tahap berikutnya.

14) Marola atau Nipemaliangngi

Marola artinya mengikut atau rujuk ialah perkunjungan kedua mempelai kerumah mempelai pria. Kegiatan ini dilakukan hanya untuk bersenang-senang, bermain musik dan lain-lain. Kesempatan ini biasa orang tua pria melakukan pemberian barang-barang berharga seperti tanah, perkebunan, rumah dan sebagainya sebagai pernyataan syukur dan gembira terhadap terlaksananya perkawinan tersebut.

VII. Seni dan budaya

1. Seni Sastra

Bentuk sastra Mandar ada 2 (dua) yaitu :

a. Bentuk prosa yaitu karangan bentuk bebas tetapi berirama.

b. Bentuk puisi yaitu karangan bentuk terikat dan berirama.

Karangan bentuk prosa disebut juga cerita dan meliputi :

- Pomolitang atau pau-pau losong (dongeng) dengan menggambarkan tingkah laku binatang yang baik dan buruk yang dapat dicontohi oleh manusia, misalnya dongeng I Puccecang annaq I Pulladoq (Kera denagan Pelanduk), di mana kera melaksanakan sifat yang baik dan pelanduk melaksanakan sifat yang kurang baik.

- Toloq (kissah) menggambarkan liku-liku kehidupan dari seseorang tokoh dalam masyarakat misalnya kisah Tonisesseq di Tingalor (seorang bidadari jatuh dari kayangan dan ditelan oleh seekor ikan Tingalor).

- Sila-sila (silsilah) menggambarkan suatu kerajaan dan nama-nama rajanya secara turun-temurun, misalnya silsilah raja-raja di Pamboang, Sendana, Banggae dsb.

- Pau-pau pasang atau Pappasang (pesan-pesan luhur) menggambarkan ajaran normal, nasihat dan petuah bagi kehidupan seseorang, keluarga dan bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas, misalnya pesan orang tua terhadap anak-anaknya, pesan seorang kakek terhadap pasangan suami isteri, pesan seorang sesepuh kepada warga masyarakat, pesan-pesan raja pada rakyatnya.

Karangan bentuk puisi disebut juga kalindaqdaq. Suatu bentuk penuturan perasaan seseorang dengan untaian kalimat-kalimat indah.

Terdiri dari 4 (empat) baris dalam satu bait, dan dalam satu bait susunan suku katanya terdiri dari 8-7-5-7. Bersaak a.b.a.b atau abba atau aaaa. Menurut isinya kalindaqdaq ini dari 6 (enam) macam yaitu :

- Kalindaqdaq Muda mudi

- Kalindaqdaq Masaqala (Keagamaan)

- Kalindaqdaq Mappakatuna Alawe (Merendahkan diri).

- Kailindaqdaq pepatudu (Nasihat)

- Kalindaqdaq Pettommuaneang (Kepahlawanan).

- Kalindaqdaq Pangionoang (Humor)

2. Seni Gerak Tradisional

Seni gerak tradisional atau tari dalam bahasa Mandar disebut “TUQDUQ” dan pelakunya disebut “PATTUQDUQ”.

Dahulu pada pemerintahan raja-raa di Mandar pattuqduq digolongkan atas 3 (tiga) macam menurut stratifikasi pelaku dan kebutuhannya yaitu :

  1. Pattuqduq anaq pattola paying , oleh bangsawan penuh.
  2. Pattuqduq anaq pattola tau pia, oleh keturunan hadat (masing-masing dipertunjukkan apabila ada upacara kerajaan).
  3. Pattuqduq tau biasa,oleh orang umum, dipertunjukkan apabila sewaktu-waktu ada acara raja dan anggota hadat dipertunjukkan sebagai hiburan rakyat.

Jenis tari tradisional ini adalah :

- Sarwadang

- Kumabaq

- Cakkuriri

- Palappaq

- Losa-losa

- Sawawar

- Sore

- Dego

Pelakunya ada khusus anak-anak gadis ada pula khusus anak-anak putra. Dilakukan dengan ayunan tangan yang lemah lembut dan gerakkan kaki yang seirama dengan pukulan genang.Gerakan ke depan dengan angkat dan uluran tangan ke samping serta tebaran kipas silih berganti jongkok putar dan berdiri lalu maju dst.

Dewasa ini di samping tuqduq tradisional yang modernisasi juga telah bermunculan pula tari kreasi baru seperti : Tari Tomassengaq, Tari Pahlawan, Beruq-beruq to Kandemeng, Tari Layang-layang, Tengga-tenggang Lopi, Parri-Parriqdiq, Toaja dll.

Di  dalam melaksanakan acara ini para pemnna menggunakan keris dengan sebagai berikut :

  1. Pelakunya jongkok,lutut sebelah kiri bertumpuh ke tanah.
  2. Sementara mengucapkan Sumpah Setia teqo (gagang) keris dipegang terus dengan tangan kanan.
  3. Selesai mengucapkan Sumpah Setia, secepat kilat keris dicabut dari sarungnya dengan :

- Tidak boleh melintasi tubuh raja yang akan menerima Ikrar atau Sumpah Setia itu. Bila terjadi sengaja atau tidak dianggap kurang sopan dan dapat dipassala (dihukum).

- Ujung keris mengarah ke belakang, atau ke kiri.

Ikrar yang diucapkan berlain-lainan, disesuaikan dengan jabatan tingkatan orang yang memanna. Misalnya di kerajaan Pamboang terdiri atas :

- Famili raja yang tidak punya jabatan.

- Anggota Hadat

- Andongguru joaq matoa dan malolo

- Sariang, Kalula, dll.

3. Seni Vokal dan Instrumental

Seni vokal orang Mandar dapat dikenal melalui lagu-lagu rakyat antara lain:

a. Ayngang Peondo (lagu untuk menina-bobokkan anak)

b. Ayangang Meqdaq (lagu yang dinyanyikan dengan iringan petikan kecapi sambil menyidir pemuda yang kena sindiran masuk di tengah arena peqoro untuk mappaccoq. Acara meqdaq ini dapat dilakukan pada waktu malam dan dapat berlangsung sampai larut malam.

c. Ayangan Toloq (lagu yang dinyanyikan dengan iringan keke atau kecapi), dilakukan pada waktu malam. Isi nyanyian yang dibawakan menggambarkan atau memaparkan suatu kejadian atau peristiwa, baik berupa biografi seseorang maupun romantis.

d. Ayangan Tipalayo (lagu yang dinyanyikan oleh seseorangdengan iringan kecapi untuk menyalurkan perasaan rindu lelaki terhadap pujaannya atau kekasihnya). Biasanya dinyanyikan pada saat bulan purnama dikala seseorang sedang rindu kepada sang kekasih. Ayangan ini ada 2 (dua) macam yaitu :

- Tipalayo Biasa

- Tipalayo Canandi

Ayangan Tipalayo ini pada mulanya muncul di Luaor Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene oleh seorang pemuda nelayan ketika sedang di laut lepas menangkap ikan.Untuk melawan kantuk dan sementara dimabuk rindu kepada sang kekasih gadis pujaan yang ada di kampong halaman. Karena kebetulan perawakan tubuh sang kekasihnya tinggi semampai, maka dengan spontan menyanyilah sang pemuda tersebut dengan ayangan tersendiri yang dimulai dengan kata “TIPALAYO”. Kosa kata Tipalayo ini terdiri dari dua buah kata dasar yakni ; tipa dari kata matipa yang artinya lemah lembut atau semampai , layo sama denagn malayo atau malinggao yang artinya tinggi. Jadi “TIPALAYO” artinya “TINGGI SEMAMPAI”. Selanjutnya lagu tersebut popular dengan nama “AYANGANG TIPALAYO”. Demikian populernya ayangan ini, maka kata Tipalayo ini diabadikan.

e. Ayangang Nasauaq Dialangang (lagu untuk menjemput Ammana I

I Wewang seorang raja juga seorang pahlawan menentang penjajah Belanda yang dibuang ke Belitung).

f. Ayangang Buraq Sendana (lagu yang diciptakan oleh permaisuri seorang  raja Balanipa bergelar Toniallung di Kaeli) untuk menyalurkan perasaannya rindunya kepada sang suami yang tak kunjung datang (kembali ke Balanipa).

g. Ayangan Sayang-sayang (lagu yang menyatakan perasaan rindu dan cinta kasih di kalangan muda-mudi ). Biasanya dibawakan oleh oleh dua orang penyanyi secara berbalasan dan diiringi ndengan petikan gitar.

h. Ayangan Tomenjari Luyung (lagu yang memithoskan seorang ibu yang menjelma menjai seekor ikan duyung yang meninggalkan seorang anak yang masih menyusu).

i. Dan beberapa lagu klasik lainnya seperti : Andu-andu ruqdang (berasal dari kata andiq-andiq duruqdang), Kelloqmaq, Gayueq, Kanjilo dll.

Lagu-lagu klasik pada zamannya itu biasanya dilagukan dengan iringan alat-alat instrumental tradisional pula seperti :

- Kecaping, Sattung, alat nikoqbiq (dipetik)

- Suling, keke; alat nituei (ditiup)

- Gesoq; alat nigesoq (digesek)

- Jarumbing ; alat nepettuttuang (dipukulkan)

- Ganrang, gong, tawaq-tawaq, calong, katto-kattoq, alat nituttuq (dipukul)

Lagu-lagu yang telah dimodernisir dan lagu-lagu modern dibawakan oleh para biduan dengan iringan alat-alat instrumental modern pula melalui group-group musik dan Band yamg sedang bermunculan di daerah ini oleh seniman putra-putri Mandar sendiri yang cukup berbakat.

Lagu-lagu tersebut antara lain : Battu Timor, Diwattu Talloqbeqna, Passurunggaqi Salili, Tengga-tenggang Lopi, Tunggara Pallariko, Duriang Anjoro Pitu, Rapang Daiq Timbogading, Abaga, Pappukaq dll.

j. Untuk menghibur orang-orang sakit adanya suatu ayangang yang disebut  “Ayangang Layauela”, nyanyian yang bersifat menyembuhkan penyakit ; sama dengan pelipur lara. Biasanya dinyanyikan oleh 2 (dua) orang dukun secara bersamaan.

4. Seni Rias

Macam seni rias tradisional orang Mandar adalah :

    1. Rias pada tubuh, simbolong atau kondeq (sanggul = gulungan rambut di kepala), tappu-tappung (bedak dari beras untuk rias pada muka perempuan, gincu (pemerah bibir khusus wanita), paccilaq (penghitam alis khusus perempuan).
    2. Rias pada pakaian : gallang (gelang pada lengan wanita), atti-atting (anting-anting), paku-paku (sejenis anting-anting), beros (peniti dari emas), ratte-ratte (kalung rantai), tombi-tombi (kalung pada anak-anak wanita), simaq-simang (gelang untuk anak-anak wanita).
    3. Rias untuk pattuqduq seperti : kawariq (kalung besar), gallang balleq (gelang lebar), dali (subang) dan bakkar.
    4. Baju tradisional untuk pakaian adapt bagi wanita adalah pasangang (warna merah, hijau dan ungu) yang masih gadis dan baju pokko warna sembarang. Pasangang (warna putih, biru atau hitam) yang sudah kawin.
    5. Sarung, pada umumnya sarung sutra dikenakan apabila menhadiri suatu acara atau hal-hal yang dianggap penting dengan corak bermacam-mcam misalnya :

- Sureq padada : warna dasar merah, bergaris-garis putih dan biru atau hitam.

- Sureq lowing : tidak punya warna dasar corak besar-besar dengan warna merah jambu, coklat, hijau dll.

- Sureq pengulu : warna dasar hitam bergaris-garis putih dan coklat tua.

- Sureq tunggeng : warna dasar sembarang seperdua dari sarung itu coraknya dibuat berlawanan.

- Sureq pandeng kammuq : warna dasar ungu, bergaris-garis putih, coklat dll.

- Untuk laki-laki songkok. Sokkoq ada 3 macam yakni : Sokkoq lotong (kopiah hitam), sokkoq Bone) dan saputangan (destar).

Khusus songkok hitam, pemasangannya harus sedemikian rupa, tidak terlalu miring ke samping kanan atau kiri tidak mencuat ke muka atau ke belakang sebab akan mudah atuh dan dianggap kurang sopan. Dan pemasangan melintang, berarti orangnya lapar atau kurang sehat.

Teknik membuat sarung Mandar

Benang sutera dimasak dengan pewarna dari daun-daunan sesudahnya dimasak, dicici lagi bersih-bersih, setelah itu barulah digulung dan selanjutnya ditenun.Pada umumnya sarung Mandar warnanya suram, seperti hitam, merah tua, coklat tua.

5. Seni Rupa

Hasil seni rupa yang dapat kita nikmati sebagai hasil seni rupa orang Mandar antara lain kita jumpai pada :

- Kayu puncak Qubah mesjid Al-Fatah Kec.Pamboang (Mesjid Agung Pamboang yang didirikan oleh Siiyed Zakaria dan RM.Suryo Dilogo terukir dengan motif huruf Arab atau Al-Qur”an.

- Jeppang (lesplan rumah ujung dan pangkal) dengan motif naga dan tumbuh-tumbuhan.

- Tiang bendera Kerajaan Balanipa “ISORAI” (Sinar Kemenangan) di mana wajah Arayang Todialing dan Puatta I Saranati dipahatkan sebelah-menyebelah.

- Butung-butung (kayu pada pertemuan ujung jeppang sebelah atas) dengan motif garis, daun dan bunga.

- Paqaling-aling (kayu bengkok kecil yang diinjak pada bual atau alat bongkar tanah.

- Teqo dan guma gayang (gagang dan sarung keris) dengan motif garis dan tumbuh-tumbuhan.

- Pammaluq, Passa, Talutang (masing-masing alat tenun) diukir dengan motif garis dan bidang-bidang segi empat,lingkaran dan segi tiga.

- Pamarung (puncak bagian muka belakang perahu baqgoq) dengan motif tumbuh-tumbuhan dan pada umumnya diberi warna hijau.

- Tindaq batu (batu nisam dengan motif garis tumbuh-tumbuhan.

- Tappere (tikar yang dibunga dengan pinggir yang berbagai macam corak dan pada umumnya kombinasi warna-warna merah hijau dan kuning.

- Suling (alat seni) dengan motif garis bidang-bidang segi empat dan lingkaran dengan warna hitam.

- Lariq (pion kayu pada dinding) dengan motif garis, daun, bunga dan lingkaran.

- Hiasan-hiasan dinding dengan motif an warna yang serasi dari bahan kain dan benag.

6.   Jenis Alat-Alat Tradisional

1.1. Alat-alat Produktif

- Alat-alat bertani

Uwase (kapak besar), bacci (kapak kecil), kowik passembaq (parang), pambuar (tual), peduiq (linggis), sodo (sodo), basse (pengikat padi), joppa (pemikul padi), pewulle (pemikul), kandao (sabit), daqala (bajak), raqapang (ani-ani).

- Alat-alat mengolah padi

Palungang (lesung panjang), issung (lessung), parridiq (alu), tappiang (tampi), Galeong (ayak besar).

- Alat-alat mengolah sagu

Passulung (alat pembelah batang), lakung (pemukul), saringang (alat untuk menyaring sagu), sakung (alat untuk menghancurkan sagu dari batangnya), balanu (uncak).

- Alat-alat untuk mengolah kopra

Endeq (tangga), kowiq (parang), passukkeang (alat untuk mengupas kulit kelapa), panisi (alat untuk mengeluarkan gading kelapa dari tempurung).

- Alat-alat untuk berburu

Doe (tombak), marepeq masandeq (bambu runcing), kowiq (parang).

- Alat Bantu untuk Mapparondong Lopi (menurunkan dan menaikkan perahu).

Pallaga seqde (penopang samping), paqdisang (pengganjal bagian bawah), sambeta (kayu penopang kiri-kanan),kalandada (kayu melintang bagian bawah), landurang (rel roda), kaqjoliq (roda), gulang (tali-temali).

- Alat-alat untuk beternak

Pattoq (tiang tambatan), gulang (tali), kaleqer (cincin hidung kerbau atau sapi), tallotong (alat mengikat kambing), balanu (uncak).

- Alat-alat untuk menangkap ikan

Bandoang (kail), tuluq (tali pancing), parrittaq (pancing untuk menangkap cumi-cumi), ladung (alat pemberat pancing), dapoq, buaro, dao-dao, lawaq (keramba), banding, panabe, jarring (alat penangkap ikan yang ditenun dari bahan serat tumbuh-tumbuhan), pukaq (pukat).

- Alat-alat tenun.

Cca, pamaluq, passa, talutang, awerang, balida, pattanraq, aleq, saqar, patakko, palapa, bitting kolliq, kolliq, toraq, pallossorang, pappamalinang, sissir daiq, (kesemuanya adalah alat untuk menenun), unusang roeng, galenrong, pappamalinang, ayungang, (alat untuk mengolah sutera), sautang (tempat membuat lungsing), balaqbaq (contoh corak)

- Alat-alat dapur atau memasak

Dapurang (dapur), patuapi (para-para), pallu (tempat belanga atau kuali dijerang), laliang (tungku), pattapang (anglo), talongngeq (semblokan), panasil (pangganjal), balenga (belanga), towang (tempat beras), gusi (tempayan), cibor (alat menimba air dari tempayan), suger (sendok nasi), sekor (gayung), sipiq (sepit), tulilling (embusan api), jepang (alat membuat jepa), kukusan, tapis (tapisan), paruq (parut), pekelluq (kukuran kelapa).

- Alat-alat membuat dan menyalakan api

Manggeseq (alat untuk membuat api dari bamboo), tulilling (alat menyalakan api ari bamboo bulat dan ini khusus dipakai menempa oleh pandai besi).

- Alat bantu mendirikan rumah

Pappeuma (alat untuk penegak), jakaq (alat penopang), gulang (tali), lakung (alat pemukul), pattuas (pengungkit).

- Alat-alat menganyam

Kowiq-kowiq (pisau), pangarruq (pisau raut), pandarris (alat untuk meraut), panetteq (alat untuk merapatkan).

- Alat-alat pertukangan

Guma kattang (gagang ketam), palu, paeq (pahat), kettang (kettam), petuttuq paeq (palu pahat), lakung (palu besar), bassiq (pelurus), soqolo (pelurus), bangko pakkattangang (kuda-kuda), passangerang (batu asah), garagaji (gergaji), gorogori (pelubang), seqo-seqong (engkol), batu toying (batu apung untuk menghaluskan barang yang telah dibuat).

1.2. Alat-alat Senjata

Gayang (keris), doe (tombak), badiq (badik), jambia (belati), kanda wulo (parang panjang), suppiq (sumpit), panah.

1.3 Wadah

Bakuq (bakul), karajing (keranjang), tedaq dan rakkiq (empat bahan makanan), tappiang (tampi), katoang (tempat air), bokki (alat mengambil air dari tanah liat), patti (peti), basung (tempat menyimpan pancing/alat perikanan).

Alat-alat Upacara

Pappeundungang (pedupaan), barang kuningan yang khusus dibeli seperti : pamenangang, tuquduang, rattiga, cepe-ceper, kapar jarangang, kappar (baki), laqlang (payung).

1.4 Alat-alat Kesenian

Alat yang dipetik               : kacaping, sattung

Alat yang ditiup                  : suling, keke

Alat yang digesek             : gesoq

Alat yang dipukulkan         : jarumbing

Alat yang dipukul               : calong, katto-kattoq, ganrang (gendang) dan

Yang dibeli dari luar, gong, tawaq-tawaq.

1.5 Alat-alat Transport

Alat transport di darat : tekek alat pikulan pada kua kolong (terompah), bakuq (alat menjunjung),lembar (alat pikulan di bahu), koroba (alat kendaraan yang ditarik kerbau atau sapi), bendi (alat kendaraan yang ditarik oleh kuda). Alat transport di sungai misalnya rakiq (rakit), lepa-lepa (sampan). Dan alat-alat transport di laut adalah berbagai macam type dan jenis perahu

B. Upacara Adat Suku Mandar

a. Akikah

Bagi keluarga yang mampu, akikah sebaiknya dilakukan sedini mungkin misalnya : hari ke-7, ke-14, dank e-21. Pada upacara ini ada 2 tata-cara pokok yaitu : pemotongan hewan dan pembacaan barzanji. Kemudian beberapa cara yang sering dikaitkan yaitu: pemberian/peresmian nama dan pengguntingan rambut.

Persiapan-persiapan yang diperlukan pada upacara ini antara lain : kue, songkol, pisang berbagai jenis. Kemudian alat-alat antara lain : gunting, kelapa muda yang telh dilubangi, patties atau lilin , dan dupa.

1. Pemotongan Hewan

Bagi anak laki-laki dianjurkan dipotongkan 2 ekor kambing dewasa, jantan dan sehat, sedangakan anak wanita dianjurkan seekor, juga dewasa, jantan dan sehat.

Secara tradisional pemotongan ini dimaksudkan sebagai syukuran, selamatan dan penolak bala dari gangguan roh-roh jahat.

2. Pembacaan Barzanji.

Pada saat dupa dan lilin dibakar, barzanji mulai dibaca, anak yang telah diakikah ditimbang oleh dukun beranak atau ibunya atau siapa saja yang ditunjuk di sekitar pembaca barzanji. Saat bacaan tiba pada kalimat “ASYARAKAL BADRU ALAINA”, pembaca barzanji, ibu yang memangku si bayi diangkat ke tengah-tengah para penggunting yang telah diundang untuk acara tersebut. Ada dua cara untuk melakukan pengguntingan rambut yaitu secara “aturan adapt” dan secara “biasa” atau “umum” atau “bebas”.

    1. Secara aturan adat dilakukan pengguntingan rambut menurut Anggota Hadat. Untuk Kerajaan Pamboang urutannya sebagai berikut :
    1. Kadhi Pamboang
    2. Maradia (bisa Maradia Matoa atau Maradia Malolo)
    3. Pabicara Bonde
    4. Pabicara Adolang
    5. Pabicara Lalampanua
    6. Suro Puang di Tawaro
    7. Suro Puang di Polo (ng).

    1. Secara umum bisa dilakukan sebagai berikut:

a. Kadhi atau Imam

b. Pejabat

c. Orang yana banyak anak dan berhasil mendidiknya

d. Orang berilmu pengetahuan

e. Orang kaya

f. Pemuka masyarakat yang disegani (berani)

g. Pemuka masyarakat yang dukun.

Setelah rambut bayi tergunting, guntingannya dimasukkan ke dalam kelapa muda yang sudah dilubangi, langsung oleh masing-masing para penggunting. Penggunaan kelapa muda pada acara ini, dimaksudkan agar si anak tetap kelihatan bersih dan tahan serangan penyakit.

Jika kita perhatikan acara pengguntingan rambut ini terlihat ada maksud-maksud tertentu dan rahasia dari orang tua si bayi, bahwa dengan pengguntingan rambut ini diharapkan si bayi kelak bernasib sama dengan para penggunting rambut pada acara ini.

Sementara pengguntingan rambut pembacaan barzanji jaln terus dan sesudah pengguntingan pembaca barzanji duduk bersama seluruh hadirin.

Sesudah pembacaan barzani konsumsi khusus berupa songkol, cucur, telur, dan pisang berbagai macam dibagikan kepada para segenap peserta. Khusus untuk pembagian Kadhi, Raja dan anggota Hadat diantarkan langsung ke rumahnya.

Kemudian pada acara istirahat kambing sembelihan untuk akikah dimakan bersama. Sesudah itu maka selesailah upacara akikah dan seluruh rangkaiannya.

b. Niuri

Niuri dalam masyarakat Mandar adalah upaya penyelamatan lahirnya seorang bayi. Bagi wanita utamanya yang baru pertama kalinya hamil sudah menjadi tradisi (kebiasaan) diadakan acara niuri dalam masa kehamilan 7 sampai 8 bulan.

Untuk melaksanakan acara ini, yang lebih dahulu disiapkan yaitu : Kue-kue sebanyak mungkin, ayam betina satu ekor, tempayan berisi air, kayu api, beras dan lain-lain. Tata cara melaksanakan sebagai berikut :

1. Wanita yang akan niuri duduk bersanding dengan suaminya, keduanya dalam busana tradisional lengkap. Wanita boleh memakai perhiasan emas seperti pattu’du boleh juga memakai boko atau pasangan berwarna biru atau putih. Keduanya disuruh memilih kue-kue yang muncul diseleranya masing-masing. Jika yang dipilih yang bundar misalnya : Onde-onde, gogos dan semacamnya maka diperkirakan akan lahir bayi laki-laki. Jika yang gepeng-gepeng misalnya : Pupu, kue lapis, katiri mandi dan semacamnya, diharapkan akan lahir seorang bayi wanita.

2. Sesudah makan bersama, istilah Mandarnya “nipande mangidang” orang yang akan niuri dibaringkan oleh “sando peana” atau “dukun beranak” dihamparan kasur di lantai rumah. Setelah dibaringkan si dukun menaburkan beras di bagian dahi dan perut to-niuri. Kemudian ayam yang telah tersedia yang sehat dan tidak cacat di suruh mencocot beras-beras yang bertaburan tadi sampai habis.

3. Masih dalam posisi berbaring, si dukun mengambil piring yang berisi beras ketan, telur dan lilin yang sedang menyala diletakkan sejenak di atas perut lalu ke bagian dahi, kemudian diayun-ayunkan beberapa kali mulai dari kepala sampai ke kaki. Sesudah itu ayam pencotot tadi dilambai-lambaikan ke sekujur tubuh toniuri sebanyak 3 atau 5 atau 7 kali. Sesudah itu dilepaskan melalui pintu depan dan toniuri di bangunkan.

4. Selesai tahap ke-3,toniuri diantar ke pintu depan rumah kemudian diambil kayu-api yang masih menyala, lalu dipegang diatas kepala. Setelah itu diambil air yang telah dicampur dengan burewe tadu, bagot tuo, ribu-ribu, daun atawang dan daun alinduang, dan dengan timbah khusus disiramkan di atas kayu api langsung ke kepala dan membasahi seluruh tubuh serta memadamkan api yang masih menyala di kayu api. Sesudah itu secepatnya kayu api yang sudah padam dibuang ke tanah. Seluruh busana yang dikenakan oleh toniuri diserahkan kepada si dukun untuk dimiliki. Dalam istilah Mandarnya disebut “nilullus”. Menimba air cukup 14 kali saja.

Sementara seluruh tahap-tahap peurian berlangsung bagi keturunan bangsawan yang ada darah Bugis-Makasarnya, alat musik siasia dibunyikan terus dengan lagu-lagu bersifat doa yang contohnya sebagai berikut :

“   Alai sipa’uwaimmu

Pidei sipa’ apimmu

Tallammo’o liwang

Muammung pura beremu”

Artinya :

“   Ambil sifat airmu (gampang mengalir)

Padamkan sifat apimu (panas)

Keluarlah engkau

Membawa takdirmu”.

“    Uwai penjarianmu

Uwai pessungammu

Uwai pellosormu

Uwai pellene’mu

Uwai peoromu

Uwai pellambamu

Uwai atuo-tuoammu”.

Artinya :

“   Engkau tercipta dari air

Keluarlah merangkak, duduk dan berjalan seperti lancarnya air mengalir.

Murahlah rezekimu an dingin seperti air”

Ada beberapa maksud-maksud tersembunyi dalam upacara niuri ini yaitu :

1. Menimba air 14 kali, dimaksudkan agar si bayi setelah dewasa, memiliki wajah seperti bulan purnama

2. Bangot tuo yaitu semacam tumbuh-tumbuh biar dimana saja gampang tumbuh dan tumbuh subur. Bangong artinya bangun dan tuo artinya hidup. Dimaksudkan agar si bayi sampai dewasa tetap sehat bugar.

3. Ribu-ribu juga semacam tumbuh-tumbuhan yang bunganya lebih banyak dari pada daunnya. Ini dimaksudkan agar si bayi setelah dewasa menjadi orang kaya.

4. Daun atawang, dimaksudkan agar si bayi tetap terhindar dari penyakit.

c.   Pappatadayang

Pappatadayang artinya pelantikan yang akan dibahas pada makalah  ini adalah pelantikan seorang Raja yang mengambil sempel di Kerajaan Pamboang, yang pasti caranya sama dengan seluruh kerajaan di Pitu “Ba’ba Binanga Mandar.

Pada upacara seperti ini dikaitkan yaitu memanna atau mangaru dalam beberapa macam tingkatan. Sehubungan dengan pelantikan ini disiapkan Payung Kerjaan untuk tempat berpegang Raja bersama seorang anggota Hadat yang mewakili anggota Hadat lainnya untuk melakukan pelantikan, gendang an keke.

Untuk Kerajaan Pamboang tata-caranya sebagai berikut :

1. Raja yang akan dilantik berpegang ke Payung Kerajaan yang telah disiapkn dipanggung kehormatan menyusul Pabicara Bonde selaku ketua Hadat dan juru bicara yang akan melakukan pelantikan.

2. Sementara berpegang bersama di payung,dengan diahului pemukulan gendang, keke,aba-aba dari protocol, Pabicara Bonde mengucapkan naskah pelantikan sebagai berikut :

a. “Iyamimo tu’u die Hada’ siolatau maranni”. Artinya : “Kami ini adalah Hadat bersama rakyat”.

b. “Lewu parri’dimang”. Artinya : “Kami telah sepakat secara aklamasi”.

c. “Maradiamo tu’u namaasayangngi Banua siola Pa’banua”. Artinya : “ Rajalah yang akan menyayangi Negeri dan Rakyat”.

d. “Maradia tomo rapang ponnana ayu nanaengei mettullung.

KESIMPULAN

Suku Mandar merupakan suku yang terdapat di Sulawesi Barat, sebagian besar penduduknya beragama islam tetapi masih dipengaruhi oleh traisi-tradisi dinamisme atau penyembahan terhadap roh nenek moyaang, sehingga mereka masih mengadakan upacara sesajen. Mata pencarian mereka adalah melaut atau menjadi nelayan, suku Mandar sangat terkenal akan kehebatan mereka melaut dan menaklukan ombak yang deras. System kekerabatan suku Mandar, pada umumnya mengikuti kedua garis keturunan ayah dan ibu yaitu system bilateral.

Kesenian yang paling di tunggu oleh masyarakat Mandar adalah saeyang pattuqduq. Upacara ini diselenggarakan dalam rangkaian kegiatan khataman Al-Qur’an, khitanan, perkawinan, atau memeriahkan acara syukuran lain.

Rumah adat suku mandar sangat sederhana, dan dalam pembuatanya ada  syarat yang harus diperhatikan yaitu syarat ekonomi, tekhnis dan kesehatan.

Perkawian dalam suku Mandar terdiri dari 14 tahap seperti : massulagiang, messisi’, mettumae, mambotoi sorong, paccandring, ma’lolang, mappadai balaja, mappasau, pallattigiang, pappadupa, mattanagau, mando e bungo, masola.

Upacara-upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Mandar contohnya seperti Niuri dalam masyarakat Mandar adalah upaya penyelamatan lahirnya seorang bayi. Bagi wanita utamanya yang baru pertama kalinya hamil sudah menjadi tradisi (kebiasaan) diadakan acara niuri dalam masa kehamilan 7 sampai 8 bulan selain itu juga ada Pappatadayang artinya pelantikan contohnya pelantikan seorang Raja yang mengambil sempel di Kerajaan Pamboang, yang pasti caranya sama dengan seluruh kerajaan di Pitu “Ba’ba Binanga Mandar.

Bahasa yang diguankan masyrakat mandar disebut bahasa Mandar, meskipun ada dibeberapa wilayah mandar yang masih menggunakan bahas Bugis.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Mandar

http://www.polewalimandarkab.go.id/index.php?jenis=content&id=202

http://makassarkota.go.id/sosial-dan-budaya/budaya-maritim-sandeq-dan-kearifan-lokal-suku-mandar.html

http://www.panyingkul.com/view.php?id=102&jenis=bukukita

http://www.indonesianship.com/depan-isi.asp?offset=-1&id=18

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/30/tanahair/3642422.htm

http://jibis.pnri.go.id/informasi-rujukan/indeks-makalah/thn/2007/bln/08/tgl/24/id/1113

http://www.tamanmini.com/budaya/busana_tradisional/busana_tradisional_mandar

http://jakarta.unesco.or.id/LOCALRAD/news/archives/bahrlopa.htm

sumber: internet (uknown)

About these ads

4 Comments

  1. salama mating lao dimandar…

  2. suku mandar adalah suku yang menjunjung tinggi nilai agama dan budaya-nya, mua mangaku mandar berarti mengakui segala bentuk ketundukan, baik kepada pencipta atau sesamanya.

  3. sallang salili dilita’ mandar

  4. manfaat madu says:

    manfaat madu

    Di dunia ini sangat banyak kemanfaatan yang tidak diketahui oleh masyarakat, terima kasih telah memberi kami pengetahuan tambahan di artikel ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Toko belanja online menyajikan model yang unik dan berkarakter, lebih mudah memilih, menemukan, dan memiliki model favorite Anda. http://www.usrotun-store.com

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan melalui email.

Join 7,237 other followers

DATAstudi Information

Recent Posts

Community

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,237 other followers

%d bloggers like this: